Loading...
Loading…
Kilas Balik Jalur Kereta Api Rangkasbitung-Labuan, Kenapa Harus Direaktivasi?

Kilas Balik Jalur Kereta Api Rangkasbitung-Labuan, Kenapa Harus Direaktivasi?

Gaya Hidup | netralnews.com | Senin, 30 Mei 2022 - 12:01

MALANG, NETRALNEWS.COM - Sebagai alat transportasi, kereta api menjadi pilihan pemerintah Hindia-Belanda untuk mengangkut hasil perkebunan yang berasal dari daerah pedalaman menuju kota pesisir.

Jalur kereta api dibangun pertama di Jawa pada 17 Juni 1864. Hal tersebut dikarenakan belum adanya fasilitas jalan raya untuk menunjang transportasi darat lain seperti kereta kuda dan mobil. Sehingga, dengan adanya kereta api, jarak tempuh dan waktu yang digunakan lebih efisien dibandingkan transportasi lain.

Kereta api menjadi penunjang transportasi turut mempengaruhi perekonomian desa yang dilalui, juga mempengaruhi urusan administratif pemerintah Hindia-Belanda.

Pada awal abad ke-20, perusahaan kereta api negara, Staatspoorwegen (SS), mulai mengeksploitasi jaringan kereta api di Batavia (Jakarta) bagian barat dengan melakukan pembangunan lintas JakartaDuri dan DuriRangkasbitung yang ditandai dengan peresmian Stasiun Rangkasbitung pada 1 Oktober 1899.

Selanjutnya Staatspoorwegen (SS) melanjutkan pembangunan jalur dari Rangkasbitung sampai ke Anyer Kidul, juga jalur dari Rangkasbitung sampai ke Labuan seperti diungkap buku Mosaik Perjuangan Kereta Api, Perusahaan Kereta Api tahun 1995, Boekoe Peringatan dari Staatsspoor & Tramwegen Hindia-Belanda 18751925 dan Topografische Inrichting Weltevreden tahun 1925, jalur kereta api RangkasbitungLabuan. Jalur ini dibangun pada 1906 oleh Staatspoorwegen (SS).

Jalur Kereta Api Rangkasbitung-Pandeglang-Saketi-Labuan mulai dioperasikan pada tanggal 2 Mei 1906 oleh SS.

Labuan adalah kota kecamatan di Kabupaten Pandeglang, Banten yang terletak di pantai barat Pulau Jawa, di tepian Selat Sunda.

Stasiun Kereta Api Labuan juga dapat dikatakan adalah titik paling barat jalur kereta api di Pulau Jawa karena dua stasiun kereta api lainnya di tepi Selat Sunda, yaitu Stasiun Merak dan Stasiun Anyer Kidul, posisinya masih berada lebih ke timur.

Selain ditujukan untuk membuka keterpencilan daerah Banten, Jalur Rangkasbitung-Labuan terutama juga digunakan untuk pengangkutan hasil perikanan.

Labuan merupakan pelabuhan perikanan, dan dari sini di pagi hari, komoditas perikanan diangkut ke Batavia (Spoorwegstation op Java: M.V.B de J ong, 1993).

Saat Jalur Saketi-Bayah mulai dioperasikan, jalur ini dari Saketi menuju Rangkasbitung, juga digunakan untuk pengangkutan batubara menuju Pelabuhan Tanjung Priuk.

Pada jalur RangkasbitungLabuan, Staatspoorwegen (SS) membangun beberapa halte dan stasiun sebagai tempat perhentian. Berdasarkan data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pandeglang, tercatat pada jalur RangkasbitungLabuan ada 14 pemberhentian.

Pemberhentian tersebut meliputi Stasiun Pandeglang, Stasiun Cibiuk, Stasiun Cimenyan, Stasiun Kadukacang, Stasiun Sekong, Stasiun Cipeucang, Stasiun Cikaduwen, Stasiun Saketi, Stasiun Sodong, Stasiun Kenanga, Stasiun Menes, Stasiun Babakanlor, Stasiun Kalumpang, dan pemberhentian akhir Stasiun Labuan.

Merujuk pada Jadwal Perjalanan KA yang diterbitkan pada tahun 1931, yang bersumber dari Officieele Reisgids der Spoor en Tramwegen en Aansluitende Automobieldiensten op Java en Madoera, tergambarkan bahwa dari Rangkasbitung-Labuan terdapat 7 kali perjalanan KA dalam sehari.

Sedangkan dari Labuan menuju Rangkasbitung terdapat 6 kali perjalanan KA dalam sehari. Waktu tempuh perjalanan rata-rata adalah 2 jam 30 menit.

Perjalanan dari Batavia menuju Labuan atau sebaliknya pada saat itu, mengharuskan perpindahan KA dengan relasi Batavia-Rangkasbitung PP (lihat Jadwal Perjalanan pada halaman 10). Kereta penumpang yang digunakan adalah dari kelas 2, kelas 3 dan kelas 3 khusus untuk warga pribumi.

Pengoperasian jalur RangkasbitungLabuan diambil alih pada tahun 1945 oleh Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI) yang merupakan perusahaan kereta api milik Pemerintah Republik Indonesia.

Pada jalur ini terdapat percabangan menuju Saketi hingga Bayah yang dibangun pada masa pendudukan Jepang.

Saat ini, jalur kereta api non-aktif RangkasbitungLabuan merupakan jalur kereta api yang termasuk dalam Wilayah Aset PT. Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Oprasional 1 Jakarta.

Dalam dekade 1950 sampai 1960 akhir, lalu lintas ini cukup ramai dengan perjalanan kereta penumpang dan barang sebanyak 5 kali sehari pulang pergi.

Jalur RangkasbitungLabuan ditutup sejak tahun 1984 pada era pengelolaan PJKA karena tidak adanya lagi komoditas yang harus dibawa dari rute tersebut. Juga karena kereta api kalah bersaing dengan moda transportasi massal lainnya seperti bus.

Penghentian operasi ini bersamaan dengan penutupan banyak lintas cabang KA di akhir 1970-an dan awal 1980-an yang terutama disebabkan oleh keterbatasan kondisi sarana dan prasarana, tingginya biaya operasi dan juga kalah bersaing dengan kendaraan angkutan jalan raya.

Hal tersebut yang membuat pemerintah akhirnya menonaktifkan jalur yang memang awalnya di bangun untuk membawa hasil perkebunan dan pertanian menuju pelabuhan.

Jejak jalur KA Rangkasbitung-Saketi-Labuan lebih jelas dan mudah dikenali serta masih cukup menyisakan banyak aset peninggalan. Beberapa

Bekas bangunan stasiun seperti Warunggunung, Saketi, Menes dan Labuan masih tegak berdiri meski, terkecuali Saketi, semuanya dalam kondisi yang tidak terawat.

Kondisi bekas bangunan Stasiun Pandeglang dan Kadukacang malahan lebih menyedihkan karena sudah dapat dikatakan hampir hancur dan tinggal tersisa sebagian kecilnya saja.

Bangunan lainnya seperti bekas jembatan KA masih bisa dijumpai di Cimanunjang, Saketi. Peninggalan peralatan-peralatan lainnya seperti bekas menara air dan keran air lokomotif uap dapat dijumpai di emplaemen bekas Stasiun Pandeglang dan Labuan.

Meski demikian, sejak tahun 2018, pemerintah menetapkan reaktivasi jalur kereta api RangkasbitungLabuan ini ke dalam Proyek Strategis Nasional atas dasar sebagai moda transportasi masyarakat maupun wisatawan.

Jikalau pembangunan jalur ini pada saat itu ialah untuk mendukung perekonomian pemerintahan Hindia-Belanda, maka reaktivasi jalur Rangkasbitung-Labuan ini untuk mendukung Perekonomian Daerah.

Banyak lokasi yang merupakan tempat strategis ekowisata, seperti Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Labuan, Pantai Caringin, Pulau Popole, dll.

Di samping itu, reaktivasi jalur ini sudah dirasa perlu untuk segera dioperasikan guna mendukung Kawasan-kawasan strategis yang sulit dijangkau.

Dengan adanya jalur ini, maka diharapkan daerah yang merupakan Kawasan ekonomi dan wisata akan terkelola lebih baik.

Oleh sebab itu, saat pengoperasiannya konektivitas intermoda dari dan ke stasiun-stasiun KA Rangkasbitung-Labuan menjadi salah satu hal penting yang akan diperhatikan untuk mengoptimalkan potensi pariwisata di kawasan tersebut.

Penulis: M Hafizh Fajri

Mahasiswa Universitas Negeri Malang

Original Source

Topik Menarik