Kisah Wisatawan yang Menginap di Pantai Anyer Gegara Macet Libur Lebaran

Gaya Hidup | okezone | Minggu, 08 Mei 2022 - 17:05
Kisah Wisatawan yang Menginap di Pantai Anyer Gegara Macet Libur Lebaran

PASIR putih, deburan ombak, langit biru cerah, angin yang sepoi-sepoi, dan ditemani oleh air kelapa muda menjadi harapan setiap wisatawan yang ingin ke kawasan Anyer , Banten.

Bagi siapa saja yang sudah menempuh jarak puluhan kilometer untuk menikmati suasana pantai itu tentu saja akan merasa dongkol ketika harapan mereka pupus akibat kemacetan yang menghabiskan waktu.

Kemacetan di kawasan wisata tak dapat terelakkan ketika liburan tiba, terutama ketika libur Lebaran 2022 yang tidak hanya meliburkan anak sekolahan, tetapi juga orang tua yang merupakan pekerja. Mereka mendapatkan jatah cuti bersama dari pemerintah untuk menghabiskan waktu bersama keluarga.

Euforia liburan juga dibumbui oleh kelonggaran yang diberikan oleh pemerintah setelah dua tahun masyarakat Indonesia melalui berbagai jenis pembatasan akibat pandemi COVID-19, baik dari zaman PSBB atau Pembatasan Sosial Berskala Besar, hingga ke zaman Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM bertingkat.

Ilustrasi

Sebagai imbas dari keinginan untuk berlibur yang telah ditahan selama dua tahun, kemacetan pun terjadi saat perjalanan menuju Pantai Anyer, yang menghadap Selat Sunda.

Tidak tanggung-tanggung, panjang kemacetan di kawasan wisata Pantai Anyer pada Kamis (5/5/2022) bahkan melebihi 5 km. Beberapa pengunjung mengeluh bahwa mereka terjebak selama 3-6 jam.

Ketika sudah sampai di destinasi wisata, alih-alih disambut oleh pemandangan cantik pelepas stres, mereka justru disambut oleh kegelapan yang menyembunyikan keindahan Pantai Anyer.

Merasa tidak ingin rugi karena sudah menerobos kemacetan selama 6 jam, salah seorang pengunjung pantai bernama Muhammad Rifki bersama istri dan seorang buah hatinya memutuskan untuk bermalam di Pantai Sambolo 2 Anyer.

Mencari Penginapan

Rifki mengatakan bahwa dirinya dan sang istri sama sekali tidak menyangka bahwa mereka akan terjebak kemacetan dengan durasi sekitar 6 jam. Ia telah berangkat dari Kota Bekasi sejak pagi hari sebelum pukul 12.00 WIB, dan sampai di titik kemacetan pada sekitar pukul 15.00 WIB.

Tentunya, sebelum mencapai titik kemacetan, ia bersama keluarga menyempatkan diri untuk mampir ke beberapa pusat perbelanjaan guna membeli makan siang, camilan untuk bersantai di pantai, dan lain-lain.

Ketika terjebak oleh kemacetan, mulanya Rifki berpikir bahwa kemacetan tersebut tidak mungkin memakan durasi yang lama. Ia memperkirakan hanya akan memakan waktu satu hingga dua jam saja.

Akan tetapi, lambat laun ia menyadari bahwa kendaraannya tidak kunjung bergerak dan posisi kendaraannya tidak memungkinkan Rifki untuk keluar dan memutar balik. Mau tidak mau, kata dia, mereka harus berpasrah untuk terjebak di tengah kemacetan.

Ketika menyadari hari semakin gelap, Rifki bersama istrinya mencari-cari hotel maupun penginapan terdekat karena mereka merasa tidak mungkin dapat kembali berkendara pulang menuju Kota Bekasi dengan situasi seperti ini.

Sayangnya, hotel-hotel yang dapat ia temukan melalui aplikasi telah penuh oleh tamu. Rifki mengaku ia sempat bertanya kepada petugas kepolisian yang mengatur lalu lintas, tetapi petugas pun tidak mengetahui hotel atau penginapan mana yang masih bisa menerima tamu.

Artikel Asli