Hepatitis Akut Menyerang Anak-Anak, Disebut Bisa Menular Lewat Percikan Air Liur

Gaya Hidup | indozone.id | Minggu, 08 Mei 2022 - 14:26
Hepatitis Akut Menyerang Anak-Anak, Disebut Bisa Menular Lewat Percikan Air Liur

Setelah Pandemi COVID-19 mulai meredup, masyarakat dunia kini tengah khawatir atas kemunculan penyakit hepatitis akut yang masih misterius.

Sejauh ini, hepatitis akut ini belum diketahui etiologinya (Acute Hepatitis of Unknown aetiology). Diperiksa di laboratorium, jenis hepatitis ini tidak termasuk ke dalam jenis hepatitis A, B, C, D, maupun E.

Karenanya, menjaga kebersihan seperti rajin mencuci tangan dan sanitasi makanan menjadi salah satu cara mencegah hepatitis akut bergejala berat yang belum diketahui penyebabnya saat menyerang anak.

Ketua Unit Kerja Koordinasi Gastro Hepatologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Muzal Kadim, menganjurkan orang tua agar melanjutkan protokol kesehatan yang mulai berlaku sejak Pandemi COVID-19 untuk mencegah potensi hepatitis akut yang diduga dapat ditularkan lewat droplet atau percikan air liur.

Menjaga kebersihan seperti rajin mencuci tangan dan sanitasi makanan menjadi salah satu cara mencegah hepatitis akut bergejala berat yang belum diketahui penyebabnya.

"Sampai saat ini yang bisa dilakukan yang paling baik adalah pencegahan untuk penularan lewat oral seperti cuci tangan, kebersihan dari makanan, sanitasi. Kemudian, mencegah pada kasus-kasus yang sudah ada gejala, misalnya muntah, diare, sakit perut, kita menghindari supaya tidak kontak lewat tangan dan yang masuk ke dalam mulut," kata Muzal dalam tanya jawab virtual dengan media, Sabtu (7/5/2022).

Beberapa gejala penyakit yang dikenal juga dengan istilah acute hepatitis of unknown aetiology itu sebagian besar terkait saluran cerna seperti muntah, diare, sakit perut dan demam. Gejala lanjutan adalah bagian tubuh menguning seperti di kelopak mata atau badan jika sudah masuk dalam kategori berat.

Ilustrasi balita diperiksa oleh dokter. (Antara)
Ilustrasi balita diperiksa oleh dokter. (Antara)

Gejala yang lebih berat bisa menyebabkan kesadaran menurun ketika banyak sel hati yang rusak.

"Jadi, tergantung derajatnya, kalau kerusakannya makin berat gejalanya juga semakin berat, bahkan bisa menimbulkan kesadaran menurun sampai kejang dan kalau tidak ditangani bisa menyebabkan kematian," jelas Muzal.

Diklaim Tidak Ada Kaitan dengan Vaksin COVID-19

Pada kesempatan itu, Muzal juga menyampaikan bahwa penyakit ini tidak ada kaitannya dengan vaksin COVID-19.

"Karena sebagian besar dari kasus yang muncul saat ini belum divaksin. Justru belum divaksin karena kebanyakan adalah anak di bawah umur enam tahun," katanya.

Ilustrasi balita diperiksa oleh dokter. (Antara)
Ilustrasi balita diperiksa oleh dokter. (Antara)

Terkait isu hubungan hepatitis akut dengan COVID-19, ia mengatakan bahwa memang hal itu masih dalam kategori dugaan apakah kejadian tersebut terjadi secara bersamaan (coincidence) atau sebagai penyebab langsung.

"Itu masih merupakan dugaan karena selama ini COVID-19 tidak pernah menimbulkan gejala seperti yang hepatitis akut berat ini," ujarnya.

Terkadang terjadi kasus di mana terjadi secara bersamaan di mana pasien ditemukan memiliki virus SARS-CoV-2 dan adenovirus, yang diduga menyebabkan hepatitis akut bergejala berat tersebut.

"Sampai saat ini WHO dan beberapa negara masih melakukan investigasi penyebab pastinya," kata Muzal.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan menyatakan telah meningkatkan kewaspadaan setelah Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) menyatakan kasus hepatitis akut yang menyerang anak-anak di beberapa negara sebagai kejadian luar biasa (KLB) pada 15 April 2022.

Di Indonesia, empat pasien anak meninggal dunia. Tiga di antararanya dirawat di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta. Sedangkan satu anak lainnya di Tulungagung.

Artikel Menarik Lainnya:

Artikel Asli