Loading...
Loading…
Tak Hanya Baby Blues, Ibu Baru juga Rentan Mengalami 2 Masalah Mental Ini

Tak Hanya Baby Blues, Ibu Baru juga Rentan Mengalami 2 Masalah Mental Ini

Gaya Hidup | bantennews.co.id | Minggu, 08 Mei 2022 - 03:00

SERANG-Menjadi orang tua adalah tugas yang menantang bagi sang ibu dan ayah. Namun, periode ini memang lebih sulit bagi ibu baru karena berdampak pada kesejahteraan fisik dan emosional mereka.

Masalahkesehatan mentalyang umumnya terjadi pada ibu baru adalahbaby blues syndrome. Kondisi ini membuat sang ibu lebih emosional dan sensitif, seperti mudah sedih, lelah, cemas, marah hingga sering menangis.

Keluhan baby blues syndrome bersifat hilang timbul dan biasanya tidak lebih dari dua minggu.

Walau sebentar, baby blues dapat mempersulit sang ibu untuk menyusui bahkan merawat bayi.

Selain baby blues, ada beberapa masalah kesehatan mental yang berisiko dialami ibu baru setelah melahirkan, yakni:

Depresi pascamelahirkan

MenurutThe Health Site, ini adalah penyakit mental serius yang berdampak negatif terhadap perilaku dan kesehatan fisik ibu baru.

Perasaan hampa, sedih, dan depresi mengambil alih kehidupan ibu dan mulai mengganggu aktivitas mereka sehari-hari.

Kondisi ini juga bisa membuat mereka mempertanyakan cinta pada bayinya, membuat mereka bersalah karena menganggap telah menjadi ibu yang buruk.

Baca Juga :
Mama Muda Jangan Khawatir! Ini 5 Cara Mengatasi Baby Blues

Meski sudah menjadi masalah umum merupakan salah satu aspek kehamilan yang sering diabaikan.

Postpartum psikosis

Ini adalah kondisi medis langka yang terjadi pascapersalinan. Dalam gangguan mental ini, seroang ibu baru kehilangan kontak dengan kenyataan.

Mereka mengalami kebingungan dan disorientasi, pikiran obsesif tentang bayi, halusinasi, delusi gangguan tidur, paranoia, dan upaya untuk menyakiti diri sendiri.

Jika gangguan mental pada ibu baru tidak diobati, mereka juga dapat mempengaruhi bayi yang baru lahir.

Karenanya, jika mengalami tekanan setelah melahirkan dan merasa sulit menjalin ikatan dengan bayi, ada baiknya untuk berkonsultasi dengan dokter atau psikolog.

(Red)

Original Source

Topik Menarik