Loading...
Loading…
Kepunahan Dinosaurus Karena Tumbukan Asteroid Terbukti

Kepunahan Dinosaurus Karena Tumbukan Asteroid Terbukti

Gaya Hidup | koran-jakarta.com | Senin, 11 April 2022 - 00:00

Menurut teori, kepunahan dinosaurus diakibatkan karena tumbukan asteroid. Di situs Tanis, Dakota Utara, AS peneliti menemukan fosil dinosaurus bersama dengan partikel spherules yang jatuh dari langit.

Dinosaurus merupakan hewan purba raksasa yang punah sekitar 66 juta tahun lalu. Sebelumnya kepunahannya, hewan ini pernah menghuni Bumi sekitar 230 juta tahun lalu para periode Trias, antara berlangsung antara 251 hingga 199,6 juta tahun yang lalu.
Kepunahannya membangun beberapa teori salah satunya oleh adanya hantaman asteroid ke Bumi yang dikemukakan oleh Luis Alvarez dan anaknya Walter Alvarez pada 1980. Kedua ilmuwan itu menyatakan meteor seukuran gunung yang menabrak Bumi pada 66 juta menciptakan kepunahan massal hewan itu.
Hasil penelitian terbaru ditemukan fosil penemuan fosil kaki dinosaurus yang terawetkan oleh material tumbukan asteroid. Kaki yang yang lengkap dengan kulitnya itu hanyalah salah satu dari serangkaian penemuan luar biasa dari situs fosil Tanis di Negara Bagian Dakota Utara, Amerika Serikat.
Bukan cuma kondisinya yang sempurna, yang menarik perhatian ditemukan juga spesimen-spesimen makhluk purba lainnya di tempat yang sama. Peneliti mengklaim makhluk di situs Tanis ini mati dan terkubur pada hari yang sama ketika asteroid raksasa menghantam Bumi.
Sangat sedikit sisa-sisa keberadaan dinosaurus yang ditemukan di bebatuan yang tercatat, bahkan beberapa ribu tahun sebelumnya sebelum hantaman asteroid terjadi. Maka tidak heran mendapatkan spesimen dari bencana alam itu akan menjadi luar biasa.
BBC telah menghabiskan waktu tiga tahun mendokumentasikan situs geologi Tanis untuk sebuah liputan yang akan ditayangkan pada 15 April 2022 dengan judul Dinosaurus: The Final Day. Film dokumenter ini akan dinarasikan oleh Sir David Attenborough. Ia akan mengulas temuan itu, dan ada banyak yang akan ditampilkan kepada publik untuk pertama kalinya.
Bersamaan dengan penemuan kaki dinosaurus tersebut, terdapat fosil ikan yang menghirup partikel dari dampak reruntuhan tabrakan asteroid yang jatuh dari langit. Terdapat juga fosil penyu yang tertusuk dengan batang kayu. Ada juga sisa-sisa mamalia kecil dan lubang yang mereka buat.
Penemuan lain adalah kulit dari triceratops bertanduk, embrio pterosaurus di dalam telur, dan apa yang tampak seperti pecahan dari penabrak asteroid itu sendiri. Peneliti menemukan begitu banyak detail dari situs ini yang memberi tahu apa yang terjadi dari waktu ke waktu, mirip seperti menonton film.
"Anda melihat kolam batu, Anda melihat fosil di sana, dan itu membawa Anda kembali ke masa lampau," kata mahasiswa pascasarjana Universitas Manchester, Inggris, yang memimpin penggalian situs Tanis, Robert De Palma.
Kepunahan Massal
Penemuan tersebut akan membuat teori kepunahan dinosaurus karena tabrakan asteroid menjadi semakin diterima luas. Diperkirakan batu ruang angkasa selebar 12 kilometer yang menghantam planet Bumi menjadi penyebab kepunahan massal terakhir.
Sementara situs dari tumbukan asteroid telah diidentifikasi di Teluk Meksiko, di lepas Semenanjung Yucatan. Jarak jatuhnya asteroid dengan Tanis tempat ditemukannya fosil dinosaurus sejauh 3.000 kilometer. Fakta ini menunjukkan energi dari tumbukan berdampak luas.
Peneliti menemukan, situs fosil Tanis di Dakota Utara dalam keadaan campur aduk dan kacau balau. Sisa-sisa hewan dan tumbuhan tampaknya telah tergulung bersama menjadi timbunan sedimen oleh gelombang air sungai yang disebabkan oleh getaran Bumi yang tak terbayangkan. Organisme air bahkan bercampur dengan makhluk darat.
Ikan sturgeon dan paddlefish dalam fosil campur aduk ini adalah kuncinya. Mereka memiliki partikel kecil yang dihasilkan dari tumbukan yang tersangkut di insangnya. Ikan-ikan itu akan menghirup partikel saat mereka memasuki sungai.
Sedangkan spherules telah dihubungkan secara kimiawi dan dengan penanggalan radiometrik ke lokasi tumbukan Meksiko. Dalam dua partikel yang dipulihkan dari resin pohon yang diawetkan, ada juga inklusi kecil yang menyiratkan asal usul ekstraterestrial.
Partikel spherules berupa partikel berkaca-kaca kecil yang tersebar di sekitar Bumi setelah tabrakan asteroid di masa lalu. Mereka terjadi karena kekuatan benturan melemparkan partikel cair dan uap di sekitar, yang kemudian dingin dan jatuh kembali ke Bumi.
"Ketika kami melihat ada inklusi di dalam bola kaca kecil ini, kami menganalisisnya secara kimia di sinkrotron sinar-X Diamond dekat Oxford," jelas Prof Phil Manning, yang merupakan supervisor PhD De Palma di Manchester.
"Kami mampu memisahkan kimia dan mengidentifikasi komposisi bahan itu. Semua bukti, semua data kimia, dari penelitian itu menunjukkan dengan kuat bahwa kami sedang melihat sepotong penabrak dari asteroid yang mengakhiri hidup dinosaurus," ujar dia. hay/I-1

Dari Jenis Reptil Terbang

Keberadaan fosil dinosaurus di situs Tanis pertama kali muncul di ruang publik di majalah New Yorker pada 2019. Hal ini menyebabkan kehebohan sains saat itu, karana lazimnya telaah sains awal disajikan pada halaman-halaman jurnal ilmiah.
Beberapa makalah peer-review kini telah diterbitkan dan tim penggali menjanjikan lebih banyak lagi temuan karena mereka bekerja melalui proses penggalian, persiapan, dan penggambaran fosil yang cermat. BBC yang membuat program dokumenter di TV bahkan telah memanggil konsultan luar untuk memeriksa sejumlah temuan.
Profesor Paul Barrett dari Museum Sejarah Alam London adalah ahli yang mengamati kaki dinosaurus itu. Dia ahli dalam dinosaurus ornithischia yang kebanyakan pemakan tumbuhan.
"Ini adalah thescelosaurus. Kami tidak memiliki catatan sebelumnya tentang seperti apa kulitnya, dan ini menunjukkan dengan sangat meyakinkan bahwa hewan ini sangat bersisik seperti kadal. Mereka tidak berbulu seperti hewan pemakan daging pada zamannya," ujar dia.
"Ini terlihat seperti hewan yang kakinya dicabut dengan sangat cepat. Tidak ada bukti penyakit di kakinya, tidak ada patologi yang jelas, tidak ada jejak kaki yang digigit, seperti bekas gigitan atau bekas gigitannya," kata Barret. "Jadi, ide terbaik yang kami miliki adalah bahwa ini adalah hewan yang mati kurang lebih secara instan," imbuh dia.
Pertanyaan besarnya adalah apakah dinosaurus ini benar-benar mati pada saat asteroid menghantam, sebagai akibat langsung dari bencana alam berikutnya. Tim arkeolog Tanis berpikir hal itu sangat mungkin terjadi, mengingat posisi anggota badan berada di sedimen galian.
Namun paleolog dari University of Edinburgh, Profesor Steve Brusatte mengatakan, dia skeptis untuk saat ini. Sebagai konsultan luar BBC lainnya, ia ingin melihat argumen yang disajikan dalam lebih banyak artikel yang ditinjau oleh rekan sejawat dari beberapa ilmuwan paleo dengan spesialisasi yang sangat spesifik untuk masuk ke situs tersebut untuk memberikan penilaian independen mereka.
Profesor Brusatte mengatakan, tidak menutup kemungkinan hewan purba yang digali, telah mati sebelum tumbukan. Kemudian dikubur kembali agar membuat kematian mereka tampak bersamaan.
"Ikan-ikan dengan spherules di insangnya, mereka adalah bukti mutlak untuk tumbukan asteroid. Tapi untuk beberapa klaim lain, saya akan mengatakan mereka memiliki banyak bukti tidak langsung yang belum diajukan ke juri," ujar dia.
Namun, untuk beberapa penemuan ini, apakah penting jika mereka mati pada hari atau tahun sebelumnya? Telur pterosaurus dengan bayi pterosaurus yang ditemukan di Tanis sangat langka. Sebelumnya tidak ada yang seperti itu dari Amerika Utara sehingga penyebabnya kemungkinan karena tumbukan asteroid.
Dengan teknologi sinar-X modern, dimungkinkan untuk menentukan sifat kimia dan sifat kulit telur. Benda ini kemungkinan kasar daripada keras. Ada kemungkinan induk pterosaurus mengubur telur di pasir atau sedimen seperti kura-kura.
Ini juga memungkinkan dengan tomografi sinar-X untuk mengekstrak tulang-tulang pterosaurus di dalamnya. Teknologi ini berperan dalam mencetak dan merekonstruksi seperti apa hewan itu nantinya.
Namun mahasiswa pascasarjana Universitas Manchester, Inggris, yang memimpin penggalian situs Tanis, Robert De Palma mengatakan, bayi pterosaurus mungkin adalah jenis azhdarchid, sekelompok reptil terbang yang sayap dewasanya bisa mencapai lebih dari 10 meter dari ujung ke ujung. hay/I-1

Original Source

Topik Menarik