Loading...
Loading…
Indonesia Tidak Ikutan Negara Lain Buru-Buru ke Fase Endemi, Apa Penyebabnya?

Indonesia Tidak Ikutan Negara Lain Buru-Buru ke Fase Endemi, Apa Penyebabnya?

Gaya Hidup | okezone | Rabu, 16 Maret 2022 - 13:49

PEMERINTAH melalui Kementerian Kesehatan RI menyebutkan tidak mau gegabah alias buru-buru melakukan peralihan ke masa endemi.

Hal ini disampaikan oleh Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemenkes, dr. Siti Nadia Tarmizi. Ia menjelaskan, perlu dipahami proses transisi menuju normalisasi endemi bukan berarti kasus Covid-19 sepenuhnya hilang.

Proses transisi menuju normalisasi endemi itu artinya bukan berarti kasus Covid-19 tidak ada sama sekali, tapi tetap kasus itu akan ada. Untuk menghilangkan sebuah penyakit itu membutuhkan waktu yang lebih panjang, tentunya kita harus bersiap untuk terus berdampingan dengan Covid-19, ujar dr. Nadia, mengutip siaran laman resmi Kemenkes, Rabu (16/3/2022).

Walau sudah banyak tren positif dalam indikator pengendalian pandemi, Indonesia sudah mulai bersiap-siap membuat langkah menuju ke arah endemi. Meski demikian, saat ini Indonesia masih dalam kondisi pandemi Covid-19.

Transisi endemi adalah suatu proses periode dari pandemi menuju ke arah endemi dengan adanya sejumlah indikator sebagai berikut.

1. Laju penularan harus kurang dari 1.

2. Angka positivity rate harus kurang dari 5 persen.

Baca Juga :
Alasan Pemerintah Tidak Mau Buru-Buru Menyatakan Masuk ke Fase Endemi

3. Level tingkat perawatan rumah sakit harus kurang dari 5 persen.

4. Angka fatality rate harus kurang dari 3 persen.

5. Level PPKM ada pada transmisi lokal level tingkat 1.

Semua indikator kondisi syarat di atas diketahui harus terjadi dalam rentang waktu tertentu misalnya 6 bulan.

Saat ini, indikator dan waktunya masih terus dibahas oleh pemerintah dengan para ahli untuk menentukan indikator yang terbaik, untuk Indonesia bisa benar-benar siap mencapai ke arah kondisi endemi.

Dokter Nadia menegaskan, saat masa endemi nanti, kasus Covid-19 tentu akan masih ada dan masyarakat harus bersiap hidup berdampingan dengan Covid-19, walau tidak separah saat pandemi.

Terpenting pada saat endemi, walaupun kasusnya ada, itu tidak akan mengganggu kehidupan kita seperti saat ini, di mana hampir aktivitas aktivitas kehidupan seperti kehidupan sosial, kehidupan beragama, pariwisata ini tidak terganggu dengan adanya kasus Covid-19, pungkasnya.

Original Source

Topik Menarik