Sebuah Wawancara

Gaya Hidup | mojok.co | Published at Minggu, 09 Januari 2022 - 11:15
Sebuah Wawancara

Sehari sebelum Mou terbang ke kota lain, tempat di mana istri dan anak-anaknya bermukim, dia bersedia melakukan sebuah wawancara yang panjang. Hal yang sangat jarang mau dilakukan oleh Mou. Sebabnya tentu saja Toti.

Dia, kakak kandungku. Kamu tentu sudah pernah mendengar namanya... ucap Toti via telepon.

Siapa namanya?

Tono. Seorang jurnalis senior. Tapi kini memilih pensiun dan menulis buku. Tapi sesekali dia masih menulis untuk media massa.

Wawancara ini akan dimuat di mana?

Di Mojok. Kamu tahu media itu?

O, ya. Di kota ini, selain gudeg, hal pertama yang akan direkomendasikan orang adalah membaca Mojok. Sesekali aku membacanya. Terutama analisis sepakbola dan tulisan-tulisan tentang sosial dan politik.

Aku pikir, kamu tidak suka politik.

Aku tidak suka politikus, tapi suka membaca bacaan politik. Mereka berdua tertawa terbahak-bahak. Dan menyepakati di mana wawancara bakal dihelat. Tentu saja Mou memilih di Kafe Senja.

***

Mereka berdua duduk berhadapan. Mou dengan Tono. Di tempat dan jam yang telah disepakati. Hal yang sekali lagi membuat Paidi dan seluruh kru Kafe Senja merasa riang gembira, walaupun Toti tidak hadir sebagaimana biasanya.

Mou segera tahu, kalau wartawan yang sedang dihadapinya bukan saja seorang wartawan senior yang matang di lapangan, tapi juga seseorang yang cerdas. Dia bisa melihat sorot mata tajam dan aura wajah yang menunjukkan Tono adalah pria yang keras kepala. Ketika Mou melihat sebagian gigi Tono yang menghitam, juga bibir yang menghitam pula, dia langsung mengatakan, Di wawancara ini, Anda boleh merokok... Sembari mengatakan itu, Mou mengeluarkan kotak cerutunya.

Anda mengisap cerutu?

Sesekali, kalau ingin rileks. Terutama saat seperti ini... ujar Mou sambil tersenyum, lalu mengambil sebatang cerutu dan menyalakannya. Tono langsung mengikuti dengan mengeluarkan dua bungkus rokok, lalu menyulutnya sebatang.

Mou, Anda kan...

Bagaimana kalau kita saling memanggil dengan sebutan kamu saja? Supaya lebih nyaman. Kamu tahu, aku bukan orang yang suka berbasa-basi. Mou memotong kalimat Tono, sambil memperbaiki caranya duduk.

Tono tersenyum. Dia melanjutkan pertanyaannya yang terpotong. Kamu kan sudah melatih di berbagai negeri. Bagaimana cara kamu menyesuaikan diri tinggal di setiap negeri atau kota, dan membuat nyaman dirimu di kota tersebut?

Pada dasarnya, aku seorang penyendiri. Jadi mau di kota mana pun, waktuku habis untuk melatih dan berada di dalam rumah. Di lapangan sepakbola dan di rumah. Aku mencintai sepakbola, aku mencintai profesiku, dan aku menyukai saat aku sedang sendirian.

Sebelum melatih Romajaya, kamu didepak dari dua klub besar. Apakah melatih sepakbola di Romajaya adalah sebuah keterpaksaan atau pelarian?

Mou tersenyum. Laki-laki di hadapannya jelas punya keberanian menanyakan hal seperti itu di sebuah awal wawancara. Tapi Mou mulai menyukai pertanyaan yang tajam, yang seolah tidak elok, dan jika wartawan lain yang menanyakan hal itu, bisa saja dia langsung pergi sambil menjawab: Itu bukan urusanmu. Kali ini, Mou menjawab, Tidak keduanya...

Tapi Romajaya adalah kesebelasan yang dua level di bawah kedua kesebelasan yang memecatmu. Tidakkah kamu kepikiran menunggu kesebelasan besar lain untuk meminangmu?

Ya, aku memikirkan itu. Tapi Jengki meneleponku hanya sesaat setelah aku dipecat. Kamu harus respek pada orang yang menawarkan sebuah pekerjaan, ketika seluruh mata di dunia mulai meremehkanmu.

Kamu langsung mengiyakan?

Tidak. Aku bilang terima kasih, dan kemungkinan besar aku akan menerimanya. Aku meminta waktu berpikir, lalu tak lama kemudian Pinto mengunjungiku. Di situlah, aku memutuskan untuk mengatakan iya.

Apa alasannya?

Mou lagi-lagi tersenyum. Tidak ada kalimat kalau boleh tahu yang biasa dipakai sebagai bagian dari etiket orang dalam melakukan wawancara. Tono sangat punya rasa percaya diri yang tinggi. Jam terbang telah menatahnya menjadi seorang pewawancara yang tidak segan untuk melayangkan pertanyaan tanpa tedeng aling-aling.

Aku pernah melatih klub yang secara level di bawah Roma, dan dari situ karier kepelatihanku kubangun. Lalu aku banyak melatih banyak klub besar. Tapi sesungguhnya aku kangen juga melatih kesebelasan medioker.

Apa yang membuatmu kangen melatih tim medioker?

Karena aku punya banyak keterbatasan. Keterbatasan dana, keterbatasan stok pemain, keterbatasan fasilitas. Tapi bagi seorang pelatih, mengatasi keterbatasan adalah sebuah seni yang indah.

Semua pelatih begitu?

Aku rasa begitu. Semua pelatih selalu berangkat dari titik yang sama, melatih klub kecil.

Tapi setelah mereka berhasil melatih tim-tim besar, banyak yang tidak mau melatih tim kecil lagi.

Tentu saja. Meninggalkan zona nyaman hanya keluar dengan mudah dari para motivator. Pada kenyataannya, hidup tidak seperti itu. Hidup itu adalah usaha memasuki zona nyaman. Dan keluar dari zona nyaman adalah sebuah ketololan.

Tapi kamu melakukannya.

Karena Jengki dan Pinto.

Kalau kamu tidak ditelepon Jengki di saat itu, mungkin kamu akan membuat keputusan lain?

Tentu saja iya. Kalau dia meneleponku sebulan kemudian, aku tentu tidak akan menerima tawarannya. Untuk apa?

Dan bisa jadi kamu sudah menandatangani kontrak dengan klub besar lain...

Aku kira iya. Mereka memintaku menjadi pelatih kadang bukan sekadar agar klub mereka juara, tapi juga menaikkan harga saham kesebelasan, jersey yang makin banyak terjual, dan penonton yang membeludak.

Karena itu pulalah kamu sering menyatakan pernyataan-pernyataan yang kontroversial?

Kali ini, Mou terdiam. Mungkin... ucapnya agak ragu. Mungkin itu memang kepribadianku, mungkin juga karena aku tahu bahwa pers menginginkan itu. Sepakbola adalah tontonan dan industri. Sebagai tontonan, sepakbola membutuhkan drama. Setiap drama membutuhkan tokoh antagonis dan protagonis.

Kamu memilih yang mana?

Maksudmu, aku memilih yang protagonis atau antagonis?

Ya...

Dalam drama yang baik, tidak ada kutub seperti itu. Setiap protagonis bisa jadi antagonis bagi orang yang berbeda. Demikian juga sebaliknya. Bukankah itu seni tingkat tinggi? Mou tertawa terkekeh, lalu menyeruput kopinya.

Ngomong-ngomong, kamu merokok berapa bungkus sehari?

Dua sampai tiga bungkus.

Itu baik buat kesehatanmu?

Aku masih bisa lari 7 kilometer setiap hari. Bahkan sekali dalam seminggu biasa lari di atas 20 kilometer.

Wow, mestinya kamu bisa melebihi Toti...

Keduanya lalu tertawa bersama.

Apakah benar bahwa masalah utama Romajaya adalah soal mental pemain?

Sebagian benar. Sebuah kesebelasan yang sering kalah dalam bertanding, sering mengecewakan fans, dan lama tidak mengangkat trofi, pasti punya mentalitas yang tidak baik. Rasa percaya diri mereka tergerus.

Bagaimana kamu berusaha memulihkan itu?

Berlatih lebih keras lagi. Mempersiapkan pertandingan lebih baik lagi.

Bukankah pelatih lain juga akan melakukan hal yang sama?

Aku kira semua pelatih punya banyak kesamaan. Bedanya adalah mereka sekarang dilatih oleh orang sepertiku, yang bagi mereka, itu adalah impian yang menjadi kenyataan.

Tapi prestasi Romajaya tidak langsung melejit. Bagaimana kamu bisa menjelaskan hal itu?

Karena membereskan mental pemain, selalu butuh waktu.

Apakah dengan stok pemain yang ada, kamu yakin Romajaya bisa berkompetisi di level yang lebih tinggi lagi?

Ya. Kebanyakan dari mereka masih muda usia. Banyak yang berusia di bawah 24 tahun, dan sebagian lagi bahkan berusia di bawah 20 tahun. Setahun lagi, yang berusia 24 tahun, bisa jadi sangat matang, dan yang berusia di bawah 20 tahun bisa tumbuh menjadi para pemain yang hebat.

Tapi kamu bilang, butuh pemain-pemain baru di bursa transfer paruh musim...

Tentu saja. Ada banyak pemain penting cedera, dan ada posisi yang butuh pelapis yang sama baiknya. Pemain juga manusia biasa. Mereka kadang bermain buruk atau tiba-tiba cedera, dan selalu dibutuhkan para pelapis yang setara dengan mereka.

Romajaya masih sering bermain seri bahkan kalah saat melawan kesebelasan yang secara kualitas di bawah Romajaya. Bagaimana kamu menjelaskan hal itu?

Kamu harus ingat, Liga Utama negeri ini dalam dua atau tiga tahun ini telah berubah. Kamu lihat, banyak kesebelasan mengalami apa yang dialami oleh Romajaya. Jarak kualitas antar kesebelasan makin tipis. Ini yang tidak terjadi di liga-liga negeri lain. Liga negeri ini sepertinya sedang berbenah dengan luar biasa. Para kesebelasan mendatangkan pelatih-pelatih muda potensial, yang punya cara berpikir yang berbeda, dan merekrut pemain-pemain muda yang potensial. Ini liga yang sangat menjanjikan. Dalam waktu dua tahun lagi, Liga Utama negeri ini akan merebut lagi perhatian publik dunia sebagai salah satu liga yang bakal banyak ditonton. Liga Negeri Tiga Singa, bakal disalip. Kamu bisa lihat, di Liga Negeri Tiga Singa, pertandingan klub mediokernya membosankan. Bahkan pertandingan tim-tim besarnya pun mulai membosankan.

O, ya?

Ya, aku sangat menikmati pertandingan di Liga Utama ini, saat dua kesebelasan kecil bertanding. Mereka luar biasa. Nyaris secara kualitas, sama dengan laga big match . Terlebih, setiap klub punya kelompok suporter fanatik. Mereka hanya menuntut pertandingan berkualitas, bukan soal menang atau kalah. Itu ekosistem yang sangat bagus.

Tono manggut-manggut. Dalam hati, dia mengakui kejeniusan Mou.

Apakah kamu yakin bisa membawa Romajaya masuk di tiga besar pada akhir kompetisi?

Awalnya itu cita-citaku. Tapi sekarang yang menjadi fokusku adalah membenahi mental para pemain, dan meningkatkan performa mereka dalam sebuah kolektif tim sepakbola.

Tapi kalau tidak masuk lima besar, bukankah itu akan menjatuhkan mental pemain?

Tidak sesederhana itu. Kalau kamu sudah membuat gol, lalu permainanmu memburuk, itu pertanda perbaikan mental masih butuh waktu. Kalau kamu kalah, lalu bermain kasar, yang punya risiko dapat akumulasi kartu kuning atau dapat kartu merah langsung, berarti mental pemain belum membaik secara signifikan. Ada banyak parameter selain soal rangking.

Tapi rangking akhir tetap menjadi acuan apakah kesebelasan tersebut dianggap berhasil atau tidak, bukan?

Benar, tapi sekaligus juga salah. Kalau logika itu yang dipakai, para kesebelasan kecil dan medioker yang bahkan harus berjuang untuk masuk ke peringkat tengah atau supaya tidak jatuh pada jurang degradasi, akan kehilangan para suporter. Tapi nyatanya tidak. Romajaya punya banyak suporter dari berbagai negeri. Mereka tetap mencintai Romajaya. Kalau mereka mau, bisa saja pindah menjadi suporter klub-klub besar. Itu artinya, ada hal lain selain soal rangking. Sepakbola tidak bekerja dengan nalar seperti itu.

Apakah menurutmu, tahun depan Roma punya potensi meraih scudetto ?

Setidaknya, potensi itu lebih besar dibanding musim kompetisi sekarang ini.

Oke, aku kira cukup, Mou. Terima kasih banyak.

Sama-sama...

Apakah sebelum tulisan ini ditayangkan di Mojok, kamu perlu membacanya dulu?

Tidak perlu. Aku tidak suka mempengaruhi pendapat dan pikiran orang. Tulislah apa yang memang perlu kamu tulis.

Terima kasih. Salam buat keluargamu.

Mereka lalu berjabat tangan. Ketika Mou hendak membayar tagihan di kedai kopi itu, Tono mencegahnya. Kami punya kode etik, Mou. Wartawan tidak boleh ditraktir narasumber ketika melakukan wawancara.

Mou tersenyum sambil menganggukkan kepala. Mengucapkan terima kasih, lalu bangkit dari kursinya. Salam buat Toti...

Akan kusampaikan...

Artikel Asli