Terganjal Aturan Pelarangan Hidrogen

Gaya Hidup | koran-jakarta.com | Published at Kamis, 06 Januari 2022 - 00:00
Terganjal Aturan Pelarangan Hidrogen

Penggunaan hidrogen untuk menciptakan daya angkat bagi balon udara (airship) merupakan tantangan. Senyawa yang ringan ini dianggap sebagai bahan bakar yang mudah terbakar menurut ketentuan di Amerika Serikat dan Eropa.
Kedua blok tampaknya masih trauma dengan kasus kecelakaan Hindenburg pada 1937 yang menewaskan 35 dari 97 orang di dalamnya.
Namun demikian menurut peneliti senior di Pusat Pertumbuhan dan Peluang di Universitas Negeri Utah, Eli Dourado, pelanggaran itu sebagai persepsi yang tidak adil dan perlakuan hukum terhadap balon udara hidrogen dapat menghambat perkembangan teknologi yang berharga.
Menurut karyawan tambang bernama Clifford Stebel dalam bukunya yang terbit perdana pada 1969 tentang hari-hari awal industri helium, mengakui bahwa hidrogen seharusnya tidak membahayakan.
Stebel melanjutkan, bisnis penerbangan secara keseluruhan berada dalam fase embrionik pada awal 1900-an, dan sebagian besar mode penerbangan memiliki catatan keselamatan yang kurang baik, yang kemudian ditangani dengan standar ketat dan teknologi baru. Namun balon udara hidrogen harus diberikan kesempatan yang sama.
Melarang penggunaan zat yang mudah terbakar yang menghasilkan daya angkat aerostatik, tetapi mengizinkannya untuk digunakan menghasilkan daya dorong ke depan, adalah tidak masuk akal. Kebocoran bahan bakar yang mudah terbakar telah menyebabkan banyak bencana penerbangan dan bahan bakar ini tidak dilarang dijual secara grosir.
Larangan FAA saat ini terhadap gas pengangkat hidrogen hanyalah panduan, dan hampir setiap pesawat yang melalui sertifikasi melakukannya setelah menegosiasikan serangkaian keringanan dan kondisi khusus.
Pengujian ekstensif hidrogen pada dalam industri otomotif telah membuktikan bahwa tangki hidrogen dapat tembus dengan tembakan senapan kaliber 50 milimeter. Hidrogen yang keluar ke udara dapat dinyalakan dengan api tanpa menyebabkan ledakan. "Dengan standar teknik modern. Tidak diragukan lagi bahwa hidrogen dapat dibuat sebagai gas pengangkat yang aman," ujar dia.
Dourado memaparkan, satu-satunya cara untuk mengetahui dengan pasti adalah dengan mengembangkan dan mensertifikasi pesawat hidrogen generasi berikutnya. Tapi hal tersebut akan membutuhkan jutaan investasi, terhadap kemungkinan risiko bahwa program tersebut mungkin ditutup oleh peraturan.
Ini adalah permintaan yang sulit bagi investor, meskipun kelas investor baru mungkin memiliki nyali untuk tidak menyerah. Proyek hidrogen hijau lepas landas pada tingkat yang luar biasa karena negara dan perusahaan sama-sama bergulat dengan rintangan dan peluang dekarbonisasi.
Balon udara kargo hidrogen H2 Clipper mungkin hanya sebuah permulaan. Untuk menghadirkan risiko minimal bagi kehidupan manusia, balon terbang tersebut bisa dirancang untuk dapat berjalan otonom tanpa awak manusia.
Balon terbang hidrogen menghadirkan jalan tengah yang berguna dalam teka-teki logistik transportasi lebih murah daripada pesawat, lebih cepat dari kapal, jangkauan yang hampir tidak terbatas, dan fleksibilitas operasional yang sangat baik. "Saat ini tidak ada alternatif jika Anda ingin menempuh jarak yang serius tanpa menimbulkan emisi karbon dioksida," ujar dia.
Jika ekspor hidrogen cair secara internasional, dilakukan dalam jumlah besar, ongkos balon udaranya akan mengalahkan harga kereta api, truk, kapal, dan bahkan pipa pada jarak lebih dari 1.000 mil atau 1.609 kilometer, apalagi pengiriman dilakukan dengan balon udara tersebut.
Pendiri dan CEO H2 Clipper, Rinaldo Brutoco dipresentasikan pada Konferensi Penerbangan Hidrogen Internasional ke-2, yang diadakan di Glasgow September ini, mengatakan perusahaannya akan menghadapi segala rintangan.
"Ide yang menarik dengan beberapa rintangan yang jelas untuk diatasi. Kami akan mengawasi kemajuan perusahaan!" ujar dia. hay/I-1

Artikel Asli