Menghidupkan Kembali Penerbangan Balon Udara

Gaya Hidup | koran-jakarta.com | Published at Kamis, 06 Januari 2022 - 00:00
Menghidupkan Kembali Penerbangan Balon Udara

Sejak peristiwa kecelakaan balon udara Zeppelin Jerman, Hindenburg, yang terjadi pada 6 Mei 1937 hingga menewaskan 36 orang dari total penumpang sebanyak 97, aspek penggunaan hidrogen (H2) di bidang transportasi telah menodai opini publik selama beberapa dekade. Balon udara (airship) bertenaga hidrogen itu mengalami kebakaran hebat saat sedang mencoba berlabuh di tiang pengikat Stasiun Angkatan Udara Lakehurst di New Jersey, Amerika Serikat (AS).
Usaha untuk menghidupkan kembali balon udara bertenaga hidrogen dilakukan oleh perusahaan rintisan asal California, AS, yaitu H2 Clipper. Perusahaan ingin menawarkan kembali balon udara berisi hidrogen, yang ramah lingkungan dan mampu mengangkut beban kargo besar.
Pendiri dan CEO H2 Clipper, Rinaldo S Brutoco, mengatakan sejak awal ia ingin menciptakan balon hidrogen versi abad ke-21. Pengangkutan hidrogen murni yang andal dan murah ke pasar akan menjadi isu penting dalam memajukan revolusi hidrogen.
"Kami bekerja pada peningkatan balon udara tradisional yang memungkinkan metode pengangkutan barang yang 100 persen ramah lingkungan 7 hingga 10 kali lebih cepat daripada kapal, truk atau kereta api, dan dengan penghematan 70 persen dibandingkan transportasi udara tradisional," ujar dia dikutip laman Globe News Wire.
H2 Clipper Inc adalah perusahaan swasta yang telah melakukan investasi strategis yang signifikan untuk meneliti, mengembangkan, dan mematenkan teknologi inti dalam desain balon udara modern dan infrastruktur ekonomi hidrogen untuk transportasi jarak jauh.
Perusahaan tersebut mengklaim bahwa mereka dapat membuka operasi kargo antarbenua yang sepenuhnya hijau. Kapasitas angkutnya mencapai 8-10 kali lebih besar dari muatan pesawat kargo dengan jangkauan sejauh 6.000 mil atau 9.656 kilometer dengan biaya operasi seperempat dari pesawat konvensional.
"Clipper H2 akan membawa muatan hingga dan lebih dari 340.000 lb atau 150.000 kilogram. Menawarkan ruang untuk kargo dengan volume hingga 265.000 kaki kubik atau 7.530 meter kubik ruang kargo," kata perusahaan pada laman H2Clipper.
Kecepatan jelajah balon udara rancangan H2 Clipper mencapai sekitar 175 mil per jam atau 282 kilometer jam. Kecepatan ini jauh lebih lambat dari pesawat tapi dibandingkan kapal kargo yang memiliki kecepatan ini 7-10 kali lebih cepat. Dengan balon udara, hanya perlu waktu 36 jam untuk melakukan perjalanan dari Tiongkok ke AS dengan emisi nol.
Terbang dan mendarat secara vertikal balon udara ini tidak membutuhkan tempat yang luas, apalagi bandara. Dengan hidrogen sebagai gas angkat, mampu memberi kekuatan angkat 8 persen lebih baik pe volume daripada helium.
Daya dorongnya berasal dari baling-baling dengan motor bertenaga hidrogen cair dari sel bahan bakar. "Balon udara akan beroperasi secara efisien untuk misi mulai dari di bawah 500 mil atau 804 kilometer hingga lebih dari 6.000 mil atau 9.656 kilometer," ungkap H2 Clipper.
Jarak itu akan menghubungkan dua titik mana pun di dunia dengan satu pengisian bahan bakar. Dalam gambar render saat ini, perusahaan menunjukkan bagian atas pesawat besar yang ditutupi sel fotovoltaik. Secara teoritis hal itu memungkinkan menghasilkan hidrogen sendiri, jika membawa sumber air dan elektroliser.
Efisiensi Operasional
Kemampuan terbang dan mendarat secara vertikal dari tempat yang sempit memungkinkan membawa barang langsung dari pabrik ke pusat distribusi tanpa memerlukan tahapan transportasi darat tambahan ke dan dari bandara. Hal ini menambah efisiensi operasional kargo.
Secara ekonomi balon udara dari H2 Clipper akan menarik. Biaya operasional 0,177 hingga 0,247 dollar AS atau sekitar 2.500 hingga 3.500 rupiah per ton-mil untuk jarak antara 1.000-6000 mil atau 1.609 hingga 9.656 kilometer. Ongkos operasi ini hanya seperempat dari harga transportasi udara saat ini.
Memang transportasi ini masih lebih mahal dari kapal laut, tetapi berpotensi memotong tantangan logistik berupa biaya bahan bakar dan juga emisi CO2 sektor pelayaran, apalagi jika mereka dikenakan pajak karbon.
Teknologi hidrogen yang telah dipatenkan secara komprehensif ini diposisikan secara unik untuk memanfaatkan ekonomi hidrogen hijau yang berkembang pesat. Teknologi tersebut dapat membantu berbagai industri, pemerintah, dan organisasi kemanusiaan yang membutuhkan pengangkutan barang dan material jarak jauh.
Menggunakan Platform Dassault Systmes 3DEXPERIENCE dan dibantu oleh mitra layanan desain dari XD Innovation (XDI), H2 Clipper kini telah menyelesaikan fase penelitian dan desain konsep. Pekerjaan ini telah dilakukan dengan dana sepenuhnya swasta.
Brutoco mengatakan bahwa perusahaan akan mulai menggambar untuk prototipe sub-skala pada pada 2022. Ia berharap untuk menerbangkannya pada 2024 dan beroperasi pada 2026 serta memperkirakan akan ada sebanyak 100 balon udara akan mengangkut kargo pada 2030-an. hay/I-1

Artikel Asli