Konferensi Pers

Gaya Hidup | mojok.co | Published at Minggu, 26 Desember 2021 - 11:15
Konferensi Pers

Ada satu seremoni di dunianya yang tidak begitu disukai oleh Mou. Itu adalah konferensi pers. Ada semacam tradisi dalam dunia sepakbola, sebelum pertandingan dan sesudah pertandingan, seorang pelatih akan duduk di meja, berhadapan dengan puluhan wartawan, dan akan ditanya berbagai hal. Di depan wartawan, seorang pelatih sepertinya, lebih banyak menjadi semacam aktor watak dibanding menjadi diri sendiri.

Mou cukup punya catatan buruk dalam menghadapi wartawan. Mungkin karena dia agak susah berpura-pura. Tapi profesi wartawan mirip profesi lain di muka bumi. Sebagian kecil di antara mereka penuh dedikasi, sebagian besar mencari sensasi. Tapi Mou memahami ini. Dunia sepakbola, urusannya sudah bukan lagi 90 menit di lapangan. Ia adalah komoditas dengan seliweran uang puluhan bahkan ratusan triliun dalam sebulan. Ratusan juta manusia, tertuju pada komoditas satu ini. Karena itu, sepakbola butuh drama agar terlihat makin menarik.

Karena sihir itu pula, pemain sepakbola dan pelatih, banyak mendapatkan uang bukan saja dari bermain dan melatih sepakbola, melainkan dari menjadi bintang iklan. Dan celakanya, kadang sebagian dari mereka lebih mencintai uang dan ketenaran dibanding sepakbola itu sendiri.

Karena rekam jejaknya yang tak terlalu bagus di depan wartawan, Mou akhirnya mengalah saat beberapa sahabatnya meminta agar dia berlatih pernapasan dan meditasi. Di depan wartawan, dia harus terlihat tenang. Kalah maupun menang. Dia harus membuat kalimat yang cerdas dan layak dikutip. Tapi sebetulnya Mou sadar, kadang sikap buruknya terhadap wartawan juga dibutuhkan wartawan itu sendiri. Mereka butuh orang yang marah dan temperamental, apalagi untuk sekelas dirinya. Dia adalah sumber berita. Berita panas tentangnya akan mendatangkan jumlah pembaca. Makin banyak media dibaca orang, makin banyak pula mendatangkan uang. Begitulah hukumnya.

Belum lama, Mou kembali terjegal. Saat Romajaya kalah dan dia terpaksa diwawancara, banyak wartawan yang mendesaknya dengan pertanyaan yang aneh. Seolah jawabannya tidak cukup. Mereka seolah ingin memancing komentar terburuk Mou, agar dapat kutipan yang legit untuk disajikan di media massa tempat mereka bekerja. Akhirnya Mou memberikan komentar pendek, Pekerjaan saya tak semudah pekerjaan kalian. Karena itu, saya dibayar jauh lebih besar dibanding gaji kalian.

Sontak komentar itu menjadi berita utama di berbagai media massa. Ketika membaca berita itu, Mou agak menyesal. Karena dia kenal beberapa wartawan yang hebat. Sebagian dari mereka bahkan menjadi kawan dekatnya. Apalagi Mou suka membaca berbagai liputan investigasi yang dilakukan oleh para wartawan yang pemberani, yang mempertaruhkan banyak hal di hidup mereka untuk mengungkap kebenaran dari sebuah kasus yang sengaja ditutupi.

Penyesalan sering kali tak berguna. Mou tahu itu. Tapi dia juga tahu, suatu saat pasti akan mengulanginya lagi. Watak tak bisa dengan mudah diubah. Dan dia bukan pemain watak.

Mou memasuki ruang konferensi pers. Empat puluh lebih wartawan sudah ada di kursi masing-masing. Dia harus bicara tentang pertandingan yang akan dihelat. Pertandingan Romajaya melawan Atalantis, klub sepakbola yang bertengger di rangking keempat, sementara Romajaya sedang nangkring di rangking keenam. Atalantis sebelumnya adalah tim medioker di bawah Romajaya, tapi sudah tiga tahun ini, kesebelasan yang dilatih oleh Gasperini itu telah menjadi momok yang menakutkan bagi kesebelasan mana pun. Terlebih, Romajaya akan bermain tandang.

Bukan hanya itu, ada 6 pemain inti Romajaya yang tak bisa bermain karena cedera, sementara di pihak Atalantis hanya ada satu pemain inti yang cedera. Mou mesti memutar otak untuk meracik timnya. Di berbagai media massa sudah tersiar banyak analisis, yang tentu saja memperkirakan anak asuh Mou akan menelan kekalahan di kandang Atalantis.

Mou duduk. Dia mencoba tenang. Moderator acara membuka dengan singkat konferensi pers itu, lalu langsung mempersilakan Mou untuk bicara tentang strategi apa yang akan dipakainya untuk menghadapi Atalantis.

Pelatih itu membetulkan letak mik di depannya sebagai sebuah cara untuk mencoba menenangkan diri. Ini adalah pertandingan 6 melawan 6. Kalimat itu tentu saja adalah sebuah kalimat pembukaan yang menarik. Ruangan hening. Menunggu kalimat-kalimat yang akan dikeluarkan oleh Mou. Saat hening seperti itu, hanya ada suara cekrekan kamera dan kilatan cahaya kamera.

Ya, 6 melawan 6. Saya baru 6 bulan melatih Romajaya, dan Gasperini 6 tahun melatih Atalantis. Tapi sesungguhnya ini bukan soal waktu 6 bulan melawan 6 tahun. Tapi dalam waktu 6 tahun, itu berarti ada 6 kali pasar transfer besar dibuka, dan 6 kali transfer market tengah kompetisi. Lebih tepatnya, Gasperini punya 12 kesempatan untuk merombak pemainnya, sementara saya hanya punya sekali saat merapat di Romajaya.

Mou melihat ke arah para wartawan. Mereka sibuk mencatat. Sebagian lagi menatap lekat ke arah Mou. Mou tahu persis, sebagian dari mereka sesungguhnya adalah orang-orang yang mengaguminya.

Tapi kami datang ke sana bukan untuk meraih hasil seri. Begitu kalimat itu keluar dari mulut Mou, sebagian wartawan terlihat tertawa. Mereka pasti membatin, Mou sedang mengarang cerita atau merangkai cita-cita yang menggelikan. Tak perlu pandit yang turun tangan menganalisis. Bocah berusia belasan tahun yang suka sepakbola pasti juga tahu bahwa misi yang dibawa Mou untuk menang di kandang Atalantis hanyalah gimik belaka. Tapi wartawan suka. Mereka segera mencatatnya.

Kami punya pemain-pemain yang bersemangat untuk bertanding. Memang benar bahwa 6 pemain inti kami cedera, tapi itu artinya, ada 6 pemain muda yang bersemangat untuk memberikan yang terbaik untuk Romajaya.

Seorang wartawan langsung menyeletuk, Ya, Mou. Kamu benar. Tapi kenyataannya, pemain inti kalian saja masih sering bermasalah ketika di lapangan, apalagi pemain muda. Kita semua tahu itu...

Sontak seluruh ruangan penuh tawa berderai. Mou pun tersenyum. Itu gayanya. Mou ingin sekali mengucapkan kalimat, Tahu apa kalian soal sepakbola. Atau mengatakan, Kalian tahu itu, tapi tetap butuh konferensi pers ini, bukan? Hanya saja, Mou tidak mengeluarkan kedua kalimat itu.

Kami telah menggunakan waktu sempit yang kami miliki untuk melakukan strategi yang tepat menghadapi Atalantis. Buat kalian, kemenangan adalah hal yang mustahil kami raih di sana. Tahukah kalian kenapa kami akan menang? Karena sepakbola adalah sepakbola. Selesai mengucapkan hal itu, Mou menundukkan mik di depannya, sebagai sebuah pertanda bahwa konferensi pers itu selesai. Tinggal dia akan menjawab beberapa pertanyaan dari wartawan.

Moderator membuka sesi tanya-jawab. Seorang wartawan dengan rambut kelimis dan setelan necis segera mengangkat tangan. Mou, apa pendapatmu tentang Gasperini?

Ini sebuah pancingan. Wartawan itu ingin Mou mengeluarkan kalimat yang berisi ejekan buat Gasperini. Mou mengangkat lagi gagang mik, agar mik itu tepat berada sekian centimeter di depan mulutnya. Gasperini pelatih hebat. Kalian tahu, sebelum enam tahun ini, Atalantis selalu kesulitan menembus 10 besar di Liga Utama. Tapi begitu dilatih Gasperini, mereka bukan hanya mudah masuk 10 besar, bahkan terlihat mudah masuk 5 besar. Ini kompetisi yang sulit. Hanya pelatih kompeten yang bisa melakukan hal seperti itu. Bukan tidak mungkin, di tahun depan, Atalantis akan bersaing ketat dalam perebutan scudetto .

Wartawan itu tampak kecewa. Apa yang diharapkannya muncul dari mulut Mou yang terbiasa nyinyir, tidak terjadi. Wartawan lain bertanya. Setelah menghadapi Atalantis, Romajaya akan berturut-turut menghadapi 5 kesebelasan besar. Itu artinya, jika Romajaya kalah terus, bisa terlempar bukan saja dari 6 besar melainkan terlempar dari 10 besar. Bagaimana menurut pendapatmu?

Kekalahan adalah kekalahan. Setiap kekalahan akan membawa konsekuensi pada rangking. Tapi setiap kekalahan yang menimpa kami, tak pernah kami pikirkan. Kekecewaan tak boleh berumur panjang. Kami harus bersiap menghadapi pertandingan selanjutnya.

Entah kenapa, tiba-tiba beberapa wartawan bertepuk tangan, lalu disusul tepuk tangan yang lainnya. Mou agak heran, rasanya dia memberikan jawaban yang biasa saja. Tapi karena tepuk tangan itu, membuat penanya selanjutnya tak memberikan desakan yang berarti.

Selesai konferensi pers, Mou disalami oleh Pinto. Konferensi pers yang menarik, Bung. Salaman yang hangat dan tulus.

Tapi kita harus tetap tahu, melawan Atalantis bukan perkara gampang, ucap Mou sambil berjalan ke arah kantor. Pinto mengiringinya.

Apa yang paling kamu khawatirkan, Mou?

Jujur. Semua. Materi pemain kita. Mental para pemain Atalantis yang lagi tinggi. Dan mental pemain kita yang drop . Berapa Romanza yang akan ikut kita melawat ke kandang Atalantis?

Tiket untuk suporter kita habis. Itu artinya, ada 1200-an Romanza akan ikut menyemangati pemain.

Mou mengangguk. Dia segera masuk ruang kerjanya. Pinto pun menuju ke ruang kerjanya.

Di ruang kerjanya, Mou mendekati papan strategi yang tertempel di tembok. Dia berpikir keras. Berpikir untuk mengatasi semua keterbatasan. Ini pertandingan pembuka melawan berturut-turut lima klub besar. Benar kata wartawan di ruang konferensi pers, di atas kertas, Romajaya harus siap menghadapi kekalahan beruntun. Itu bisa berakibat buruk. Sangat buruk. Tapi bukankah untuk itu Romajaya mendatangkannya? Untuk mengatasi hal buruk terjadi.

Artikel Asli