Tekuni NFT Art, Jangan Sampai Kehilangan Rasa

Gaya Hidup | jawapos | Published at Minggu, 26 Desember 2021 - 17:19
Tekuni NFT Art, Jangan Sampai Kehilangan Rasa

SENIMAN asal Tangerang, Edi Bonetski, menyebut NFT art sebagai tabungan. Alias investasi. Namun, NFT art juga bisa menjadi perangkap. Jika terlalu berfokus pada laku tidaknya karya, seniman bisa kehilangan rasa dalam berkarya.

Saya bawa santai saja. Buat seru-seruan, nggak ada beban, terang Edi saat dihubungi Jawa Pos kemarin (25/12).

Dia menuturkan, NFT art bisa menjadi ajang kolaborasi yang menarik. Misalnya, dia bisa berkolaborasi dengan para seniman yang lebih muda dan melek digital. Kenapa enggak? Jalani dengan semangat kejujuran dan integritas. Tapi, sekali lagi, saya nggak mengejar laku nggaknya itu, jelasnya.

Saat pergelaran Biennale Jatim beberapa waktu lalu, ada pengunjung yang menawari Edi agar meng-NFT-kan karyanya. Karyanya Mas yang di tembok ini saya foto ya. Nanti saya jadiin NFT atas nama Mas, kata Edi menirukan kalimat orang yang mendekatinya di arena pameran. Ketika itu dia mengiyakan tawaran tersebut.

Yang dia alami di Biennale Jatim itu ternyata membuka jalannya ke dunia digital. Dia lantas terlibat kolaborasi dengan kaum muda. Namun, dia kembali menegaskan bahwa tujuan kolaborasi dan NFT baginya bukanlah semata-mata uang. Jadi celengan. Investasi kebudayaan, investasi organik. Sesuatu yang bisa sangat terasa, ungkap Edi.

Dia berpesan kepada para seniman yang mulai menekuni NFT agar tetap berkarya sepenuh hati. Tetap menunjukkan jiwa seninya agar karya itu punya nyawa. Sebaiknya NFT art tetap menjadi arena bermain saja. Sama dengan pasar seni konvensional, lokapasar NFT art sebaiknya tetap menjadi tempat menguji karya seni dengan selera pasar.

Artikel Asli