NFT Jamin Orisinalitas Karya Semua Seniman

Gaya Hidup | jawapos | Published at Minggu, 26 Desember 2021 - 16:40
NFT Jamin Orisinalitas Karya Semua Seniman

PENDIRI Yayasan Ganara Mariberbagi Seni dan Seni untuk Indonesia Tita Djumaryo menyebut NFT sebagai lahan bermain baru bagi seniman dan desainer. Tujuan permainannya adalah menjadikan karya mereka lebih dari yang biasa (standar). Lagu, gambar bergerak (GIF), meme, bahkan tiket pertunjukan kreatif juga di-minting menjadi NFT. Minting adalah proses validasi dan merekam karya ke blockchain.

Ini sedang menjadi tren karena its something new. Terutama di industri kreatif. Mereka sedang mencoba peruntungan, kata Tita saat dihubungi Jawa Pos pada Jumat malam (24/12).

Pandemi Covid-19, menurut dia, juga mendorong tren tersebut. Pembatasan mobilitas membuat hampir seluruh aktivitas masyarakat terpusat pada gawai. Tersaji secara digital. Kondisi itu membuahkan banyak kreativitas baru.

Tita menyatakan, seiring berjalannya waktu, NFT menjadikan nilai karya seni berbeda. Dia lantas menyebut mahakarya Leonardo da Vinci, Monalisa. Kini sudah banyak yang merepro ulang lukisan tersebut. Namun, masyarakat awam tahu pasti lukisan aslinya ada di Museum Louvre, Prancis.

Itu Leonardo da Vinci. Bagaimana dengan seniman-seniman biasa? Publik mungkin tidak mau repot-repot melacak di mana aslinya.

Nah, proses minting akan membuat semua seniman, terkenal atau tidak, punya sertifikat yang menyatakan keaslian karya mereka. Sertifikat itu berwujud kode unik. Kode unik itulah yang akan menjamin orisinalitas karya. Itu juga menjamin keamanan karya yang tersimpan secara digital. Metode itu, imbuh Tita, bisa meningkatkan kesejahteraan seniman.

Jadi ketika ada yang mencoba membuat duplikatnya, blockchain sudah mencatat mana karya yang pertama dan siapa yang membuat, terangnya. Segala hak atas karya itu pun kemudian mengikuti seniman yang namanya tercatat pada NFT.

Tita menjelaskan, NFT tak ubahnya seperti pendataan. Dan, itu adalah hal yang penting menjelang Society 5.0 ini. Hampir segala aspek kehidupan pasti berhubungan dengan teknologi dan data. Termasuk, seni budaya.

Era NFT membuka jalan bagi seniman lokal Indonesia untuk go global. Sebab, NFT memungkinkan semua orang di dunia melihat karyanya. Seniman yang domisili di Goa, Sulawesi Selatan, misalnya. Sebelum ada NFT, mungkin hanya orang-orang daerah sekitar yang tahu itu, ungkapnya.

Yang menjadi tantangan adalah cara masing-masing seniman mengubah karyanya ke bentuk digital. Mengingat, tidak semua seniman melek digital. Di sini Ganara berperan aktif sebagai jembatan bagi seniman nondigital. Dasar organisasi kami adalah platform pendidikan seni budaya, imbuh Tita.

Lewat tagar Pendidikan Seni untuk Perubahan Sosial, Ganara berusaha mengakrabkan seniman dengan dunia digital. Caranya adalah lewat pelatihan digital, 3D rendering, dan animasi.

Awal tahun depan, Ganara akan membuka galeri fisik NFT untuk umum, karya seni NFT, dan lokapasar NFT. Seniman Ganara Collective ini dari Sabang sampai Merauke. Ada penenun dari Sumba, seniman dari Waingapu, Makassar, sampai Bandung. Jadi sangat beragam. Kami mengusung karya Nusantara yang dikemas secara modern, bebernya.

Tita menegaskan, urusan hak cipta NFT masih perlu peran regulator. Khususnya untuk mengawasi dan mengadvokasi.

Artikel Asli