Beradaptasi dengan Non-Fungible Token, Menyongsong Society 5.0

Gaya Hidup | jawapos | Published at Minggu, 26 Desember 2021 - 14:54
Beradaptasi dengan Non-Fungible Token, Menyongsong Society 5.0

Non-fungible token (NFT) adalah token unik berbagai entitas. Salah satunya adalah karya seni. Sebutannya, karya seni NFT alias NFT art . Belakangan, NFT art menjadi tren.

NFT adalah token yang tidak dapat dipertukarkan. Keaslian karya itu otomatis tercatat dalam sistem. Dengan demikian, karya tersebut sulit diduplikasi, dimanipulasi, maupun dipalsukan.

NFT art berbasis pada teknologi blockchain. Ibaratnya, ada buku raksasa dalam ekosistem digital yang mencatat semua kejadian dan transaksi yang masuk. Setiap transaksi NFT art yang sudah memiliki token unik tadi divalidasi ribuan server dan langsung tercatat dalam sistem. Upaya itu dapat menghindarkan seniman atau kreator dari pembajakan.

Sudjud Dartanto, salah seorang kurator dan peneliti seni di Galeri Nasional Indonesia, menyatakan bahwa otentikasi adalah keunikan NFT art. Jika seniman bertransaksi dengan menggunakan teknologi blockchain, pencatatan riwayat karya seni tidaklah menjadi hal yang rumit lagi.

Bandingkan dengan kalau kita mau memvalidasi lukisan karya Affandi, misalnya. Untuk membuktikan karya itu palsu atau tidak, dibutuhkan biaya besar untuk konsultasi dan sertifikasi. Dan, itu menjadi masalah pada pasar seni konvensional yang sering kali bermasalah pada otentikasi, jelas Sudjud kepada Jawa Pos saat dihubungi Jumat (24/12).

Hal itu pula yang membuat Galeri Nasional Indonesia akan meng-NFT-kan koleksinya. Sebab, otentikasi karya seni yang memiliki sertifikasi dalam sistem blockchain bisa dibuktikan dengan mudah. Keasliannya pun dapat dipertanggungjawabkan.

Langkah-langkah itu penting untuk menangkal aksi nakal orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Bisa saja kan, misalnya lukisan di Galeri Nasional difoto, lalu dicetak, dijual di pasar bebas. Atau, arca di museum dipalsukan, lalu dijual, ujar Sudjud.

Meng-NFT-kan benda seni milik negara, lanjut dia, sudah dilakukan pemerintah Tiongkok. Tujuannya adalah mengantisipasi pemalsuan karya.

Karya seni yang terdaftar masuk dalam ekosistem blockchain juga dapat diperjualbelikan dengan menggunakan mata uang kripto. Salah satu koin yang sering digunakan adalah ethereum.

Transaksi jual beli itu terjadi dalam platform lokapasar NFT. Dalam transaksi NFT art, seniman dimungkinkan memperoleh penghasilan yang lebih besar. Penghasilannya tidak hanya berasal dari penjualan karya di pasar primer, tetapi juga di pasar sekunder.

Seniman yang karyanya menjadi NFT art, baik berupa gambar maupun lagu, bisa mendapatkan royalti dari penjualan kedua, ketiga, dan seterusnya dari produk yang sama. Royalti tersebut bahkan bisa diturunkan kepada ahli waris seniman. Pemberian royalti itu diatur dalam smart contract. Berbeda halnya dengan sistem beli putus pada pasar seni konvensional. Ketika kolektor membeli karya, lalu menjualnya lagi, sering kali seniman tidak memperoleh royalti setelahnya.

Apakah karya-karya yang terjual dalam pasar NFT art adalah karya yang bagus? Relatif, kata Sudjud. Di pasar seni konvensional, karya yang terjual dengan harga mahal belum tentu bagus jika ditilik dari sisi seni secara keilmuan. Banyak juga karya bagus yang laku dengan harga murah. Eksploitasi dan goreng-menggoreng harga pun terjadi di pasar NFT art.

Jangan kaget kalau karya-karya yang menjadi top sales NFT art itu cuma gambar kucing, monyet, atau gambar yang biasa dalam ukuran seni rupa. Kenapa bisa laku mahal? Jangan lupa, dunia NFT adalah tentang keunikan, kelangkaan, dan sesuatu yang diedarkan terbatas, terang mahasiswa program doktor pengkajian seni pertunjukan dan seni rupa di Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut.

Demam NFT juga menjangkiti jagat Bumilangit. Baru-baru ini, PT Bumilangit Digital Mediatama meluncurkan karya seni digital berteknologi blockchain tersebut. Dalam debutnya, Bumilangit Digital Mediatama menerbitkan dua karakter ikonik serial komik superheronya. Gundala dan Sri Asih. Dua tokoh itu hadir dalam beberapa pose andalan. Bentuknya juga macam-macam. Ada yang berbentuk video, gif, dan image.

Setidaknya ada 356 unit NFT karakter Gundala dan 381 unit NFT karakter Sri Asih. Karya-karya itu dirilis secara bertahap. Saat peluncuran perdana pada 22 Desember lalu, ada 46 unit NFT Gundala dan 55 unit NFT Sri Asih. Semuanya langsung ludes terjual.

Direktur Utama Bumilangit Digital Mediatama Budiasto Kusuma menyebut peluncuran perdana tersebut sebagai pembuka rangkaian rilis Bumilangit Digital NFTs Book. Itulah perpustakaan digital dengan 1.200 karakter orisinal dari Bumilangit.

Ini menjadi kebanggaan buat kami sebagai pelestari aset karya anak bangsa. Superhero dari bangsa kita sendiri. Kita amankan menjadi aset digital mengikuti tren saat ini, tandasnya.

Artikel Asli