Loading...
Loading…
Ritual Suku Kreung Kamboja, Gubuk dari Ayah untuk Anaknya Bercinta

Ritual Suku Kreung Kamboja, Gubuk dari Ayah untuk Anaknya Bercinta

Gaya Hidup | inewsid | Jumat, 24 Desember 2021 - 15:31

JAKARTA, iNews.id - Setiap suku pasti mempunyai budaya dan ritualnya masing-masing, tidak terkecuali bagi Suku Kreung di Kamboja yang mempunyai kegiatan cukup unik. Suku ini memiliki ritual bagi para wanita untuk membawa sebanyak-banyaknya pria ke dalam gubuk pemberian sang Ayah.

Suku Kreung merupakan suku dari Kamboja yang cukup terkenal karena budaya atau ritual mereka yang dinilai unik oleh masyarakat dunia. Tidak jarang beberapa masyarakat negara lain menilai ritual ini merupakan kegiatan yang tidak masuk akal atau bahkan tidak baik.

Ritual itu adalah kegiatan wanita Suku Kreung yang akan mengajak pria ke dalam gubuk untuk bercinta atau menjalin kasih. Gubuk itu dibuat oleh Ayah pihak wanita untuk tujuan agar anak perempuan mereka bisa menemukan kekasih dengan kegiatan tersebut.

Gubuk ini sering disebut sebagai gubuk cinta atau pondok cinta yang diberikan oleh pihak keluarga kepada anak perempuan mereka setelah berumur 15 tahun atau telah menstruasi. Tradisi ini masih berjalan hingga sekarang menjadikan tradisi ini membuat heran masyarakat dunia yang telah mengalami banyak perubahan dan meninggalkan budaya sendiri.

Namun, di samping tradisi unik ini, pemberian gubuk cinta memiliki makna lain. Tujuan keluarga memberikan gubuk cinta sebagai tempat tinggal baru bagi anak perempuan mereka adalah agar sang anak mendapatkan privasi dan ruang bersosialisasi sendiri dengan lawan jenisnya.

Gubuk cinta juga disebutkan sebagai tempat bagi anak perempuan Suku Kreung untuk mendapatkan pengalaman seksual dengan lawan jenis untuk mencari jodoh.

Pria yang masuk ke dalam tempat tinggal wanita Suku Kreung ini akan diberi waktu semalam untuk menghabiskan waktu bersama hingga sang anak mendapatkan cinta sejatinya. Dengan seperti ini, perempuan Suku Kreung bebas untuk menikah dengan siapa saja.

Tujuan Gubuk Cinta ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan cara orangtua membebaskan anak perempuannya untuk memilih tambatan hatinya sendiri. Namun tradisi yang dilakukan oleh Suku Kreung memang tidak awam bagi banyak orang.

Pihak keluarga perempuan mengharapkan dengan tradisi ini anak mereka bisa memilih pasangannya sendiri dan mendapatkan suami terbaik pilihan mereka. Karena para orang tua Suku Kreung yakin setelah anak menginjak usia dewasa maka mereka harus bisa bertanggung jawab dengan perasaan dan urusan hati masing-masing.

Di sisi lain, kaum pria Suku Kreung sudah diajarkan cara memperlakukan wanita dengan sopan dan terhormat. Maka dari itu mereka yang bertamu ke dalam Gubuk Cinta ini tidak boleh agresif atau memutuskan tindakan sepihak tanpa ada persetujuan pihak wanita.

Dengan tingkat penghormatan dan tradisi yang selalu mendukung kesetaraan wanita dan pria, Suku Kreung bisa dibilang sebagai bentuk tradisional dari paham feminisme yang sering dibicarakan di dunia yang serba modern ini. Suku Kreung tidak perlu belajar teori bagaimana menghormati wanita dan membiarkan mereka mengambil keputusan atas hak tubuhnya, mereka sudah menerapkan itu sebagai tradisi yang melekat di budaya mereka.

Original Source

Topik Menarik