Sering Disalahartikan, Kata psikolog Ini Bedanya Narsis dan Narcissistic Personality Disorder

Gaya Hidup | herstory | Published at Jumat, 26 November 2021 - 14:25
Sering Disalahartikan, Kata psikolog Ini Bedanya Narsis dan Narcissistic Personality Disorder

Beauty, kamu pasti udah gak asing dengan istilah narsis, kan ?

Narsis adalah salah satu istilah populer yang sering dilontarkan oleh kalangan anak muda untuk mendeskripsikan seseorang yang terlalu pede dan bangga akan diri sendiri, terutama, mereka yang hobi selfie berlebihan dan memamerkan foto koleksi dirinya di berbagai akun sosial media.

Tak pelak, beberapa kalangan pun menyebut narsis sebagai gangguannarsistik atau narcissistic personality disorder (NPD).

Lantas, apakah keduanya memang sama?

Terkait hal itu, Psikolog Klinis, Zoya Amirin , M.Psi., FIAS., pun angkat suara. Dikutip dari unggahan di Instagram pribadinya, Zoya pun memberikan edukasi terkait gangguan kepribadian narsistik yang sering disalah artikan oleh banyak orang.

Jadi, narsis dan NPD jelas banget berbeda, ya, tutur Zoya, dalam unggahannya tersebut.

Zoya bilang, istilah narsis selama ini sering digunakan untuk menggamparkan seseorang yang sering ngaca , selfie atau memamerkan sesuatu dan kemudian memuji dirinya sendiri. Padahal, makna narsis jauh lebih besar daripada itu.

Kata narsis berasal dari narcissism, yang merujuk pada kisah seseorang dewa bernama Narcissus, yang jatuh cinta pada bayangannya sendiri di air. Konsep inilah yang kemudian digunakan oleh Sigmund Freud untuk menjelaskan mekanisme dan dinamika narsisme, hubungannya dengan libido, dan perannya dalam perkembamgan psikoseksual individu, kata Zoya.

Zoya melanjutkan, menurut Freud, setiap manusia pasti memiliki setidaknya sedikit sifat narsisistik dari lahir dan hal ini penting agar mereka dapat berkembang dengan normal.

Namun, jika sifat ini terus menerus ada hingga dewasa, maka kecintaan berlebihan pada diri sendiri berkurang dan kecintaan pada orang lain pun mengambil alih. Hal inilah yang meudian menjadi sebuah gangguan kepribadian narsis dan NPD, bebernya.

Adapun, NPD sendiri menurut DSM-5 ( Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 5 th Edition ), merupakan gangguan kepribadian dengan ciri-ciri sebagai berikut:

  • Sebuah pola yang bertahan dari rasa sombong dan grandiose dan perasaan yang berlebihan tentang kemampuan dan prestasinya.
  • Fantasi seks tanpa batas, kekuasaan, kecerdasan, dan kecantikan/ketampanan
  • Kebutuhan akan perhatian dan kekaguman yang harus dipamerkan
  • Merespon kritik, perbedaan, atau kekalahan dengan sikap gak peduli yang keren atau dengan perasaan marah, dipermalukan atau kekosongan.
  • Berbagai gangguan interpersonal, seperti perasaan berhak atas bantuan khusus, mempergunakan atau mengambil keuntungan atas orang lain, dan ketidakmampuan berempati atas perasaan orang lain.

Lebih lanjut, Zoya pun memaparkan bahwa korban dari orang yang narsistik dapat mengalami luka yangbertahan lama.

Orang dengan NPD cenderung melakukan pelecehan emosional dan verbal kepada korbannya serta melakukan usaha yang kejam dan gigih untuk mensabotase korbannya. Hal ini mengakibatkan para korban menghancurkan diri sendiri dan bahkan mungkin korban pun bunuh diri, tulisnya.

Menurutnya, ada berbagai cara seorang narsistik memanipulasi orang lain. Dan berikut ini adalah beberapa tindakan manipulatif seorang narsistik untuk mensabotase korbannya, yakni:

Nah Beauty, meski beberapa karakteristik di atas bisa terlihat sebagai kualitas kepercayaan diri, namun sekali lagi kedua hal itu jelas gak sama, ya.Karakteristik orang-orang NPD biasnya melewati batas dari kepercayaan diri yang sehat.

Semoga informasinya bermanfaat, ya!

Artikel Asli