Peringatan 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan: Perjuangkan Kesetaraan Gender!

Gaya Hidup | herstory | Published at Jumat, 26 November 2021 - 10:30
Peringatan 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan: Perjuangkan Kesetaraan Gender!

Dalam rangka memperingati 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, Yayasan Care Peduli (YCP) dan Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan, UN Women hari ini mengadakan diskusi Ubah Narasi: Peran Media dalam Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan, Kamis (25/11/2021).

Yayasan Care Peduli memiliki visi untuk menciptakan dunia yang memberikan harapan, bersifat inklusif dan berkeadilan, di mana semua orang dapatt hidup bebas dari kemiskinan, bermartabat, dan memiliki rasa aman.

"Kekerasan terhadap perempuan jelas bertentangan dengan visi tersebut, karena mana mungkin seseorang dapat hidup dengan aman dan bermartabat apabila masih mengalami kekerasan dan hidup di bawah ketakutan." kata Bonaria Siahaan, CEO Yayasan Care Peduli.

Sejalan dengan visi ini, CARE mempunyai komitmen untuk terus mengadvokasi dan berkolaborasi dengan semua pihak dalam upaya penghilangan kekerasan terhadap perempuan dan untuk memperjuangkan kesetaraan gender.

Dalam kesempatan yang sama, Bintang Puspayoga, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia memaparkan sejumlah fakta dan data bahwa 1 dari 3 perempuan di dunia pernah mengalami kekerasan fisik atau seksual oleh pasangan, non-pasangan, atau keduanya, setidaknya sekali dalam hidupnya.

Serupa dengan kondisi global, 1 dari 3 perempuan Indonesia berusia 15-64 tahun pernah mengalami kekerasan fisik dan seksual dalam hidupnya.

Indonesia yang aman bagi perempuan enggak akan tercipta tanpa dukungan dan sinergi dari seluruh pihak, khususnya media. Dalam hal ini, kami sangat berharap media bisa menjalankan kode etik pemberitaan yang ramah perempuan, serta mulai mengembangkan kebijakan media untuk mendorong pencegahan kasus kekerasan terhadap perempuan, jelas Bintang.

Lebih lanjut, Veryanto Sitohang, Komisioner Komnas Perempuan juga memaparkan faktar-fakta terkait kekerasan terhadap perempuan.

"Sekalipun pemberitaan tentang kekerasan berbasis gender telah cukup banyak dan bahkan meningkat terutama sejak pandemi Covid-19, namun hal yang masih kurang diulas adalah keterkaitan antara kekerasan terhadap perempuan dengan seksisme dan ketidaksetaraan gender yang mana kedua hal ini menjadi akar masalah masih terjadinya terhadap perempuan." ujar Bonaria.

"Itulah mengapa tajuk pembahasan diskusi ini adalah 'Ubah Narasi', di mana media sebagai potret dari kondisi sosial masyarakat mempunyai power yang sangat besar untuk menjangkau, mengedukasi dan membentuk opini yang diharapkan dapat mengubah perspektif akan kekerasan terhadap perempuan." tutup Bonaria.

Artikel Asli