Pengurangan Emisi Karbon Diikuti Perubahan Perilaku

Gaya Hidup | koran-jakarta.com | Published at Jumat, 26 November 2021 - 00:00
Pengurangan Emisi Karbon Diikuti Perubahan Perilaku

Bukan hanya inovasi teknologi yang perlu dilakukan untuk mengurangi karbon dioksida dan metana dari sektor pertanian. Perubahan perilaku dalam mengonsumsi produk pertanian yang rendah jejak karbon perlu dilakukan.
Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) diperkirakan 17 persen makanan yang ditanam di seluruh dunia pada 2019 terbuang sia-sia di berbagai titik dalam rantai makanan. Angkanya jika dihitung mencapai 931 juta ton.
"Pada pergantian abad, kami menumbuhkan cukup kalori untuk memberi makan 10 hingga 12 miliar orang, tetapi kami hanya memiliki tujuh miliar orang di planet ini," kata Tim Benton, Direktur Program Lingkungan dan Masyarakat Chatham House sebuah lembaga yang bergerak dalam isu-isu internasional.
"Ini tentang memproduksi lebih banyak, makan lebih banyak, membuang lebih banyak, dan membuatnya lebih murah. Sekarang, kita harus mengubah apa yang kita makan untuk mengubah sistem makanan," jelasnya kepada BBC.
FAO memperkirakan 17 persen makanan yang ditanam di seluruh dunia pada 2019 terbuang sia-sia di berbagai titik dalam rantai makanan, sebesar 931 juta ton. Setidaknya 61 persen berasal dari rumah tangga, sedangkan sisanya terjadi selama produksi, panen, transportasi, pengolahan dan ritel.
Pada proses membusuk, makanan juga melepaskan lebih banyak gas rumah kaca ke atmosfer. Di Inggris saja, limbah makanan pada 2018 bertanggung jawab atas sekitar 36 juta ton gas rumah kaca. Sementara itu, upaya untuk mengurangi limbah makanan dengan penyimpanan, pendinginan, dan metode transportasi yang lebih baik dapat membantu mengurangi emisi.
"Perubahan lain diperlukan untuk memastikan sebanyak mungkin produk yang dapat dimakan digunakan. Ini juga dapat membantu membuat makanan lebih mudah diakses di tempat lain, terutama ketika disumbangkan ke bank makanan dan upaya sosial dan amal lainnya," ujar Benton.
Ia menegaskan perlu perubahan mendasar terkait dengan makanan. Hal yang perlu dilakukan adalah mengurangi permintaan dan meninggalkan pertanian yang sangat intensif. Penggunaan bahan kimia dikurangi dan memilihkan keanekaragaman hayati sebagai sumber pangan.
Selain itu, kata Benton, perlu perubahan dalam mengemas, mengangkut makanan, dan memperdagangkannya. "Seluruh arsitektur inovasi dan inovasi sistem tata kelola sangat penting untuk membuat seluruh sistem pangan berubah menjadi sistem emisi karbon rendah," katanya. Hay

Artikel Asli