Ngobrol dengan Orang yang Tersiksa karena Ketempelan Demit Kiriman

Gaya Hidup | mojok.co | Published at Minggu, 14 November 2021 - 05:43
Ngobrol dengan Orang yang Tersiksa karena Ketempelan Demit Kiriman

Ketempelan demit, sering jadi frasa guyonan kalau ada orang-orang yang berperilaku tak seperti biasanya. Nyatanya, memang ada orang yang ketempelen demit, bahkan sengaja dikirim orang lain yang membuat hidup mereka tersiksa.

***

Dua orang narasumber yang saya temui di penghujung bulan Oktober 2021 ini masih tidak habis pikir, kenapa ada orang yang begitu tega mengirim demit untuk menempeli mereka. Tragedi ketempelan yang membuat dua narasumber saya merasa sangat tersiksa. Bahkan satu di antara keduanya saat ini masih menjalani terapi spiritual untuk mengeluarkan demit kiriman yang bersemayam di dalam tubuhnya tersebut.

Nggak jadi dikasih ilmu pelet, malah dapat kiriman...

Melalui seorang kenalan, sebut saja Anwar (23) saya bertemu dengan Alimin (22), tentu bukan nama asli, sebagai orang yang pernah ditempeli demit kiriman. Setelah menghubungi Alimin lewat pesan WhatsApp, Senin (26/10/2021) saya membuat janji bertemu dengan Alimin di kediamannya di salah satu desa di Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang. Nanti biar sampeyan dapat kesaksian dari bapak ibuk saya juga, katanya dalam penutup pesan tersebut.

Ditemani Anwar, saya tiba di rumah Alimin yang asri menjelang asar. Kami disambut Alimin dan ibunya yang lalu mempersilakan kami duduk di ruang tamu. Kejadiannya kira-kira tahun 2015, Mas, pas saya masih kelas satu SMA, ujar Alimin memulai ceritanya.

Alimin bercerita, suatu hari ia tanpa sengaja bertemu dengan pria berusia sekitar 40-an tahun di sebuah masjid. Waktu itu ia sedang melamun seorang diri. Hingga tiba-tiba pria tersebut mendekatinya dan mengelus-elus kepalanya.

Orang itu bilang kalau dia bisa membaca masalahku. Kebetulan juga waktu itu aku lagi patah hati karena habis diselingkuhin pacar, Mas, ucap Alimin setengah tersipu. Nah, terus orang itu bilang bisa bantu saya buat bikin mantanku itu balik ke aku lagi, sambungnya.

Gejolak jiwa mudanya membuat Alimin tidak bisa berpikir jernih. Alimin lantas bersedia jadi murid pria tersebut jika benar ia bisa balikan dengan sang mantan. Dari situ Alimin lantas diminta untuk datang ke kediaman pria tersebut.

Di rumah pria tersebut, pada mulanya Alimin memang dikenalkan dengan aneka macam jenis pelet. Dari mahabbah sampai semar mesem serta berbagai jenis ilmu pengasihan yang lain. Alimin mengaku semakin tertarik. Namun ternyata untuk mendapat ajian-ajian tersebut, pria yang tidak dikenalinya itu meminta syarat kepada Alimin. Syarat yang membuat Alimin tersadar dan memutuskan untuk menyumpah-serapahi pria itu.

Syaratnya aku harus telanjang bulat di kamarnya. Pas bilang begitu, orang itu sambil mencoba meraba kemaluanku. Dari situ aku langsung sadar, ini orang nggak beres, jelas Alimin sambil menundukkan kepala.

Aku langsung misuh dan marah-marah to , Mas. Terus aku bilang sama orang itu, pokoknya jangan cari-cari aku lagi. Intinya gitu lah. Terus pas aku ambil motor mau pergi dari rumahnya, orang itu keluar rumah sambil ngancam-ngancam mau ngerusak hidupku, imbuhnya.

Beberapa hari usai kejadian mengerikan itu, Alimin mulai merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Dan setelah dicek ke seorang kiai di kecamatannya, ternyata Alimin ketempelan demit perempuan dengan aura yang menurut penuturan Pak Kiai, sangat panas. Masa-masa ketempelan demit itu membuat Alimin benar-benar sangat tersiksa. Lebih-lebih energi demit tersebut sangat kuat sehingga sukar dikeluarkan dari tubuh Alimin.

Di lain waktu, persisnya pada Kamis (28/10/2021) malam saya bertemu dengan narasumber saya yang lain, yaitu Hasan (49), tentu nama samaran, di salah satu desa di Kecamatan Sluke, Kabupaten Rembang.

Pukul 18.30 WIB, kami berbincang-bincang di teras rumah Hasan sambil ditemani gerimis yang turun tipis-tipis. Aku malah nggak tahu pernah punya masalah sama siapa, Ly. Tahu-tahu malah anakku dikirimin demit. Sampai sekarang pun aku ini masih nggak tahu siapa yang tega melakukan ini ke anakku, tutur Hasan setelah sebelumnya menunjukkan foto putrinya, sebut saja Laila (19) yang saat ini masih menjalani pengobatan di sebuah pesantren di pelosok desa Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang.

Hasan membeberkan, awal mula ia menyadari keanehan pada anaknya adalah pada awal tahun 2019. Baru seminggu masuk di salah satu pondok pesantren di Kota Demak, Laila dilaporkan sering pingsan dan sakit-sakitan. Pihak keluarga lantas memutuskan untuk menjemput Laila dan membawanya ke rumah sakit.

Anehnya, dari hasil pemeriksaan medis tidak ditemukan satu jenis penyakit pun. Dokter yang menangani Laila mengatakan kalau Laila hanya kurang makan saja sehingga gampang lemas.

Penjelasan tersebut mulanya bisa diterima begitu saja oleh Hasan. Ia maklum, namanya hidup di pesantren pastinya memang harus hidup serba tirakat. Termasuk di antaranya adalah kurang makan.

Maka seminggu setelahnya, ketika Laila sudah segar bugar, Hasan megantarkan Laila kembali ke pesantren. Kala itu, belum sampai satu minggu dan Hasan sudah mendapat kabar kalau Laila kejang-kejang.

Dari situ aku mulai curiga, ini pasti ada yang nggak beres. Dan bener. Pas minta Pak Yainya untuk menerawang, ternyata di dalam tubuh anakku ada demit perempuan. Energinya sangat panas. Jadi kalau misalnya berada di dalam lokasi pondok, pasti akan berontak. Efeknya anakku dibikin kejang-kejang, turut Hasan dengan asap Surya 12 yang mengepul dari celah bibirnya.

Aku sampai sekarang itu masih bertanya-tanya, siapa to jane yang ngirim-ngirim beginian ke anakku? Keluarga kami sebenarnya salah apa gitu loh, tambahnya dengan mata memerah, antara marah dan sedih yang berpadu jadi satu.

Mengalami siksaan demi siksaan fisik

Sebelum menyadari bahwa di dalam tubuhnya ada demit perempuan, awalnya Alimin sudah merasakan beberapa keanehan dalam dirinya. Ia mengaku sering mendengar jeritan, kadang tangisan, kadang tawa cekikian seorang perempuan persis di telinga kirinya.

Lalu lambat laun Alimin merasakan hari demi hari pundaknya terasa berat, panas, dan sakit luar biasa. Awalnya ia mengira bahwa yang ia rasakan itu efek capek belaka. Mengingat dulu jam sekolahnya teramat padat, ditambah dengan jarak SMA dengan desanya yang lumayan jauh. Sehingga memang amat menguras tenaga.

Tapi rasa sakit, berat, dan panas di pundak alimin mulai menjalar ke punggung dan kakinya. Bahkan kepalanya pun sering pusing. Lebih-lebih saat ia mengaji atau berjamaah di masjid, atau minimal ketika ia salat dan mendaras Al-Quran di rumahnya sendiri, rasa sakit dan panas itu terasa semakin menjadi-jadi.

Jadi kalau habis ngaji atau habis salat gitu aku mesti langsung tepar, Mas. Kayak tenagaku tersedot habis. Rasanya sakit banget, panas. Tapi waktu itu aku belum berani cerita ke ibuk. Aku cuma cerita ke Anwar. Aku juga sudah curiga sih kalau yang aku alami ini mesti ada hubungannya sama pria aneh yang aku temui itu, jelasnya.

Satu sisi, Anwar yang duduk di sebelah kanan saya membenarkan apa yang diceritakan Alimin. Ia lah yang kemudian membuat Alimin mantap untuk bertemu seorang kiai terkenal di kecamatannya agar bisa diobati.

Karena kalau dari mataku ini ya, kondisi Alimin sudah ngeri. Aku kan sering diminta dia buat mijet bagian pundak yang sakit itu to sambil kubaca-bacakan ayat-ayat Al-Quran. Tiap kali dipijit suhunya langsung naik, jadi panas. Badanku juga jadi ikut-ikutan panas, ungkap Anwar.

Tak hanya itu, kepribadian Alimin juga berubah drastis. Dari yang semula merupakan pribadi yang santun dan religius, mendadak jadi sosok yang temperamental dan urakan. Setidaknya demikianlah pengakuan dari Alimin dan Bu Maslihah (nama samaran), ibu Alimin.

Aku ngelihat Alimin ini sudah bukan kayak Alimin yang ibuk kenal. Aku loh Mas sempet dibentak dan nyaris dipukul sama Alimin. Entah karena apa waktu itu aku kok lupa. Aku nggeh keronto-ronto. Wong Alimin selama ini nggak begitu kok tiba-tiba jadi begitu, ucap Bu Maslihah sambil melirik ke arah Alimin yang duduk di sebelah kanannya.

Kejadian itu terjadi selama hampir tiga bulanan sejak Alimin bertemu dengan pria aneh sebelumnya. Setelah orang tuanya tahu, ia lalu dibawa ke seorang kiai yang direkomendasikan oleh Anwar. Dan diketahuilah kalau ada demit perempuan di tubuh Alimin. Lalu Alimin menjalani sejumlah tirakat untuk mengeluarkan demit tersebut dari dalam tubunya.

Sementara itu, kondisi yang dialami Laila jauh lebih buruk dari itu. Mengikuti saran dari beberapa orang, Hasan membawa Laila berpindah dari satu orang pinter ke orang pinter lain. Namun rata-rata mengaku tidak sanggup lantaran kalah tua dengan orang yang mengirim demit tersebut. Para orang pinter yang didatangi Hasan pun rata-rata tidak bisa menerawang siapa sebenarnya yang mengirim demit tersebut kepada Laila. Mereka hanya bisa menyimpulkan, dari energi si demit yang bersemayam di tubuh Laila, kemungkinan besar orang yang mengirimnya pun berilmu hitam tinggi.

Saran orang-orang aku pakai semua, Ly. Pokoknya bagaimana caranya anakku bisa sembuh. Aku bahkan sempet ketipu sama dukun gadungan. Rp7 juta ludes cuma buat bayar dukun abal-abal itu. Hasilnya kosong, anakku malah makin parah, akunya.

Hasan lalu memasukkan Laila ke pesantren-pesantren yang menurut keterangan beberapa orang diasuh oleh kiai yang bisa mengatasi gangguan-gangguan gaib. Tragisnya, dari total lebih dari lima pesantren yang ia coba, tidak satupun yang membuahkan hasil.

Apa yang terjadi pada Laila pun terus berulang. Tidak sampai lebih dari tiga hari berada di pesantren, ia pasti akan kejang-kejang lagi. Begitu terus di setiap pesantren yang ia tempati. Bahkan pernah suatu ketika ia tiba-tiba kejang dan tidak bernapas sama sekali selama hampir satu menit. Peristiwa yang membuat Hasan menangis histeris. Namun syukurnya, Laila tiba-tiba bernapas lagi.

Pingsan, kejang, muntah darah. Sering banget anakku ngalamin itu, ucap Hasan mengenang peristiwa demi peristiwa yang pernah terjadi pada Laila.

Aku itu kan gini loh, Ly, anakku itu pengin banget mondok, pengin kayak mbaknya yang sudah hapal 30 juz. Tapi tiap masuk pondok mesti langsung begitu. Hatiku nggak karu-karuan. Nggak tahu harus gimana lagi nyembuhin Laila, katanya dengan nada suara yang agak menurun.

Setengah tahun Hasan mencari-cari jalan kesembuhan untuk Laila, lalu ia bertemu dengan seorang paranormal muda asal Kecamatan Pamotan.

Hasan bercerita, pernah suatu kali demit yang berada di tubuh Laila dimediasi. Dan setelah ditanya-tanya, demit tersebut tidak mau menyebutkan nama orang yang telah mengirimnya. Ia hanya mengatakan kalau ia menyukai tubuh Laila dan ia sudah menyatu denganya. Sehingga ia tidak bisa lepas begitu saja dari tubuh Laila.

Seturut keterangan Hasan, si paranormal pun tidak bisa berbuat banyak. Pasalnya, antara si demit dan Laila, konon katanya, memang sudah nyaris menyatu. Gambaran mudahnya kira-kira seperti symbiote Venom yang menempel pada tubuh Eddie Brock (Tom Hardy) dalam film Venom. Jadi misalnya si paranormal mencoba menggunakan cara-cara kasar dan menyakitkan, yang merasakan sakitnya bukan hanya si demit, tapi juga Laila. Maka benar-benar nyaris tidak ada jalan keluar sama sekali.

Karena waktu itu pengaruh si demit ini sudah merasuk ke sifat anakku. Laila ini berubah jadi emosian, gak kenengan. Suka tiba-tiba emosi-emosi sendiri. Kalau sudah begitu, isi rumah bisa diocar-acir. Baju-baju di lemari dilempar keluar semua, piring-piring dibanting, dan nggak jarang teriak-teriak nggak jelas. Aku pengin putus asa rasane . Tapi nggak tega lihat anakku kayak gitu, ujarnya sebelum menyulut sebatang Surya 12-nya lagi.

Tirakat mengeluarkan demit dari tubuh

Setelah tiga bulan mengalami kondisi yang sangat menyiksa tubuhnya, Alimin lalu menjalani rangkaian tirakat dari kiai yang mengobatinya. Ia harus menjalani puasa putih selama tujuh hari. Kemudian disambung lagi dengan puasa biasa selama tujuh hari pula. Di sela-sela itu, selama satu bulan Alimin diminta untuk sering-sering beriktikaf di masjid tiap malam. Ia juga diharuskan malafalkan zikir dan membaca surat-surat tertentu dalam Al-Quran yang diberikan oleh Pak Kiai.

Makin tersiksa ya jelas makin teriksa. Secara, demit yang ada di tubuhku langsung bereaksi tiap kali aku melakukan hal-hal yang berbau ibadah. Rasanya panas, sakit, linu, campur aduk lah pokoknya. Tapi namanya orang pengin sembuh ya tetep kujalankan perintah dari Pak Kiai, akunya.

Apalagi pas bagian puasa putih. Berat poll itu. Tujuh hari puasa dan buka cuma pakai nasi dan air thok . Enek. Tubuh juga makin lemes. Tapi mau gimana lagi, ikhtiar, imbuhnya.

Dalam kurun satu bulan masa tirakat itu pula, tiap malam Jumat ia diwajibkan datang ke rumah kiai tersebut untuk melakukan zikir dan munajat.

Kata Pak Kiai, demit itu nggak akan betah tinggal di tubuh orang yang tiap harinya istikamah ibadah kepada Gusti Allah. Jadi ya yang aku lakukan pada saat itu, kata Pak Kiai lagi, ya anggap saja sebagai upaya untuk membuat demit di tubuhku nggak betah dan akhirnya keluar, terang Alimin.

Lewat satu bulan, setelah menghitung malam yang baik berdasarkan hitungan kalender Jawa, kiai tersebut pun mulai melakukan ritual pembersihan tubuh Alimin.

Alimin dimandikan dengan air yang sudah dicampur dengan minyak misk dan telah dibacakan doa-doa.

Alimin mengaku merasakan dingin menusuk saat ia dimandikan oleh kiai tersebut. Lalu perlahan-lahan ia merasakan tubunya terasa semakin ringan dan semakin ringan. Hingga saat satu cidukan terakhir, kiai yang memandikan Alimin mengatakan bahwa dirinya telah terbebas dari demit yang selama ini menempel pada tubuhnya.

Setelah itu Pak Kiai melakukan ritual untuk menutup lubang gaib di tubuhku yang sudah terbuka. Terus katanya sih aku ini sudah dipagari, jadi nggak bisa ada yang masuk lagi. Tapi ya tentu aku juga harus tetep istikamah ibadah, jelasnya. Alhamdulillah, setelah itu berangsur-angsur badanku jadi enakan lagi. Lebih enteng, sambungnya menambahkan.

Setelah prosesi pembersihan dan pengeluaran demit itu, kiai yang menangani Alimin berujar bahwa demit yang selama ini menempeli Alimin sudah dikembalikan kepada si pengirim. Kiai tersebut, seturut keterangan Alimin, katanya juga sudah memberi pesan secara gaib kepada si pengirim agar tidak mengganggu Alimin lagi.

Kejadian itu memang sudah bertahun-tahun lalu. Tapi kadang masih suka parno saja, Mas. Takut kalau-kalau orang itu berulah lagi ke aku. Masih sering kebayang saja raut wajahnya pas ngancam mau merusak hidupku, tandasnya.

Adapun untuk Laila, akhirnya di awal tahun 2020 Hasan bertemu dengan seorang kiai yang memiliki pondok pesantren di pelosok Desa Pamotan, Rembang. Kiai tersebut, seturut pengakuannya, adalah rekomendasi dari si paranormal muda yang membantunya sebelumnya.

Hasan sempat ragu ketika hendak membawa Laila ke pondok pesantren tersebut. Karena jika berkaca dari yang sudah-sudah, tiap kali Laila masuk pesantren hasilnya pasti akan semakin memburuk dan tidak terkendali.

Anehnya, Ly, pas aku bawa ke pondok itu kok ternyata demitnya nggak bereaksi. Kayak tunduk sama Mbah Yai itu. Jadinya aku langsung srek, mantep buat naruh Laila di situ, sampai sekarang juga masih di situ, ungkapnya.

Sebenarnya Mbah Yai pengasuh pondok tersebut mengatakan ada cara yang lebih cepat untuk menyembuhkan Laila. Yakni dengan menikahkan Laila dengan laki-laki yang secara level keilmuan lebih tinggi dari Laila. Misalnya, beberapa kali Laila hendak ditawari Mbah Yai itu untuk dinikahkan dengan santrinya yang penghapal Al-Quran.

Namun mengingat usia Laila yang masih 19 tahun dan menimbang tekadnya yang masih ingin menimba ilmu lebih lama di pondok pesantren, maka pihak Hasan dan keluarga mencoba untuk menolaknya secara halus. Lebih-lebih Laila sendiri mengaku belum siap jika harus menikah di usianya yang masih segitu.

Risikonya ya Laila memang harus di pondok itu lebih lama untuk menjalani beberapa metode pengobatan. Aku sendiri nggak pernah tahu metodenya seperti apa. Pokoknya aku pasrahkan saja kepada Mbah Yai. Soalnya sedikit-sedikit ada kok hasilnya, ujar Hasan.

Cuma memang satu yang masih ngganjel banget di pikiranku sampai sekarang ini. Sebenarnya siapa to yang tega betul melakukan ini ke anakku? Keluargaku punya salah apa to ke dia, ucapnya getir.

Artikel Asli