Jangan Disepelekan! Pola Asuh Ini Bisa Ganggu Kesehatan Mental Anak, Harus Diubah Ya Moms

Gaya Hidup | herstory | Published at Kamis, 11 November 2021 - 16:05
Jangan Disepelekan! Pola Asuh Ini Bisa Ganggu Kesehatan Mental Anak, Harus Diubah Ya Moms

Pola asuh merupakan suatu proses penting yang bertujuan untuk meningkatkan serta mendukung perkembangan seorang anak.

Menerapkan pola asuk anak yang baik memang bisa menjadi hal yang menantang. Bagimanapun, pola asuh terutama di masa kanak-kanak akan berpengaruh pada kepribadian anak di masa depan.

Melansir dari Times of India pola asuh juga berpengaruh pada kesehatan mental. Dalam hal ini, berikut beberapa pola asuh yang bisa memengaruhi kesehatan mental anak, antara lain:

1. Mengabaikan emosi anak

Anak-anak memiliki niat murni. Jadi apapun yang mereka rasakan memiliki esensi sejatinya sendiri. Mengabaikan perasaan dan ekspresi mereka hanya akan menghancurkan rasa individualitas mereka.

Pola asuh ini akan membuat anak-anak lebih ragu-ragu dan berkontribusi dalam memicu kecemasan. Oleh karena itu, sebagai orangtua Anda jangan pernah menganggap remeh emosi anak.

2. Meremehkan keputusan dan pilihan anak

Sebagai orangtua, Anda memiliki hak untuk turun tangan ketika anak Anda gak dapat membuat keputusan. Namun, daripada meremehkan apa yang ada dalam pikiran mereka, pikirkan cara untuk mengarahkan mereka ke pilihan hidup yang dirasa paling baik untuk mereka.

Jika Anda meremehkan keputusan mereka, kemungkinan mereka akan menyimpan semuanya di masa depan dan gak akan mengungkapkan keinginan pribadi mereka.

3. Menuntut kesempurnaan

Anak-anak harus diajari untuk bercita-cita tinggi, tetapi Anda tentu nggak boleh memaksa. Banyak orangtua, menginginkan yang terbaik untuk anak-anak mereka, menuntut dan mengharapkan kesempurnaan dari anak-anak.

4. Memaksa mereka untuk mematuhi nilai dan norma dari konstruksi sosial

Sering kali anak-anak memiliki cara mereka sendiri untuk berekspresi dan ada beberapa yang menurut masyarakat berbeda. Anda harus menerapkan diri bahwa berbeda bukan berarti salah, meski menurut norma dan aturan yang dibangun secara sosial kadang sulit diterima.

Misalnya, jika seorang anak laki-laki ingin belajar balet dan mengenakan pakaian berwarna merah muda maka biarkanlah.

Artikel Asli