Pengembangan Fitofarmaka jadi Solusi Tekan Ketergantungan Obat Impor

Gaya Hidup | bisnis.com | Published at Kamis, 11 November 2021 - 12:15
Pengembangan Fitofarmaka jadi Solusi Tekan Ketergantungan Obat Impor

Bisnis.com, JAKARTA Wakil Menteri Kesehatan RI, dr. Dante Saksono Harbuwono mengatakan, penggunaan alat kesehatan masih didominasi oleh produk impor, demikian pula dengan penggunaan obat impor di Indonesia juga masih cukup tinggi. Menurutnya, produksi dalam negeri sebenarnya sudah cukup tinggi, tetapi bahan baku yang digunakan masih berasal dari luar negeri.

Dari 10 molekul obat dengan konsumsi terbesar, baru 4 obat yang bahan bakunya mampu diproduksi di dalam negeri. Sehingga apabila kita ingin melakukan ketahanan di bidang farmasi, yang harus kita perkuat adalah industri kimia di hulu.

Industri kimia ini menjadi sangat penting supaya kita bisa melakukan transformasi lebih cepat dan kita lebih mandiri. Kalau ada lagi masalah yang membuat kita menjadi tergantung pada negara lain, ini bisa kita hindari kata dr. Dante dalam Forum Nasional Kemandirian dan Ketahanan Industri Sediaan Farmasi, dikutip Kamis (11/11/2021).

Sayangnya, bahan baku obat masih belum dapat diproduksi cukup banyak. Padahal, pengembangan bahan baku obat, obat esensial dan produk biologi dalam negeri menjadi sangat penting. Dia menyampaikan, dari 10 molekul obat , baru 4 yang bisa diproduksi di Indonesia. Oleh karena itu, ini menjadi pr untuk kita semua, untuk melakukan transformasi, tidak saja sebagai negara konsumen tetapi sebagai negara produsen.

Dia mengatakan bahwa pihaknya telah berdiskusi dengan Kementerian Perindustrian bahwa sebenarnya memproduksi bahan baku obat merupakan hal yang sederhana. Nantinya, lanjut dr. Dante, Kementerian Kesehatan akan memberlakukan bahwa bahan baku obat tersebut memiliki harga yang lebih murah dibandingkan dengan bahan baku obat yang diimpor.

Menurutnya, ini adalah hal yang penting. Karena, jika bahan baku obat sudah diproduksi, namun tidak ada industri farmasi yang menggunakan ini akan menjadi mubazir.

Jadi kita akan melakukan penguatan dengan melakukan berbagai macam instrumen-instrumen kebijakan sehingga bahan baku yang diproduksi di dalam negeri harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan bahan baku obat yang harus diimpor, jelasnya.

Sementara itu, dr Dante menyatakan bahwa pengembangan fitofarmaka menjadi fokus utama dalam ketergantungan kita terhadap obat-obatan yang saat ini masih diimpor.

Pengembangan fitofarmaka tersebut berdasarkan terapeutik area dan ketersediaan bahan baku alam yang banyak sekali diversitynya di negara kita. Jamu, obat herbal terstandar (OHT) dan fitofarmaka ini akan menjamin keamanan kita dalam melakukan transformasi kesehatan di masa depan, ungkapnya.

Tetapi dia mengakui bahwa prosesnya tentu tidak sederhana, butuh proses analisis, penelitian, dan ini akan melibatkan berbagai macam sektor dan kerjasama secara sinergis. Baik dengan peneliti, industri, perguruan tinggi, dan Kementerian Kesehatan.

Saat ini, sudah ada beberapa terapeutik area yang sudah diproduksi di Indonesia, seperti immunomodulator, tukak lambung, antidiabetes, antihipertensi, melancarkan sirkulasi darah dan meningkatkan kadar albumin. Juga, akan dikembangkan beberapa obat lain dan ada beberapa obat yang nanti mungkin akan dikembangkan dalam bentuk produk fitofarmaka.

Dia berharap, industri fitofarmaka Indonesia di masa depan nantinya dapat mengikuti jejak Perancis yang mampu membuat obat diabetes metformin yang dulunya adalah obat yang berasal dari daun yang diproduksi sebagai fitofarmaka. Dan lebih dari 50 tahun digunakan, metformin ternyata sudah bisa digunakan sebagai obat yang diekstrak unsur kimiawinya secara spesifik.

Artikel Asli