Tantangan dan Ancaman di Perkotaan

koran-jakarta.com | Gaya Hidup | Published at Jumat, 15 Oktober 2021 - 00:00
Tantangan dan Ancaman di Perkotaan

Orang-orang yang tinggal di perkotaan menghadapi banyak tantangan yang mengancam kesehatan mental mereka. Di negara-negara di mana jumlah orang yang tinggal di perkotaan relatif lebih tinggi, tingkat depresi, kecemasan, dan kecanduan umumnya lebih umum.
Di tengah meningkatnya insiden gangguan mental umum dan urbanisasi yang sedang berlangsung di seluruh dunia, ada kebutuhan mendesak untuk lebih memahami interaksi dinamis antara bidang-bidang ini.
Inilah yang dikatakan peneliti Center for Urban Mental Health (UMH) dari Universiteit van Amsterdam, Belanda, dalam makalah mereka yang berjudul Advancing urban mental health research: from complexity science to actionable targets for intervention yang dipublikasikan di The Lancet Psychiatry edisi 7 Oktober lalu.
Dalam makalahnya, para peneliti menekankan urgensi situasi dan menyajikan kerangka konseptual baru untuk mengidentifikasi metode pencegahan dan pengobatan baru untuk gangguan mental umum dalam konteks perkotaan.
"Kehidupan di perkotaan menarik dalam banyak hal, tetapi juga memiliki berbagai kerugian yang tidak disengaja," kata Junus van der Wal, penulis utama makalah ini. "Banyak pengetahuan telah terakumulasi tentang sejauh mana kerugian ini dalam dan dari diri mereka sendiri terkait dengan gangguan mental. Tetapi untuk benar-benar memahami apa pengaruh hidup di perkotaan yang sibuk terhadap kesehatan mental Anda, Anda perlu mempelajari semua faktor tersebut bersama-sama," imbuh dia.
Dalam tinjauan makalahnya, Van der Wal dan rekan-rekannya mengidentifikasi sejumlah besar faktor yang mempengaruhi lingkungan perkotaan dan akibatnya yang dapat mempengaruhi kesejahteraan mental masyarakat.
Dalam makalahnya, Van der Wal dan rekan-rekannya memberi contoh dengan mengambil sosok fiktif yang mereka beri nama Jane untuk memperjelas bagaimana berbagai faktor dapat berinteraksi dan betapa pentingnya untuk melihat hubungan antar faktor.
Jane yang tinggal di kota besar di lingkungan yang sedikit sekali tanaman hijau. Flatnya dekat dengan jalan raya yang ramai. Jane berpenghasilan rendah, jadi dia sering stres tentang uang. Kebisingan lalu lintas yang konstan mengganggu tidurnya dan menyebabkan insomnia. Akibatnya, kinerja kerjanya menderita, yang selanjutnya meningkatkan tekanan terkait masalah keuangannya. Selain itu, polusi udara dari lalu lintas di jalan yang sibuk dapat mempengaruhi fungsi otak Jane.
"Sering ditemui ada pengulangan umpan balik dalam model ini. Jika banyak orang di daerah tersebut memiliki masalah kesehatan mental, ini dapat berdampak negatif pada kohesi sosial lingkungan yang pada gilirannya dapat berdampak negatif pada penghuninya," kata Claudi Bockting, co-director UMH dan profesor Psikologi Klinis dalam Psikiatri.
"Namun, jika kota tempat tinggal Jane berinvestasi dalam pembangunan berkelanjutan, misalnya dengan membuat taman di antara gedung tempat tinggal Jane dan jalan raya yang ramai, ini dapat membantu Jane. Intervensi semacam ini dapat mengurangi stres dan kemacetan lalu lintas, mungkin meningkatkan kohesi sosial di lingkungan sekitar dan membantu menangkal polusi udara," imbuh dia.
Sementara itu Reinout Wiers, profesor Psikopatologi Perkembangan dan co-direktur UMH, menambahkan bahwa dalam makalah mereka telah disajikan kerangka konseptual baru untuk semua penelitian masa depan tentang kesehatan mental di lingkungan perkotaan.
"Hanya pendekatan ini yang akan memungkinkan kita untuk melihat bagaimana semua faktor berinteraksi dan mempengaruhi individu, dan juga untuk menghasilkan intervensi dan perawatan yang ditargetkan untuk meningkatkan kesehatan mental penduduk kota," pungkas Wiers. I-1

Artikel Asli