Review: Dune, Babak Awal Perjalanan Paul Atreides dalam Visual Memukau

journal.sociolla.com | Gaya Hidup | Published at Minggu, 10 Oktober 2021 - 15:00
Review: Dune, Babak Awal Perjalanan Paul Atreides dalam Visual Memukau

Diadaptasi dari novel karya Frank Herbert dalam judul yang sama, Film Dune karya sutradara Denis Villeneuve ( Arrival, Blade Runner 2049 ) mampu memberikan pengalaman sinematik yang memanjakan mata. Bahkan setelah film usai saya diburu rasa tak sabar untuk menantikan sekuelnya.

Sinopsis film

review dune

Berlatar waktu di masa depan umat manusia, Film Dune bercerita tentang Duke Leto Atreides (Oscar Isaac) Pemimpin dari House Atreides yang menerima tawaran untuk mengelola rempah yang ada di planet gurun berbahaya, Arrakis, atau dikenal sebagai Dune.

Di masa ini rempah-rempah jadi salah satu sumber zat paling berharga di alam semesta. Rempah bisa menjadi obat yang memperpanjang hidup manusia, hingga membuat perjalanan antar galaksi jadi lebih cepat melebihi kecepatan cahaya.

review dune

Meski begitu Duke Leto menyadari kesempatan meraup rempah di Arrakis bisa menjadi jebakan yang berbahaya, selain keberadaan cacing pasir raksasa yang hidup di bawah pasir, ada juga ancaman dari House Harkonnen. Kerajaan galaksi yang sebelumnya sempat menguasai Arrakis, namun memilih hengkang dari wilayah tersebut tanpa alasan jelas.

review dune

Sebelum keluarga Atreides berpindah ke Arrakis, Duncan Idaho (Jason Momoa) yang menjabat sebagai S wordmaster sudah lebih dulu mengunjungi Arrakis dan memastikan kondisi wilayah tersebut cukup kondusif untuk dihuni keluarga Atreides.

review dune

Perpindahan ini membuat Leto turut membawa selir Bene Gesserit-nya Lady Jessica (Rebecca Ferguson) dan putra semata wayangnya, Paul Atreides (Timothe Chalamet). Selain itu ada pula Master of Assasins , Thufir Hawat (Stephen Henderson), Doctor Yueh (Chang Chen) dan Warmaster Gurney Halleck (Josh Brolin).

review dune

Namun, sesuai prediksi Leto, saat berada di Arrakis, House Atreides harus menghadapi pengkhianatan pahit, yang membuat Paul dan Jessica harus bertahan hidup dan membawa mereka bertemu dengan Fremen, penduduk asli Arrakis yang tinggal di gurun dalam.

Visual yang memanjakan mata

review dune

Karya Villeneuve merupakan remake dari film Dune yang pernah tayang tahun 1984 melalui sutradara David Lynch. Dengan era yang lebih maju dan teknologi visual effect mumpuni, tak mengherankan jika film Dune (2021) mampu menawarkan tampilan visual yang memukau. Villeneuve berhasil menghadirkan tampilan kehidupan di era tahun sepuluh ribuan, lengkap dengan berbagai teknologinya.

Atmosfir dari film Arrival yang pernah disutradarainya sesekali masih saya rasakan, namun tentu saja Dune punya gaya berbeda karena dalam film berdurasi 2 jam 35 menit ini penonton akan dimanjakan dengan sinematik wilayah Arrakis berupa gurun pasir luas yang meski terkesan tenang, tapi memiliki ancaman di bawahnya.

Di samping itu scoring dari Hans Zimmer turut mempertegas suasana yang dibangun, membuat penonton ikut larut, dan terpukau dengan tampilan kehidupan yang disajikan dalam Dune .

Hadirkan kisah yang kompleks dan padat

review dune

Sejatinya kisah Paul Atreides dalam novel Dune milik Frank Herbert hadir dalam 6 seri. Maka tak mengherankan jika film Dune memiliki kisah yang cukup kompleks dan menghadirkan pengenalan tentang banyak hal sebagai kisah pembuka.

Saya sendiri cukup keteteran di awal karena harus menghafal apa itu Atreides, Arrakis, Harkonnen, dan lain-lain. Terlebih saya tidak pernah membaca novel Dune , atau menyaksikan film Dune terdahulu. Namun dengan menyederhanakan dan berfokus pada keluarga Atreides serta Paul, saya mulai bisa mengikuti alurnya.

Selain kisah yang kompleks, film Dune punya sederet aktor A-list yang jadi nilai plus, sekaligus minus. Iya, cukup banyak tokoh yang dijajarkan atau dikenalkan sebagai awal film, namun ada sedikit kekurangan dalam pendalaman karakter. Entah karena serba cepat, atau mengambil porsi Paul dan mimpinya lebih banyak, karakter pendukung dari House Atreides serasa lewat begitu saja. Mungkin hanya Duncan Idaho yang bisa meninggalkan kesan emosional.

Pendapat saya

Secara keseluruhan Dune mampu menyentuh ekspektasi saya ketika kali pertama melihat trailer -nya di tahun lalu. Film ini terasa megah, dengan sajian visual memukau. Sangat sayang kalau harus disaksikan melalui layar laptop, kamu wajib menontonnya di bioskop.

https://www.youtube.com/watch?v=8g18jFHCLXk

Dari sisi jalan cerita, alur Dune tidak membosankan. Konflik, adegan aksi, semua dibangun dalam momen yang pas. Ketika alurnya sudah mulai 'adem', ada hal lain yang membuat penonton bisa kembali terpaku, merasa gemas, atau bahkan tidak sadar turut mengepalkan tangan. Selain itu perkembangan karakter Paul cukup terlihat, bagaimana sosok pria muda yang ceria ini perlahan berubah menjadi karakter pemimpin House Atreides, hingga digadang sebagai Kwisatz Haderach.

Namun, bila membahas kekurangannya, secara pribadi saya merasa visualisasi mimpi Paul mengambil porsi terlalu banyak, hampir saya mengira karakter Chani yang diperankan Zendaya akan muncul di awal. Terlebih visualisasi mimpi Paul lebih mengarah pada sosok Chani, yang kemudian membuat saya berpikir, "Apa dunia yang dibangun dalam Dune hanya sebatas pertemuan kisah cinta Paul dan Chani?" (mohon diingat, saya tidak membaca novelnya).

Well , secara keseluruhan saya akan memberi Dune nilai 8/10. Sebagai kisah pembuka film ini dikemas dalam visual yang memanjakan mata, pendalaman karakter Paul yang begitu baik, serta pertemuan dengan kaum Fremen sebagai titik awal perjalanannya. Film ini mampu menawarkan banyak hal menarik dalam dunia galaksi Dune, hingga membuat penonton merasa tidak sabar untuk bisa segera menyaksikan sekuelnya.

Kamu bisa menyaksikan film Dune mulai tanggal 13 Oktober di bioskop kesayangan dengan rate film semua umur.

All image sources

Artikel Asli