Yellowstone Meletus Lebih dari Sekali

Gaya Hidup | koran-jakarta.com | Published at Senin, 04 Oktober 2021 - 00:00
Yellowstone Meletus Lebih dari Sekali

Banyak orang mengira setelah letusan gunung api super atau supervulkan terjadi, maka selanjutnya tidak akan terjadi lagi. Meski demikian setelah letusan super sekali atau bahkan dua kali di masa lalu, biasanya letusan selanjutnya tidak akan sebesar yang sebelumnya.
Para ilmuwan telah mengidentifikasi hanya 42 letusan yang berperingkat Volcanic Explosivity Index (VEI) dari peringkat 7-8 dalam waktu 36 juta tahun terakhir. Bahkan letusan Gunung Krakatau yang dahsyat dan menghancurkan wilayah sekitarnya pada 1883 peringkatnya baru berada pada VEI 6, sedangkan Gunung Tambora di Sumbawa berada pada peringkat VEI 8.
Menurut institusi Survei Geologi Amerika Serikat (United States Geological Survey/USGS), gunung berapi dianggap super jika memiliki setidaknya satu ledakan yang melepaskan lebih dari 240 mil kubik material. Letusannya dalam ukuran magnitudo berada pada peringkat delapan, peringkat tertinggi pada indeks VEI yang umum untuk mengukur daya ledak letusan.
Para ilmuwan telah mengidentifikasi hanya 42 letusan yang berperingkat VEI dari peringkat 7-8 dalam waktu 36 juta tahun terakhir. Dengan letusan yang dahsyat, dampaknya bermacam-macam mulai dari longsoran batu panas dan gas yang mengalir di sisi gunung berapi hingga perubahan iklim global. Dampaknya juga bisa berupa kelaparan dan kematian karena kegagalan panen.
Menurut sebuah penyelidikan oleh ahli vulkanologi di laman Wired, Erik Klemetti, asal usul pengunaan istilah supervolcano amat minim pemaknaannya secara ilmiah dan pihak media ilmiah menggunakan istilah itu demi meraih sensasi. Istilah supervolcano sendiri diketahui untuk pertama kalinya muncul pada 1925 dalam catatan perjalanan Conquering the World milik Helen Bridgeman.
Pada akhir 1900-an, istilah itu mulai meningkat setelah program BBC Horizon meluncurkan film dokumenter bertajuk 2000 Supervolcanoes dan kemudian didukung oleh dokumenter 2005 yang dibuat oleh BBC dan Discovery Channel tentang supervolcano Yellowstone yang sekarang terkenal.
Yellowstone sekarang mungkin merupakan gunung berapi paling terkenal di dunia yang telah menghasilkan letusan VEI 8. Yellowstone diketahui pernah tiga kali meletus dengan letusan sangat besar dalam sejarahnya.
Gunung berapi itu meletus dengan kekuatan VEI 8 pada sekitar 2,1 juta dan 640.000 tahun yang lalu, dan satu letusan VEI 7 pada 1,3 juta tahun yang lalu, mengeluarkan 67 mil kubik material. Dalam film tersebut, Yellowstone meletus lagi untuk kali kedua menghasilkan sekitar 588 mil kubik material.
"(Ancaman letusan) Yellowstone masih ada dan belum ada alasan untuk meyakini bahwa (Yellowstone) akan meletus lagi," demikian pernyataan USGS.
Magma cair Yellowstone yang bersembunyi saat ini diperkirakan antara 5 dan 15 persen. Setiap letusan biasanya membutuhkan setidaknya 50 persen magma yang mengental. Pada kondisi itu letusan yang mungkin terjadi berupa semburan aliran lava batuan cair yang secara perlahan mengalir.
Sementara itu laman National Geographic menyebutkan ada banyak supervulkan di seluruh dunia selain Yellowstone, seperti Long Valley di California, Kaldera Aira di Jepang, Toba di Indonesia, dan Taupo di Selandia Baru. Supervolcano terakhir ini adalah yang terakhir yang pernah mengeluarkan letusan super sekitar 26.500 tahun yang lalu.
Letusan supervulkan terjadi karena adanya hot spot, yaitu naiknya gumpalan magma dari dalam Bumi. Titik panas menghasilkan jejak gunung berapi saat lempeng tektonik yang terus bergerak perlahan-lahan berbaris melintasi gumpalan yang sebagian besar tidak bergerak, seperti rantai panjang gunung berapi di Kepulauan Hawaii.
Supervulkan Toba terbentuk di sepanjang zona subduksi di mana satu lempeng tektonik jatuh di bawah yang lain. Saat daratan yang turun tenggelam jauh di bawah tanah, suhu dan tekanan naik, memaksa air keluar dari bebatuan. Air itu mengurangi titik leleh batuan di atasnya, membentuk magma yang dapat memicu letusan di masa depan.
Terlepas dari bagaimana magma terbentuk, gunung berapi membutuhkan banyak magma untuk menghasilkan letusan super. Saat magma terbentuk, tekanan di rongga bawah tanah meningkat. Letusan super membutuhkan banyak tekanan untuk benar-benar membuang kantong besar batuan cair melalui permukaan. hay/I-1

Artikel Asli