Awas, Risiko Sakit Jantung pada Anak Muda Meningkat

Gaya Hidup | bisnis.com | Published at Rabu, 29 September 2021 - 08:25
Awas, Risiko Sakit Jantung pada Anak Muda Meningkat

Bisnis.com , JAKARTA - Penyakit jantung sering kali diasosiasikan sebagai penyakit orangtua. Padahal, saat ini tren penyakit jantung pada anak muda terus meningkat.

Data World Heart Federation mencatat penyakit ini sebagai penyakit pembunuh nomor satu di dunia. Penyakit jantung sering kali disebut sebagai silent killer, karena dapat menyerang secara tiba-tiba.

Penyakit jantung juga termasuk dalam salah satu dari penyakit tidak menular (PTM) yang menurut data Kementerian PPN/Bappenas pada tahun 2019, terdapat tren pergeseran pola yang dahulu lebih sering dialami kelompok usia lanjut, namun sekarang mulai mengancam kelompok usia muda dengan kualitas kesehatan yang rendah.

Tren tersebut diperkirakan akan terus meningkat, melihat kondisi pandemi yang masih berlangsung hingga saat ini.

Salah satu penyebabnya adalah berkurangnya aktivitas fisik karena adanya pembatasan sosial sehingga meningkatkan risiko terkena penyakit jantung.

Selain itu, masyarakat juga menunda perawatan dan enggan mengakses layanan kesehatan karena khawatir tertular Covid-19.

"Tidak ada kata terlambat untuk melakukan perubahan, memulai sekarang lebih baik daripada tidak pernah memulai sama sekali. Tindakan pencegahan dini adalah perlindungan terbaik terhadap serangan jantung," kata Dr Seth Martin, ahli kardiologi dikutip dari siaran pers, Rabu (29/9/2021).

Menurut Seth, salah satu cara paling ampuh untuk mencegah serangan jantung adalah menjalani gaya hidup sehat, termasuk tidak merokok.

"Jika Anda belum pernah merokok, jantung Anda mungkin berada dalam posisi yang lebih sehat dibandingkan seseorang yang merokok," tambahnya.

Selain itu, mengatur pola makan, aktif bergerak dan berolahraga serta menghindari stres adalah langkah selanjutnya menuju hidup sehat dan bebas penyakit jantung.

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), setidaknya 15 dari 1.000 orang atau sekitar 2,7 juta penduduk di Indonesia menderita penyakit jantung.

Selain mengancam nyawa, penyakit jantung juga memakan biaya yang besar untuk pengobatan.

Untuk melakukan pengobatan, pasien perlu mengeluarkan biaya yang tinggi dalam jangka waktu yang panjang hingga tidak jarang harus menghabiskan tabungan atau sampai berhutang.

"Melihat mahalnya biaya pengobatan serta bahaya yang ditimbulkan oleh penyakit jantung, seharusnya masyarakat tersadar untuk lebih peduli terhadap kesehatan tubuh. Selain menjaga kesehatan, sebaiknya kita juga mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan memproteksi diri menggunakan asuransi kesehatan," kata Marco Japutra, Head of Health Business di Allianz Life Indonesia.

Artikel Asli