Euforia Met Gala dan Kenapa Kita Tertarik Pada Busana Yang Tidak Akan Pernah Kita Pakai

cultura.id | Gaya Hidup | Published at Minggu, 19 September 2021 - 17:36
Euforia Met Gala dan Kenapa Kita Tertarik Pada Busana Yang Tidak Akan Pernah Kita Pakai

13 September lalu, publik sibuk mengomentari busana kontroversial Kim Kardashian di Met Gala 2021. Busana serba hitam itu bahkan dijadikan meme yang tersebar luas di jagat maya. Tidak jarang juga yang bertanya-tanya tentang arti dari busana tersebut.

Baru-baru ini, Kim membeberkan arti sebenarnya dari busana yang ia kenakan. Meskipun pertanyaan publik terjawab, dapat dipastikan penampilan ini akan terus diingat dan dibicarakan internet di kemudian hari. Ajang tahunan yang kali ini bertema In America: A Lexicon of Fashion telah membuktikan bahwa hype untuk dunia fashion tidak berkurang bahkan di masa pandemi.

Pertanyaannya, kenapa publik peduli untuk mengurusi apa yang terjadi di Met Gala? Berbeda dengan pagelaran industri musik dan film misalnya, seperti Grammy Award dan Oscars, pagelaran fashion cenderung sulit untuk dimengerti maksudnya bagi masyarakat awam. Untuk itu, menarik untuk mengetahui apa yang menyebabkan hal ini dapat terjadi.

Kim Kardashian attends The 2021 Met Gala

Kim Kardashian attends The 2021 Met Gala (Photo by Theo Wargo/Getty Images)

Rasa Penasaran, Perilaku Konsumen, dan Sosial Media

Mari lihat mengapa publik begitu terobsesi dengan Met Gala dari bagaimana otak kita bekerja. Artikel popneuro.com yang bertajuk The Psychology of Curiosity and Its Influence on Met Gala Fashion dengan sistematis menjelaskan hubungan antara rasa penasaran manusia dan ajang penarik perhatian seperti Met Gala.

Pada 1950-an, psikolog Daniel Berlyne memperkenalkan konsep Theory of Curiosity. Dari penelitiannya, dirumuskan dua tipe rasa penasaran, yakni rasa penasaran yang beragam dan rasa penasaran spesifik.

Rasa penasaran yang beragam adalah kecenderungan individu untuk mencari kebaruan, resiko, dan petualangan. Sedangkan rasa penasaran spesifik lebih kepada memahami suatu objek tertentu dan keinginan untuk memahaminya lebih baik.

Berlyne juga mempelajari ragam stimulan yang menggerakkan rasa penasaran pada manusia, dan berkesimpulan bahwa objek yang kompleks, baru, tidak jelas, dan kontroversial melahirkan rasa penasaran.

Pada 1982, H. I. Day mengembangkan konsep Berlyn dengan membagi stimulan tersebut kedalam tiga zona. Zona pertama adalah Zone of Relaxation di mana objek yang menjadi stimulan sudah familiar dengan pengetahuan kita sebelumnya, sehingga tidak memantik rasa penasaran.

Kebalikan Zone of Relaxation adalah Zone of Anxiety, ketika objek tersebut terlalu asing sama sekali untuk kita, sehingga memberikan rasa khawatir dan takut.

Di tengah-tengahnya muncul Zone of Curiosity, yang mengkombinasikan rasa familiar dan hal-hal yang asing dengan cara yang menyenangkan. Pada zona ini otak kita disajikan resiko-resiko, tetapi masih berada di zona nyaman.

Bayangkan ketika kita sedang berada di bagian rendah dari sebuah bukit. Dari sini pemandangan sudah terlihat indah. Tetapi, ada gardu pandang yang menyajikan pemandangan baru dari tempat yang lebih tinggi. Kebanyakan orang akan pergi ke sana dengan harapan bisa melihat pemandangan yang lebih indah. Dalam hal ini, pergi ke gardu pandang berada dalam Zone of Curiosity.

Jika gardu pandang terlalu tinggi dan terlihat tidak aman, orang akan takut untuk pergi ke sana (Zone of Anxiety), sedangkan jika tinggi gardu pandang hampir sama dengan tempat di mana mereka berdiri sebelumnya, mereka tidak akan tertarik karena merasa pemandangan yang akan dilihat tidak jauh berbeda (Zone of Relaxation).

Zone of Curiosity ini kemudian banyak dipakai dalam industri hiburan dan marketing, yang akhirnya memunculkan perilaku konsumen. Untuk memunculkan rasa penasaran bagi para konsumen, pihak marketing harus membuat sebuah information gap (jarak antara apa yang sudah diketahui konsumen dan apa yang perlu diketahui oleh konsumen untuk menghasilkan sebuah aksi / keputusan) yang menarik.

Salah satu cara untuk menarik perhatian konsumen adalah dengan mengumbar informasi-informasi sedikit demi sedikit melalui iklan atau usaha promosi.

Sekarang mari kembali lagi ke Met Gala. Dengan sukses, Met Gala telah menempatkan dirinya dalam Zone of Curiosity. Met Gala menyajikan tampilan-tampilan yang tidak familiar, jauh dari busana sehari-hari yang dipakai konsumen. Sebab itu, hal ini telah menjauhkannya dari Zone of Relaxation. Di saat yang sama, busana-busana yang tidak biasa tersebut dipakai oleh selebriti yang mereka kenal, sehingga menjauhkannya pula dari Zone of Anxiety.

Tema-tema khusus diperkenalkan pula oleh Met Gala jauh sebelum ajang dilaksanakan. Strategi ini tentu saja sukses menjerah perhatian orang-orang dan menghasilkan rasa penasaran.

Rasa penasaran ini membuat publik tetap mengikuti perkembangan ajang ini, untuk memuaskan rasa penasaran mereka. Sejak penggunaan media massa menjadi masif, Met Gala juga telah memanfaatkan influencer sosial media untuk menambah antusiasme. Contohnya, konten-konten seperti best-dressed dan worst-dressed list yang muncul di internet pasca ajang dilaksanakan.

Berkenalan dengan Otak di Balik Sistem Met Gala

Bagaimana kita melihat dunia fashion sekarang jauh berbeda dengan 30 tahun kebelakang. Pada 1988, terjadi sebuah gebrakan kontroversial yang mengubah bagaimana fashion dimaknai oleh masyarakat.

Pada tahun itu, majalah Vogue dalam sampulnya menampilkan model Israel berusia 19 tahun yang mengenakan paduan busana yang inkonvensional. Pasalnya, ia mengenakan celana jins seharga 50$ dan juga kaos bertatahkan permata seharga 10.000$. Benar, fashion kelas bawah dan kelas atas secara gamblang dipadukan dalam sampul majalah ternama. Satu sosok dibalik gebrakan ini, Anna Wintour.

Anna Wintour Met Gala 2021

Anna Wintour di Met Gala 2021 (Photo Credit: AFP)

Ketika Vogue mulai kehilangan pegangannya, ditunjuklah Anna Wintour menjadi editor majalah ini. Mereka memberikan kebebasan sepenuhnya kepada Wintour untuk mengembalikan pamor Vogue. Dalam tiga dekade pasca penunjukkan itu, Wintour telah lebih dari berhasil memulihkan keunggulan Vogue.

Sepanjang perjalanan itu, Wintour menunjukkan keberanian untuk menyerukan diakhirinya era supermodel, menunjukkan preferensi untuk selebriti daripada model di sampulnya. Bisa dibilang, ia menjadikan fashion lebih dekat dengan publik. Revolusi Anna Wintour di bidang fashion kiranya dapat disandingkan dengan revolusi Andy Warhol dalam memperkenalkan pop art.

Hal yang sama dilakukannya kepada Met Gala sejak dirinya memegang kendali atas ajang ini pada 1995. Wintour meneruskan jejak pendahulunya di Met Gala, Diana Vreeland, dengan mengundang selebriti dan orang-orang di luar orang-orang industri fashion, tentu saja dengan langkah yang lebih bold.

Diaturnya tamu-tamu yang akan diundang, juga meja-meja ditata secara sistematis. Pengaturan meja ini sengaja dilakukannya untuk mempertemukan selebriti, desainer, ataupun brand supaya tercipta kerjasama-kerjasama yang menjanjikan. Dengan begini, muncul sebuah eksklusivitas baru. Karena itu, Met Gala berubah menjadi ajang yang dirasa wajib dihadiri oleh selebriti.

Billie Eilish Met Gala 2021

Billie Eilish di Met Gala 2021 (Photograph by James Devaney / Getty)

Sejak hadirnya selebriti di Met Gala menjadikan popularitasnya setingkat dengan Oscar, publik seakan tidak bisa dipisahkan dari pemberitaan dan hingar bingar ajang ini. Publik ikut meramaikan Met Gala meskipun mereka tidak terlibat sama sekali di dalamnya, karena merasakan koneksi personal dengan orang-orang yang mereka follow di media sosial.

Contohnya, jika fans Billie Eilish selalu mengikuti perkembangan sosial medianya, sudah pasti ia akan mengantisipasi acara Met Gala juga. Seperti, bagaimana persiapan Billie Eilish sebelum Met Gala, dengan desainer siapa ia bekerjsama, busana seperti apa yang dipakainya, dan lain sebagainya.

Seni Memang Untuk Dinikmati, Sama Hal nya dengan Met Gala

Dari selebriti mari beralih ke busana-busana yang dikenakan. Seperti ajang-ajang fashion lainnya, pagelaran Met Gala adalah bentuk ekspresi dari dunia seni fashion. Busana-busana yang ditampilkan jauh dari kata sehari-hari. Dapat terlihat keberanian dari para designer dan selebriti yang mengenakan busananya untuk berkreasi sebebas mungkin.

Semua kreativitas yang ditemui dalam Met Gala adalah sebuah tribute untuk dunia fashion. Dalam semalam, siapapun dapat mengenakan apapun tanpa ada tekanan untuk menyesuaikan diri dengan stereotip tentang apa yang harus dipakai selebriti, perempuan, atau laki-laki. Tidak ada standar mengenai apa yang harus dibuat dan tidak.

Ada satu hal yang membuat Met Gala mampu stand out dari acara-acara lain. Jika di acara red carpet lain tamu-tamu dan selebriti yang datang cenderung berbusana secara aman dan anggun, Met Gala justru menyajikan yang sebaliknya. Dari sini, bahkan para selebriti sering disebut-sebut sedang menghadiri pesta Halloween, dan menjadi sumber meme di internet.

Rihanna Met Gala 2015

Rihanna Met Gala 2015 (Photo via Vogue.com)

Dilansir dari Harpers Bazaar, Rihanna adalah sosok yang paling diasosiasikan dengan Met gala selama ini. Ia selalu mendalami tema yang diberikan tanpa takut-takut, memilih desainer yang kurang dikenal untuk mengeksekusi visinya sendiri tentang apa yang perlu diperlihatkan dari tema tersebut.

Contohnya, pada tahun 2009 ia memilih menggunakan busana androgini dengan model rambut pixie-nya yang ikonik. Salah satu yang paling terkenal pula dari tampilan Rihanna ada pada tahun 2015, dengan tema China: Through the Looking Glass ia mengenakan busana bertema oriental berwarna kuning yang menjuntai lebar di belakangnya. Thanks to the internet, penampilan ini terus dikenal bertahun-tahun kemudian lewat meme.

Jadi, apakah ada alasan untuk kita orang awam mengikuti hype Met Gala, jika kita bukan orang yang paham atau menikmati seni dalam fashion? Yap, benar, tidak ada. Kecuali untuk merasakan euforia dari pemberitaan selebriti di media sosial yang membangkitkan rasa penasaran dan antusiasme kita. Sisi positifnya, kita bisa mengamati bagaimana industri fashion merespon perubahan dunia dari tahun ke tahun.

Artikel Asli