Pebisnis Pemula Merapat! ShopeePay Talk Beberkan Kiat Meminimalisasi Kegagalan di Awal Usaha, Apa Saja?

herstory | Gaya Hidup | Published at Kamis, 16 September 2021 - 13:10
Pebisnis Pemula Merapat! ShopeePay Talk Beberkan Kiat Meminimalisasi Kegagalan di Awal Usaha, Apa Saja?

Membangun bisnis memang bukanlah sebuah hal yang mudah, terlebih bagi mereka yang belum memiliki jam terbang tinggi di dunia bisnis. Selain membutuhkan persiapan, tekad, dan komitmen yang kuat, pelaku bisnis juga harus mempersiapkan mental untuk menghadapi kegagalan bisnis.

Menurut Eka Nilam Dari, Head of Strategic Merchant Acquisition ShopeePay, pasang surut dalam berbisnis adalah hal yang tak dapat terelakkan, namun para pelaku bisnis dapat meminimalisasi risiko kegagalan dengan mempersiapkan strategi manajemen risiko yang tepat.

Karenanya, memahami kesulitan yang dialami oleh para pelaku bisnis pemula dalam merancang strategi manajemen risiko bisnis, ShopeePay Talk pun hadir dengan mengangkat tema Pasang Surut Pebisnis Pemula hari ini. Karena, dalam dunia bisnis sendiri tak sedikit pebisnis yang mengalami kegagalan, terutama di masa-masa awal mereka merintis. Jangankan para pemula, pebisnis dengan jam terbang tinggi sekalipun kadang tidak luput dari pasang surut bisnis, papar Eka, saat memberikan sambutan di acara ShopeePay Talk bertajuk 'Pasang Surut Pebisnis Pemula', yang digelar secara virtual, Kamis (16/9/2021).

Lebih jauh,Eka pun berharap, dengan kehadiran narasumber di acara ini, akan menambah insight baru yang diharapkan dapat membantu pelaku bisnis lainnya untuk membangun karakter dan mental yang lebih kuat lagi dalam berbisnis.

Semoga kehadiran shopeepay talks kali ini bisa menginspirasi para pelaku bisnis untuk selalu berkarya dan bertumbuh. Sejalan dengan komitmen kami dalam mendukung pemulihan ekonomi nasional, shopeepay juga mengajak pelaku bisnis untuk maju bersama program dan kampanye kami, harap Eka.

Dalam acara tersebut, CMO PT Harapan Bangsa Kita dan Co-Founder Sang Pisang dan Ternakopi, Ansari Kadir, menuturkan, sebelum menjadi seperti sekarang, dirinya mengaku pernah mengalami banyak kegagalan. Namun ia tak lantas menyerah dan terus belajar dari kegagalan tersebut.

Ari mengaku, ia memberanikan diri untuk keluar dari zona nyaman tempatnya bekerja. Dan akhirnya, ia pun mencoba membuka usaha dengan menjual makanan pisang goreng dengan bermodalkan uang sebesar Rp. 500.000.

Saya pernah gagal 12 kali dari tahun 2015. Saya dulu pernah jadi marketing di perusahaan otomotif. Saya sempat berbisnis sekaligus kerja di perusahaan orang. Tapi gagal, karena gak fokus. Setelah gagal saya belajar bahwa hidup itu perlu evaluasi dan improvisasi. Setelah gagal saya harus melompat, kalau gak, saya gak akan maju. Akhirnya saya pun nekat jualan pisang goreng yang akhirnya mempertemukan saya dengan Mas Kaesang (Kaesang Pangarep), hingga akhirnya saya bisa seperti sekarang, papar Ari, sapaan akrabnya.

Jadi memang bisnis itu gak ada yang instan. Dan dari uang lima ratus itu saya pakai buat jual pisang goreng. Mengapa memilih pisang goreng? Karena bagi saya, pisang itu menjadi salah satu makanan lokal dengan citra khas Indonesia. Sebab, banyak orang yang mengonsumsi pisang goreng di rumah. Jadi itu local industry kita banget. Dan pisang itu adalah buah yang tidak ada musimnya. Jadi itu akan tetap terus ada, sambungnya.

Dengan pisang goreng tersebut, sambung Ari, ia bisa membuat macam inovasi dan bernilai. Bahkan, ia mengaku saat ini telah melakukan ekspor dan membuka banyak cabang di luar negeri untuk produk pisangnya itu.

Saya mikir simple dulu pas awal-awal bisnis, saya berangkat dari sebuah value, ketika kita mulai kreatif, kita bisa mengubah pisang jadi value yang besar. Saat ini, saya juga sudah ekspor kulit pisang. Sang Pisang juga sudah banyak buka gerai di luar negeri. Jadi pisang ini adalah sesuatu yang bisa diubah jadi special, terang Ari.

Lebih lanjut, Ari pun mengingatkan kepada pebisnis pemula bahwa sebelum menciptakan sebuah produk, sebaiknya harus melakukan riset terlebih dulu untuk mengetahui siapa target yang akan disasar dari produk yang kita buat, setelah itu baru membangun infrastruktur atau pondasi bisnis.

Riset itu sangat penting, kita harus tahu targer market produk kita siapa, bagaimana produknya, eksekusinya seperti apa, dan harus tahu juga apa goals yang ingin dicapai. Dan yang paling penting kita harus tahu kelemahan, kekuatan, dan peluang ke depannya seperti apa. Setelah itu kita bisa tahu unique selling point -nya apa. Kemudian harus mengerti kecil besarnya tentang bagaimana cara memasarkan produknya. Intinya, kalau gak passion, akan sulit. Dan ingat, pebisnis di awal itu harus jadi sales yang handal juga, papar Ari.

Kemudian, Raymond Chin, CEO & Co-Founder Ternak Uang , juga mengingatkan pebisnis pemula bahwa membangun sebuah bisnis itu tidaklah mudah. Namun, pebisnis pemula harus memiliki bekal tersendiri untuk dapat menjawab setiap tantangan dalam menjalankan roda bisnisnya.

Banyak hal yang dapat dijadikan solusi, termasuk memanfaatkan teknologi untuk membantu pertumbuhan bisnis, kata Raymond.

Dikatakan Raymond, pebisnis pemula juga harus punya angle mind set sendiri . Karena, perjalanan bisnis itu 100 persen pasti bakal ketemu hambatan/kegagalan atau raod block.

Itu gak bisa dipungkiri. Kita jangan naif, justru kita harus adaktif, karena di tengah jalan pasti akan terjadi sesuatu. Dan mind set itu yang harus dibangun. Yang lebih penting juga kita harus tahu target market produk kita senditi. Setelah target market tahu, nanti marketingnya jadi mudah. Dan marketing yang paling penting itu adalah loyal customer, tandasnya.

Lebih lanjut, Anton Hermawan Sugondo, Founder dan Owner Panama Sandals, pun menuturkan kiat untuk pebisnis pemula agar bisa bertahan di tengah pandemi.

Dikatakan Anton, memiliki pikiran yang terbuka untuk terus maju sangat penting dilakukan para pebisnis, terutama pebisnis pemula, untuk terus berinovasi dalam situasi yang sulit, khususnya selama pandemi Covid-19.

Kedua, di masa pandemi ini, dimana penjualan secara offline masih dibatasi, maka pebisnis pemula sebaiknya melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak. Misalnya kolaborasi dengan platform digital atau e-commerce agar bisa memberikan nilai tambah bagi usahanya.

Saat pandemi gini ada baiknya sih memanfaatkan e-commerce seperti Shoppe, jadi salesnya tetap jalan. Saya juga percaya, dengan memberikan layanan yang terbaik juga bisa mendapatkan perhatian pelanggan, dan menjadikan pelanggan gak berpaling dari produk kita, tandas Anton.

Beauty, suka topik artikel dari HerStory? Baca informasi menarik seputar wanita dan juga working moms lainnya di herstory.co.id segera, ya!

Artikel Asli