Selalu Dibanding-bandingkan dengan Bruce Lee, Begini Tanggapan Jackie Chan

tabloidbintang | Gaya Hidup | Published at Kamis, 16 September 2021 - 06:05
Selalu Dibanding-bandingkan dengan Bruce Lee, Begini Tanggapan Jackie Chan

Siapa mengira jalan hidup Jackie Chan -- kelahiran 7 April 1954 -- bakal seperti sekarang ini. Dia bukan hanya dikenal di Asia, tapi Hollywood namanya masyur. Padahal, dulu orangtuanya -- Charles dan Chen Lili -- nyaris tak mampu menebus biaya kelahiran bayi yang beratnya mencapai 12 pound (sekitar 6 kg!). Asal tahu saja, Jackie yang bernama asli Chen Kang Sheng ini, berada dalam kandungan lebih dari rata-rata. Jackie ngendon 3 bulan lebih lama dalam rahim ibunya.

Berawal dari tekadnya di masa muda, Jackie yang merasa sebagai putra Hong Kong asli, menyimpan hasrat kuat menjadi terkenal dan sukses. ''Nama saya Chen Kang Sheng yang berarti lahir di Hong Kong. Untuk itulah, saya harus maju dan sukses,'' katanya. Kelak nama ini berubah jadi Chen Lung yang bermakna Naga yang sukses. Berkat kegigihannya itu, Jackie mampu bertahan di Peking Opera School yang dipimpin Sifu Master Yu Jim-Yuen. Tidak seperti opera-nya Pavarotti, Opera Peking menyajikan hiburan yang menampilkan gaya akrobat dan bela diri, termasuk di dalamnya nyanyian, tarian, dan komedi. Namun, bukan Jackie namanya kalau sampai gagal. Ia berhasil menamatkannya tahun 1971 dan membuktikan diri saat berusia 18 tahun sebagai koordinator stunt termuda di Hong Kong.

Jackie Chan (Instagram)

Awal kariernya sebagai aktor dimulai tahun 1974 ketika dunia masih berduka karena kehilangan Bruce Lee. Setiap produser film di Hong Kong mencari bakat baru sebagai pengganti Bruce Lee . Produser Lo Wei meminta Jackie main dalam New Fist of Fury (1976), sekuel film Fist of Fury yang melambungkan nama Bruce Lee. Film pertama yang memasang Jackie sebagai pemeran utama, ini gagal di pasaran. Jackie sendiri tak ingin dibanding-bandingkan dengan Bruce Lee. ''Saya main dengan gaya sendiri. Lebih komedi. Saya berusaha memberitahu penonton, kalau kamu menyakiti seseorang, kamu juga menyakiti diri sendiri. Itu terasa lebih manusiawi. Nobody can touch Bruce Lee. Everybody can beat me ,'' kilahnya melucu.

Gaya film Jackie banyak dipengaruhi Buster Keaton yang dulu terkenal saat zaman film bisu. Komedi slapstick dan karakter hangat yang ditampilkan Jackie membuat Snake in the Eagle's Shadow (1978) meraih sukses. Disusul kemudian Drunken Master (1978) yang makin mengukuhkan namanya. Gaya kung fu-nya yang berbeda jadi tampak menyenangkan untuk ditonton. Kualitas gaya berkelahinya tidak kedodoran, tapi mampu membuat penonton tertawa. Selain itu, ketimbang menggunakan berbagai senjata tradisional untuk berduel, Jackie memilih obyek lain yang ada di sekitarnya. Kung fu seolah lebih membumi di tangan Jackie.

Perkenalannya dengan Hollywood diawali awal 80-an. Ia main dengan Kristine de Bell dan Jose Ferrer dalam The Big Brawl (1980) dengan hasil mengecewakan. Setelah itu, ia masih sempat main dalam Cannonball Run (1981) yang sempat jadi hit di Amerika, tapi tak sampai membuat nama Jackie terkenal. Pertengahan tahun 1990-an, Jackie mencoba kembali ke Hollywood, kali ini dengan gayanya sendiri. Muncul film Rumble in the Bronx (1995) dan Mr. Nice Guy (1997) yang diproduksi dengan gaya Jackie Chan. Baru lewat Rush Hour (1998), publik Amerika ngeh dan mengukuhkan Jackie sebagai bintang film Hong Kong pertama yang meraih sukses di Hollywood.

Artikel Asli