Komunikasi Berbasis Cahaya yang Menjanjikan

koran-jakarta.com | Gaya Hidup | Published at 15/09/2021 00:00
Komunikasi Berbasis Cahaya yang Menjanjikan

Teknologi jaringan komunikasi jaringan nirkabel area lokal (wireless local area network/ WLAN) Wi-Fi selama ini menjadi andalan dalam pertukaran data antarperangkat elektronik. Teknologi Wi-Fi yang sampai sekarang telah mengalami pembaruan hingga generasi ke-6, ternyata masih memiliki sejumlah kelemahan.
Salah satu kelemahan Wi-Fi adalah dapat mengganggu sistem navigasi pilot dalam penggunaan di pesawat terbang. Kelemahan lainnya susah menembus dinding, konektivitasnya sering tidak stabil, keterbatasan jumlah pengguna dalam satu perangkat dan lainnya.
Solusi untuk mengatasi beberapa kekurangan Wi-Fi saat ini mengarah pada teknologi Li-Fi singkatan dari light fidelity. Teknologi nirkabel Li-Fi ini memanfaatkan cahaya tampak (visible light communication/VCL) untuk mengirimkan data antarperangkat, seperti ke laptop, ponsel, kamera, dan perangkat lain.
Li-Fi menggunakan modulasi intensitas cahaya untuk mengirimkan data, sedangkan Wi-Fi menggunakan frekuensi radio, sehingga tidak menimbulkan interferensi gelombang yang bisa mengganggu sistem komunikasi lain.
Kelebihan lainnya mampu mengirimkan data dalam kecepatan tinggi, yang secara teori hingga mencapai 100 gigabit per detik (Gbps). Dengan kecepatan yang dahsyat, Li-Fi dapat digunakan untuk beberapa penggunaan yang tidak bisa dilakukan dengan Wi-Fi.
"Saat ini, karena revolusi teknologi informasi (TI) hampir semua orang mengetahui istilah Wi-Fi, tetapi sangat sedikit termasuk kaum intelektual yang mengetahui istilah Li-Fi," ujar anggota Badan Pengurus, Masyarakat Insinyur Pencahayaan India, Dr Prakash Barjatia, dalam tulisannya di laman Electrical India beberapa waktu lalu.
Walau memiliki beberapa kelebihan, Wi-Fi dapat menjadi pelengkap Li-Fi, namun keduanya bisa berjalan bersama untuk mengatasi kelemahan pada komunikasi nirkabel. Dengan demikian dapat meningkatkan kualitas hidup umat manusia.
Istilah Li-Fi yang pertama kali diperkenalkan oleh Harald Haas pada ajang TEDGlobal 2011 di Edinburgh, Skotlandia. Secara teknis, sistem komunikasi cahaya yang mampu mentransmisikan data dengan kecepatan tinggi melalui spektrum cahaya tampak yang biasa terpancar pada lampu.

Lebih Disukai
Cahaya tampak lebih disukai dengan alasan karena ketersediaan yang mudah dan efek berbahaya yang lebih rendah yang terjadi karena sinar ini. Lampu VLC menggunakan cahaya tampak antara 780 NM dan 375 NM sebagai media yang kurang berbahaya untuk aplikasi daya tinggi, dan juga manusia dapat dengan mudah melihatnya dan melindungi diri dari efek berbahaya.
Cahaya tampak dari merah ke biru dari spektrum elektromagnetik tidak membahayakan umat manusia, menyediakan bandwidth yang lebih besar dan juga memiliki masa depan yang menjanjikan di bidang komunikasi.
Hal tersebut berbeda dengan gelombang radio mahal dan kurang aman karena interferensi dan kemungkinan intersepsi. Penggunaan sinar gamma berbahaya saat penanganan karena efek buruknya yang terbukti pada kesehatan manusia.
Sementara itu penggunaan sinar-X memiliki masalah kesehatan, mirip dengan sinar gamma. Sinar ultraviolet (UV) juga bisa berbahaya bagi tubuh manusia jika terpapar terus menerus. Sinar Inframerah karena peraturan keselamatan yang tinggi, hanya dapat digunakan dengan daya rendah.
Barjatia menjelaskan, prinsip Li-Fi didasarkan pada pengiriman data dengan modulasi amplitudo sumber cahaya dengan cara yang terdefinisi dengan baik dan terstandarisasi. Hanya dengan bohlam light-emitting diode (LED) yang memiliki perangkat berkemampuan memancarkan Li-Fi, maka bohlam itu tidak hanya menghasilkan cahaya tetapi juga menciptakan jaringan nirkabel di dalam ruangan.
"Agar bohlam lampu LED dapat mengirimkan data perlu driver bawaan untuk kontrol, dengan mengkodekan data ke dalam driver. Dengan demikian bohlam dapat digunakan sebagai pemancar data nirkabel," papar Barjatia. hay/I-1

Artikel Asli