Pemutihan Karang Hancurkan Kehidupan Laut

koran-jakarta.com | Gaya Hidup | Published at 14/09/2021 00:00
Pemutihan Karang Hancurkan Kehidupan Laut

Pada 2020, kawasan Great Barrier Reef mengalami masalah pemutihan karang (coral bleaching) massal ketiga dalam lima tahun. Terumbu karang tropis yang berada sepanjang 2.600 kilometer dengan luas 348.700 kilometer persegi itu sangat sensitif terhadap pemanasan global.
Pemutihan karang bukan hanya di Great Barrier Reef saja. Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) PBB menyebutkan sebesar 70-90 persen terumbu karang dunia akan mati karena pemanasan global yang meningkat 1,5 derajat Celsius.
Air laut selama ini menyerap 90 persen dari semua pemanasan yang telah terjadi dalam 50 tahun terakhir. Permukaan laut akan naik antara 0,26 meter dan 0,77 meter pada 2010 menurut IPCC. Kenaikan itu akan mengancam 200 juta orang yang tinggal di daerah pesisir dataran rendah.
Para peneliti mengatakan bahwa hampir setengah dari pantai berpasir di dunia bisa hilang saat permukaan laut naik. Diperkirakan pada 2050, lebih dari 570 kota akan terkena dampak kenaikan permukaan laut sebesar 0,5 meter.
IPCC juga memperkirakan bahwa bahkan jika kenaikan suhu udara global dapat dipertahankan hingga 1,5 derajat Celsius, suhu laut akan tetap naik setidaknya 2 derajat Celsius pada akhir abad ini. Kenaikan ini berdampak pada pemutihan karang.
"Pemutihan karang terjadi karena air yang terlalu hangat membuat karang mengeluarkan ganggang yang hidup di jaringannya sehingga karang berwarna putih. Meski para ilmuwan menyatakan karang dapat pulih dari peristiwa pemutihan tetapi secara permanen melemah," tulis Douglas Broom pada laman World Economic Forum.
Sementara itu, mencairnya air tawar dari lapisan es kutub dunia mengubah komposisi kimia laut. Pada keadaan salinitas yang berubah itu beberapa spesies tidak mampu bertahan hidup. Penelitian di Laut Baltik memperingatkan pengurangan kadar garam mengancam zooplankton, makhluk kecil yang mewakili dasar rantai makanan laut.
Berubahnya salinitas karena air tawar juga dapat mengubah arus laut. Hal itu dapat menyebabkan terciptanya "zona mati," sebuah perairan yang mengalami kekurangan oksigen, sehingga hewan dan tumbuhan laut tidak dapat bertahan hidup.
"Lautan menyerap sekitar sepertiga dari CO2 yang dikeluarkan oleh aktivitas manusia sejak awal Revolusi Industri. Menambahkan CO2 ke air laut dalam jumlah ini mengasamkan lautan dan ini mempengaruhi banyak spesies laut, terutama kerang, remis dan siput laut yang tidak dapat menumbuhkan cangkangnya di perairan yang diasamkan," lanjut Broom.
Penyerapan karbon yang disediakan laut akan sangat penting jika kita ingin memperlambat laju pemanasan global, kata International Union for Conservation of Nature (IUCN) yang telah menyerukan 30 persen lautan untuk ditetapkan sebagai Kawasan Konservasi Laut (KKL) pada 2030.
"Perikanan dan pariwisata perlu menjadi lebih berkelanjutan dan pembangunan pesisir perlu dikendalikan untuk mencegah kerusakan lingkungan laut," kata IUCN.
Oleh karena itu lembaga itu menyerukan agar penelitian harus dilanjutkan sehingga langkah-langkah baru dapat dikembangkan untuk mencegah kerusakan laut. hay/I-1

Artikel Asli