Kisah Srimulat, Pembela Wong Cilik dan Penghibur Masyarakat dari Panggung ke Panggung

inewsid | Gaya Hidup | Published at 13/09/2021 12:10
Kisah Srimulat, Pembela Wong Cilik dan Penghibur Masyarakat dari Panggung ke Panggung

JAKARTA, iNews.id - Jika mendengar nama Srimulat, yang terpikir adalah grup lawak legendaris Indonesia. Grup ini, tak lepas dari sosok Raden Ayu Srimulat, perempuan ningrat yang mendirikan Srimulat bersama suaminya, Teguh Slamet Rahardjo.

Menelisik dari perjalanan hidupnya, Raden Ayu Srimulat lahir pada 7 Mei 1908. Dia merupakan putri bungsu dari pasangan bangsawan Raden Mas Aryo Tjitrosoma dan Raden Ayu Sedah. Semasa kecil, Srimulat yang keturunan bangsawan, sempat bersekolah di Hollandsch-Inlandsche School (HIS), Sukoharjo, Jawa Tengah, dan Koningin Emma School di Solo.

Namun, tak sampai tuntas dalam mengenyam pendidikan, Srimulat diminta berhenti oleh ibu tirinya. Alasannya, karena putri ningrat dinilai tidak perlu bersekolah tinggi-tinggi. Srimulat yang tak terima, merasa terpukul dan harus rela menjalani masa pingit seperti halnya putri-putri keraton.

Di usia yang terbilang muda, Srimulat dinikahkan oleh orang tuanya. Saat itu, usianya baru menginjak 15 tahun, namun dia harus menjalani hidup yang tidak mudah. Anaknya yang masih berusia 2,5 tahun meninggal dunia, disusul kepergian sang suami pertamanya. Kesedihan Srimulat semakin bertambah tatkala melihat ayahnya mencari selir-selir baru.

Keadaan yang rumit, membuat Srimulat akhirnya nekat kabur dari rumah. Berbekal uang seadanya, dia pergi ke Surakarta lalu ke Yogyakarta dan melamar kerja di seorang dalang kondang, Ki Tjermosugondo. Sejak saat itu, dia menghibur masyarakat dari panggung ke panggung bersama dalang-dalang.

Dia tercatat pernah tergabung dalam Ketoprak Candra Ndedari pimpinan Ki Retsotruno, Ketoprak Mardi Utomo di Magelang, dan Rido Carito. Dari situlah Srimulat terkenal di berbagai lapisan masyarakat, mulai dari kalangan atas, menengah, hingga ke bawah. Bahkan, sebagai seorang ningrat, Srimulat tak segan menari bersama penari-penari lokal di sejumlah daerah hingga tampil di perkawinan hingga pasar malam.

Sebagai pemain sandiwara panggung dan penyanyi dari kalangan ningrat, Srimulat terkenal dengan sikap idealis, berpendirian keras, dan mau menghibur serta membantu rakyat biasa.

Salah satu ceritanya yaitu ketika dia mati-matian membela seorang pesinden bernama Nyai Mas Sulandjari, yang berhasil memenangkan lomba kontes batik di Pasar Malam Amal Yogyakarta pada 1938. Kemenangan Sulandjari, saat itu ditentang oleh para bangsawan Yogyakarta dan Surakarta, karena dia berhasil mengalahkan putri-putri ningrat.

Begitulah Srimulat, berawal dari panggung ke panggung, menghibur masyarakat secara langsung, hingga sempat masuk ke dapur rekaman dan bermain dalam film-film Tanah Air. Di antaranya saja seperti Sapu Tangan (1949), Bintang Surabaja (1951), Putri Sala (1953), Sebatang Kara (1954) dan Radja Karet dari Singapura (1956).

Kecintaannya kepada dunia kesenian sampai akhir hayat. Sampai pada tahun 1968, Srimulat meninggal dunia di usia 60 tahun. Dia meninggalkan seorang suami, Kho Tjien Tiong atau Teguh Slamet Rahardjo yang dinikahinya tahun 1950.

Artikel Asli