Pertanian Terapung Jadi Solusi Keterbatasan Lahan di Kota Besar

koran-jakarta.com | Gaya Hidup | Published at 09/09/2021 00:00
Pertanian Terapung Jadi Solusi Keterbatasan Lahan di Kota Besar

Dunia akan menghadapi kebutuhan pangan yang meningkat di masa depan. Menurut Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) akan ada tambahan penduduk baru sebanyak 2 miliar jiwa hingga 2050.
Sedangkan penduduk dunia saat ini saja telah mencapai 7,8 miliar menurut data Worldometer. Pada 2050 diperkirakan 80 persen dari total jumlah penduduk akan tinggal di perkotaan.
Di beberapa negara Eropa seperti Belanda dan Spanyol, saat ini tengah dikembangkan pertanian terapung (floating farm) di atas perairan. Di Kota Rotterdam Belanda pada 2019 sebuah perusahaan bernama Baladon mulai mengoperasikan pertanian terapung pertama di dunia yang dimaksudkan sebagai contoh ekstensifikasi lahan pertanian.
"Dunia berada di bawah tekanan dan semakin sedikit lahan pertanian," kata salah satu pemilik peternakan terapung yang dikembangkan Baladon, Minke van Wingerden, seperti dikutip Euronews edisi Senin (6/9).
Ia menambahkan, ide dari pertanian terapung berupa peternakan sapi perah membuat lahan pertanian baru di dekat kota. "Ketika kami bertanya kepada manajemen pelabuhan apakah kami bisa mendirikan peternakan sapi perah di pelabuhan, kami diberi tahu apakah Anda benar-benar gila?" papar dia.
Wingerden menambahkan, peternakan terapung yang berada di kota membantu mencegah kehilangan makanan, mengurangi ongkos transportasi, dan menjaga kualitas makanan sampai ke konsumen.
Ia mengakui proyek tersebut pernah dikritik Partai Kesejahteraan Hewan Belanda, menyusul dua ekor sapi jatuh ke air, namun ia tetap yakin memberi dampak positif.
Peternakan sapi perah terapung di dekat pelabuhan itu dioperasikan dengan teknologi tinggi dan berjalan secara otomatis. Robot bertanggung jawab untuk memerah susu, sementara susu langsung diproses. Robot juga berperan memberi sapi biji-bijian yang diambil dari dari tempat pembuatan bir lokal.
Rumputnya berasal dari hasil pemotongan di lapangan sepak bola dan lapangan golf di sekitar Rotterdam. Sementar kotoran sapi yang dihasilkan diolah kembali menjadi pupuk dalam bentuk pelet, untuk dipakai pada ladang pertanian.
Pertanian dengan 40 sapi itu operasionalnya dilakukan hanya oleh seorang petani, dan robot yang bertugas mengumpulkan kotoran dan mendistribusikan pakan ternak. Semua ini berada di atas ponton yang menopang semua beban tersebut.

Ubah Paradigma
Pertanian terapung juga dikembangkan di Spanyol oleh Javier F Ponce, arsitek, pendiri dan CEO Forward Thinking Architecture. Konsep pertaniannya untuk membantu dalam memenuhi permintaan lahan baru namun tidak menggusur.
"Menghadapi tantangan pertumbuhan kota saat ini, konsumsi lahan dan perubahan iklim, saya percaya proyek seperti smart floating farms dapat membantu mengubah beberapa paradigma yang ada yang telah membawa kita ke situasi saat ini dan membuka kemungkinan baru yang dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia, kehidupan, dan lingkungan," kata Ponce seperti dikutip laman The Maritime Executive.
Berbeda dengan peternakan terapung di Rotterdam, pertanian ala Ponce lebih kompleks. Berdasarkan desain ia mengembangkan pertanian terapung berlapis-lapis, menggabungkan akuakultur untuk budidaya ikan, hidroponik, dan panel fotovoltaik tenaga surya untuk memenuhi kebutuhan listrik.
Ponce yakin solusinya dapat membawa hasil panen ke tempat yang paling membutuhkan dengan cepat. Konsepnya diklaim cocok untuk beberapa kota besar seperti New York, Tokyo, Singapura, Hong Kong, Bangkok, dan kota-kota lainnya.
"Ini bukan fiksi ilmiah," kata Ponce. "Ini adalah solusi yang serius dan layak. Ini tidak dimaksudkan untuk menyelesaikan semua masalah kelaparan umat manusia atau untuk menggantikan pertanian tradisional yang ada," ujar dia.
Desain Ponce berupa struktur tiga tingkat setinggi 24 meter dengan panel surya di atasnya. Pada tingkat kedua dengan luas 51.000 meter persegi untuk menanam berbagai sayuran dengan sistem pengairan hidroponik yang tidak perlu tanah.
Sisa nutrisi dan materi tanaman akan akan turun ke tingkat ketiga untuk memberi makan ikan yang dibudidayakan pada ruang tertutup. "Satu smart floating farm berukuran 350 x 200 meter akan menghasilkan sekitar 8,1 ton sayuran dan 1,7 ton ikan per tahun," ungkap Ponce.
Platform terapung diintegrasikan dengan komputer yang canggih dan fasilitas produksi dengan energi hijau dari panel surya. Produksi limbah pertanian digunakan untuk memberi makan ikan pada tingkat ketiga di bawahnya. Sedangkan limbah dari peternakan ikan akan didaur ulang sebagai pupuk untuk pertanian hidroponik, sehingga menciptakan siklus mandiri.
Karena fasilitas berada di pinggir laut maka dilengkapi dengan pelindung gelombang. Ponce mengatakan konsep pelindung gelombang dirancang dengan bahan, teknologi, dan sistem yang teruji dengan baik yang sudah digunakan di seluruh dunia. hay/I-1

Artikel Asli