Suntikan Vaksin Booster Belum Terbukti Amankan Penerimanya dari Covid-19

Gaya Hidup | radartegal | Published at Rabu, 01 September 2021 - 08:40
Suntikan Vaksin Booster Belum Terbukti Amankan Penerimanya dari Covid-19

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan suntikan booster dosis ketiga Covid-19 bukan barang mewah. Melainkan, booster digunakan untuk menjaga yang paling rentan tetap aman.

"Dosis ketiga vaksin bukanlah kemewahan, tapi diambil dari seseorang yang masih menunggu suntikan pertama," kata Kepala WHO Eropa, Hans Kluge, dilansir dari The Star, Selasa (31/8).

"Pada dasarnya, ini adalah cara untuk menjaga yang paling rentan tetap aman," sambungnya

Kendati demikian, Kluge tetap mengingatkan, bagi yang mendapatkan vaksin booster tetap harus berhati-hati. Pasalnya, belum cukup bukti bahwa vaksin booster benar-benar aman dari Covid-19.

"Tapi semakin banyak penelitian menunjukkan bahwa dosis ketiga membuat orang yang rentan tetap aman, dan ini dilakukan oleh semakin banyak negara di kawasan kami (Eropa)," terangnya.

Kluge mendesak negara-negara Eropa yang kelebihan vaksin untuk membaginya kepada negara lain. Terutama negara Eropa Timur dan Afrika.

"Tingkat penularan covid-19 melonjak di seluruh Eropa dalam dua pekan terakhir. Mayoritas kasus karena varian Delta yang sangat menular," pungkasnya.

Indonesia akan mendapat tambahan 331,6 juta dosis vaksin COVID-19 sepanjang Agustus hingga Desember 2021 mendatang. Rinciannya 258.675.000 sudah fixed. Sementara 73.000.000 berstatus unfixed.

"Saat ini, sebanyak 61,5 juta atau 29,5 persen masyarakat Indonesia telah mendapat vaksin tahap pertama. Kemudian 34,8 juta atau 16,7 persen masyarakat sudah mendapat vaksinasi tahap kedua," kata Presiden Joko Widodo dalam Kongres ISEI XXI dan Seminar Nasional 2021 secara virtual di Jakarta, Selasa (31/8).

Menurutnya, tingkat pandemi COVID-19 di Indonesia juga terus menurun. Dalam dua pekan terakhir, kasus COVID-19 di Indonesia sudah melewati puncak penularan dan jumlah kasus terkonfirmasi COVID-19 telah menurun signifikan 86,9 persen. Angka kesembuhan lebih tinggi jika dibandingkan penambahan kasus terkonfirmasi positif. (rh/zul/fin)

Artikel Asli