Spesies "Homo Sapiens" Teruji Mampu Beradaptasi

Gaya Hidup | koran-jakarta.com | Published at Rabu, 01 September 2021 - 00:00
Spesies "Homo Sapiens" Teruji Mampu Beradaptasi

Semua peristiwa kepunahan massal besar dalam sejarah Bumi telah melibatkan semacam perubahan iklim. Peristiwa pendinginan yang terjadi sekitar 455-430 juta tahun lalu menyebabkan kepunahan masa Ordovisium-Silur serta memusnahkan 85 persen spesies. Sedangkan kepunahan pada masa Trias-Jurassic sekitar 200 juta tahun lalu tercatat telah membunuh 80 persen spesies.
Sementara spesies manusia purba Homo sapiens sebagai nenek moyang manusia saat ini tidak pernah punah. "Kami memiliki rekam jejak spesies hominid lain (kera besar) yang punah, seperti Neanderthal," kata seorang rekan peneliti di Pusat Studi Risiko Eksistensial di Universitas Cambridge di Inggris, Luke Kemp, kepada Lives Science .
Menurut Kemp, spesies Homo sapiens telah terbukti mudah beradaptasi dan mampu mengatasi banyak iklim yang berbeda, baik itu panas, dingin, kering, atau basah. Manusia dapat menggunakan sumber daya dari banyak tumbuhan dan hewan yang berbeda dan berbagi dengan yang lain.
Namun untuk manusia purba Neanderthal yang punah sekitar 40.000 tahun yang lalu, para ilmuwan kurang memahaminya mengapa hal itu bisa terjadi. Fluktuasi iklim tampaknya telah memecah populasi mereka menjadi kelompok-kelompok yang lebih kecil dan terfragmentasi, sementara perubahan suhu parah menyebabkan tanaman dan hewan yang mereka andalkan sebagai sumber makanan berkurang drastis.
Hilangnya makanan yang didorong oleh perubahan iklim, kata Kemp mungkin menyebabkan penurunan fertilitas Neanderthal. Hal ini dinilai telah berkontribusi pada kepunahan dari spesies yang hidup di kawasan Euro Asia dan Eropa Barat dan Asia Tengah.
Perubahan iklim juga berperan dalam runtuhnya peradaban manusia di masa lalu. Kekeringan selama 300 tahun, berkontribusi pada kejatuhan Yunani kuno sekitar 3.200 tahun yang lalu. Lagi-lagi Homo sapiens tetap selamat dari kepunahan dan bangkit setelah melewati kejatuhan.
Sebuah studi yang diterbitkan pada 21 Juli di jurnal Sustainability mengidentifikasi negara-negara yang paling mungkin bertahan dari keruntuhan akibat perubahan iklim adalah yang hidup dengan cara yang kompleks. Negara pulau seperti Selandia Baru dan Irlandia, menjadi tempat layak huni berkat suhu yang relatif dingin, variabilitas cuaca yang rendah, yang mendukung pertanian.
Kemp menjelaskan bahwa di masa depan, kelangkaan sumber daya karena perubahan iklim berpotensi menciptakan perang. "Ketika sumber daya air mengering dan kekurangan makan, dan kondisi umum kehidupan saat ini menjadi jauh lebih buruk, lalu tiba-tiba, ancaman potensi perang nuklir menjadi jauh lebih tinggi," kata Kemp.
Studi yang dilakukan pada 2019 yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances menemukan, konflik nuklir antara India dan Pakistan yang hanya bagian kecil senjata nuklir dunia, dapat membunuh 50 juta hingga 125 juta orang di kedua negara.
Perang nuklir juga akan mengubah iklim, seperti melalui penurunan suhu saat kota-kota yang terbakar memenuhi atmosfer dengan asap, mengancam produksi pangan di seluruh dunia dan berpotensi menyebabkan kelaparan massal.
Belum terlambat untuk menghindari skenario terburuk dengan pengurangan signifikan terhadap emisi gas rumah kaca.
"Jika kita gagal mengurangi emisi karbon secara substansial dalam satu dekade ke depan, akan memperburuk peristiwa cuaca ekstrem," ujar profesor terkemuka ilmu atmosfer di Penn State dan penulis The New Climate War: The Fight to Take Back Our Planet , Michael Mann. hay/I-1

Artikel Asli