Daya Rekat Alami yang Sangat Kuat

koran-jakarta.com | Gaya Hidup | Published at 16/08/2021 00:00
Daya Rekat Alami  yang Sangat Kuat

Keberadaan kerang teritip (Balanus glandula) sebelumnya dipandang seperti hama. Menempelnya teritip di lambung kapal, pelabuhan, batu karang, dan bahkan ikan paus bukan hanya menggangu pemandangan namun juga merugikan secara ekonomi.
Menurut Dinas Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (National Oceanic and Atmospheric Administration/NOAA), kerang teritip merupakan jenis krustasea (crustacean) kecil lengket. Cangkangnya terdiri dari beberapa lempengan putih yang membantu melindungi dari pemangsa dan dari kekeringan.
NOAA memperkirakan lebih dari 1.400 spesies teritip yang ditemukan di perairan dunia. Teritip yang paling umum disebut teritip tanpa tangkai atau teritip biji (acorn barnacles). Bagi mereka yang sering melakukan aktivitas di laut tentu mengenal teritip tesebut karena kemampuan menempel yang luar biasa.
Seperti diketahui menghilangkan teritip dari lambung kapal membutuhkan minyak khusus atau mesin semprot bertekanan tinggi. Pasalnya teritip memiliki zat rekat semacam lem alami paling kuat. Kekuatan tariknya mencapai 5.000 pon per inci persegi dan kekuatan perekat 22-60 pon per inci persegi.
Dengan kekuatan lem kerang teritip yang sangat luar biasa itu tidak heran membuat banyak peneliti mencoba mencari tahu bagaimana lem itu bisa digunakan secara komersial untuk menjawab kebutuhan perekatan benda-benda.
Masih menurut NOAA, kerang teritip hidup pada tempat dengan banyak aktivitas seperti gunung berapi bawah laut dan zona intertidal di mana mereka berada di atas benda kokoh seperti batu, tiang pancang, dan pelampung.
Bukan hanya benda diam, benda bergerak seperti perahu dan lambung kapal dan bahkan ikan paus sangat rentan terhadap gangguan makhluk ini. Koloni teritip yang besar pada lambung kapal menyebabkan beban berat saat berlayar dan memboroskan bahan bakar.
Angkatan Laut Amerika Serikat memperkirakan pertumbuhan teritip di kapal meningkatkan berat dan tarikan sebanyak 60 persen. Hal tersebut berdampak pada peningkatan konsumsi bahan bakar sebanyak 40 persen.
Cara makan kerang teritip dilakukan melalui alat semacam bulu yang disebut cirri. Alat ini dengan cepat memanjang dan memendek kembali melalui lubang di bagian atas teritip. Dengan alat tersebut teritip menyisir air untuk mencari organisme mikroskopis. hay/I-1

Artikel Asli