Puan Kritik Pemerintah soal Vaksinasi yang Kurang Meluas, Apa Perlu Dikasih Contoh Baliho Dulu?

Gaya Hidup | mojok.co | Published at Rabu, 11 Agustus 2021 - 04:44
Puan Kritik Pemerintah soal Vaksinasi yang Kurang Meluas, Apa Perlu Dikasih Contoh Baliho Dulu?

MOJOK.CO - Puan Maharani kritik Pemerintah yang kurang maksimal dalam program vaksinasi. Kurang meluas, masih banyak masyarakat yang tidak tersentuh.

Hampir satu bulan ini, Ketua DPR RI, Puan Maharani, tampak begitu agresif dengan Pemerintahan Jokowi. Dikit-dikit kritik, dikit-dikit kritik.

Kritik terbaru, Puan menyoroti penyebaran vaksin Covid-19 yang masih kurang merata. Masih banyak daerah yang belum tersentuh program vaksinasi oleh Pemerintahan Jokowi ini.

Kalau pemerintah ingin menerapkan syarat sertifikat vaksin, cakupan vaksinasi juga harus terus diperluas. Jangan sampai ada warga yang belum divaksin karena alasan kuota vaksin di wilayah terbatas, jadi terhalang untuk mengakses tempat umum, kata Puan Maharani.

Sebelumnya, Puan Maharani juga sempat mengkritik soal program PPKM level 4 dalam hal memberi batas waktu makan di warung yang dibatasi 20 menit.

Katanya, kebijakan yang tidak jelas itu berisiko bikin Pemerintah dibuli dan malah bikin masyarakat bercandain peraturan itu.

Kalau ini dibiarkan tanpa penjelasan, dan akhirnya hanya menjadi lelucon di tengah masyarakat, katanya saat itu.

Dua kritik ini sebenarnya menggambarkan betapa Puan Maharani lebih berpengalaman dengan Pemerintah dalam dua hal. Pertama, soal luas cakupan program. Kedua, soal dijadiin lelucon oleh masyarakat.

Bagian pertama dulu. Gini.

Sebagai seorang politisi yang dikenal di mana-mana, Puan sangat andal dalam memaksimalkan program pemerataan ekonomi.

Di saat Pemerintah empot-empotan mengangkat ekonomi negara karena efek pandemi, Puan sudah bergerak dengan membantu ekonomi masyarakat di akar rumput. Bahkan tidak sekadar membantu di akar rumput, Puan Maharani tercatat banyak menjalankan roda perekonomian di banyak daerah di Indonesia.

Lebih hebatnya lagi, bantuan ini tidak melibatkan APBN (setidaknya yang rakyat tahu ya) alias tidak membebani keuangan negara. Semua program ini keluar dari kocek partainya Puan sendiribahkan mungkin blio tombok sendiri juga.

Program inilah yang kemudian dikenal oleh masyarakat dengan sebutan program Kepak Sayap Kebhinekaan berupa baliho estetik yang menghiasi banyak titik di Indonesia.

Pendirian baliho inilah yang kemudian secara langsung menggerakkan ekonomi advertising, jasa digital printing, jasa desain, jasa tukang pasang baliho, dan macam-macam turunannya. Tanpa banyak fa-fi-fu, tanpa banyak koar-koar di media, Puan langsung bergerak menyelamatkan bisnis periklanan Indonesia. Warbiyasah, warbiyasah.

Cakupan baliho Puan Maharani ini sedikit banyak seperti menampar program vaksinasi pemerintah. Blio yang hanya seorang Ketua DPR RI, mampu menjalankan program skala nasional dengan melibatkan banyak stakeholder daerah-daerah. Bandingkan dengan Pemerintah yang lebih banyak memiliki resource.

Apa iya Pemerintahan Jokowi harus dikasih kursus singkat dulu supaya program vaksinasinya bisa meluas seperti baliho Kepak Sayap Kebhinekaan milik Puan? Mbak Puan nggak mau ngajarin Pak Jokowi nih?

Selanjutnya, soal poin nomor dua, Puan Maharani jauh lebih paham soal jadi bahan lelucon masyarakat, ketimbang Pemerintah. Setidaknya dalam dua tahun belakangan ini.

Gara-gara program Kepak Sayap Kebhinekaan milik Puan Maharani ngidap-idapi sampai ke mana-mana, beragam meme muncul di media sosial sebagai bagian dari respons publik.

Kayak gini contohnya:

pic.twitter.com/kKaQia3AXX

schmoog (@berflovver) August 10, 2021


Atau ini:

... pic.twitter.com/PaYCW7jg50

C (@Satria_uun) August 11, 2021

Harus diakui, Puan adalah salah satu pihak yang paling sering jadi bahan lelucon masyarakat. Bahkan sebelum isu ribuan baliho ini, blio sudah kena sejak jadi Menteri Sosial yang nggak ada kerjaan masalah apa-apa, lalu ketika awal jadi Ketua DPR RI matiin mic seorang anggota DPR yang lagi berpendapat semua itu sudah jadi bahan baku lelucon untuk blio.

Oleh sebab itu, soal pengalaman merasakan jadi bahan lelucon itu ada baiknya Pemerintah memperhatikan nasihat dari Ketua DPR RI ini. Termasuk juga pengalaman dalam menyelesaikan program menyebar baliho kampanye ke seluruh pelosok Indonesia.

Sebab, seperti halnya pepatah dalam buku tulis merek Sinar Dunia (SiDu)... experience is the best teacher. Terlebih kalau itu experience -nya Mbak Puan. Bukan sembarang best teacher soalnya, udah anaknya kepala sekolah kalau yang ini. Sstt.

Artikel Asli