Berimplikasi Pada Landas Kontinen

koran-jakarta.com | Gaya Hidup | Published at 02/08/2021 00:00
Berimplikasi Pada Landas Kontinen

Studi geologi terbaru yang menyatakan Islandia merupakan sisa dari bagian dari benua yang tenggelam berimplikasi pada landas kontinen negara. Apalagi dalam teori tersebut benua Islandia membentang antara Greenland dan Skandinavia dengan luas lebih dari 600.000 kilometer persegi.
Ahli geografi dan juga Direktur Pusat Penelitian Perbatasan Universitas Durham, Philip Steinberg, mengatakan bahwa teori baru Islandia dapat berimplikasi pada kepemilikan bahan bakar fosil di bawah dasar laut berdasarkan hukum internasional saat ini.
Beberapa negara dapat mengklaim batas negara mereka termasuk dalam landas kontinen atau landas benua atau perluasan perimeter pada masing-masing benua yang terhubung dengan dataran pesisir mereka. Wilayah dasar laut yang relatif dangkal membentang ratusan mil di luar pantai.
Steinberg, yang tidak terlibat dalam penelitian ini mencatat bahwa negara-negara di seluruh dunia menghabiskan banyak uang untuk penelitian geologi yang memungkinkan mereka untuk mengklaim hak mineral eksklusif di bawah landas kontinen mereka.
"Penelitian seperti yang Profesor Gillian Foulger lakukan, memaksa kita untuk memikirkan kembali hubungan antara dasar laut dan geologi kontinental, dapat memiliki dampak luas bagi negara-negara yang mencoba untuk menentukan area dasar laut mana yang merupakan cagar eksklusif mereka," kata Steinberg dalam pernyataannya seperti dikutip Science Alert.
Sementara itu seorang ahli geologi di University of Texas of Austin, Ian Dalziel, yang baru-baru ini memenangkan Medali Penrose untuk karyanya pada geografi kuno dan superkontinen masa lalu mengatakan bahwa dirinya tidak bisa melihat hanya sekilas untuk membenarkan proposal tersebut.
Ia menambahkan, tidak seperti benua yang tenggelam seperti Zealandia yaitu benua yang tenggelam dan terpisah dari Antartika di sekitar Selandia Baru, bahan kerak di wilayah Atlantik Utara tidak cukup untuk membentuk "Benua Islandia".
Sementara itu ahli geofisika dan Direktur Pusat Evolusi dan Dinamika Bumi di Oslo, Carmen Gaina, mengatakan bahwa proposal itu merupakan klaim yang amat berani namun memiliki beberapa masalah, dan keberadaan "Benua Islandia" yang dimaksud amatlah mustahil.
"Pandangan konseptual mereka adalah titik mula yang baik dari awal diskusi dan yang lebih penting, mereka perlu mengumpulkan data yang lebih banyak dan relevan," kata Gaina dan Minakov. "Pengeboran geologi lebih lanjut di dasar laut dan survei seismik yang dapat mengukur kerak dari gema seismiknya pun harus dilakukan," pungkas dia. hay/I-1

Artikel Asli