Mengukur Berapa Lama Antibodi Penyintas Covid-19 Bertahan

bisnis.com | Gaya Hidup | Published at 22/07/2021 13:44
Mengukur Berapa Lama Antibodi Penyintas Covid-19 Bertahan

Bisnis.com, JAKARTA Kasus reinfeksi kini makin banyak, disaat covid-19 varian delta mendominasi di banyak negara.

Hal ini pun menimbulkan tanya. Kenapa orang bisa terinfeksi ulang? Padahal, beberapa literasi menyatakan bahwa pasien covid-19 yang sembuh memiliki antibodi untuk melindungi dirinya dari penularan ulang.

Jadi, apakah artinya antibodi tidak terbentuk, atau justru virus semakin mengganas sehingga bisa menjebol pertahanan antibodi alami para penyintas.

Dikutip dari Alodokter, alasan kenapa penyintas dianggap memiliki antibodi alami karena pada dasarnya, sistem kekebalan tubuh manusia mampu mengingat virus, bakteri, atau parasit yang pernah masuk ke dalam tubuh.

Dengan demikian, tubuh akan lebih cepat memberikan reaksi untuk melawan serangan yang sama di kemudian hari sehingga tidak sampai terjadi infeksi.

Namun, belum diketahui secara pasti berapa lama antibodi alami tersebut dapat melindungi tubuh dari virus Corona.

Sayangnya, beberapa studi yang dirilispun tidak menyebutkan secara pasti berapa lama antibodi alami ini bisa bertahan.

Bahkan hasil studi mereka menunjukkan waktu yang berbeda. Ada yang menyebut bisa bertahan hingga 6 bulan, ada yang menyebut 12 bulan. Di Indonesia sendiri para penyintas dianjurkan menjalani vaksinasi 3 bulan setelah sembuh.

Merujuk pada Surat Edaran Kementerian Kesehatan Nomor HK.02.02/II/368/2021 dan rekomendasi Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), penyintas COVID-19 dapat divaksinasi 3 bulan setelah dinyatakan sembuh.

Peraturan yang sama juga berlaku pada orang-orang yang terinfeksi virus Corona setelah menerima vaksin COVID-19 dosis pertama. Mereka akan mendapatkan vaksin dosis kedua 3 bulan setelah sembuh dari COVID-19.

Baca Juga : Studi Thailand Bandingkan Antibodi yang Dihasilkan CoronaVac dan Pasca Infeksi Covid-19

Pemberian vaksin COVID-19 dengan jeda 3 bulan setelah sembuh dianggap sebagai waktu terbaik untuk mengoptimalkan pembentukan antibodi di dalam tubuh. Dengan demikian, sistem kekebalan tubuh akan lebih kuat untuk melawan virus Corona.

Para penyintas yang ingin donor konvalesenpun umumnya dianjurkan melakukan donor maksimal 3 bulan setelah sembuh, karena dalam jangka waktu itu dianggap memiliki antibodi terbaik dalam tubuhnya.

Karena itu, perlu penelitian lebih lanjut untuk memastikan berapa lama antibodi pada penyintas covid-19 mampu bertahan.

Selain antibodi, penyintas juga perlu mengukur aktivitas T sel sebagai kekebalan seluler. Tes yang satu ini, lebih rumit dan lebih mahal.

Sel T atau limfosit T adalah kelompok sel darah putih yang memainkan peran utama pada kekebalan seluler. Sel T mampu membedakan jenis patogen dengan kemampuan berevolusi sepanjang waktu demi peningkatan kekebalan setiap kali tubuh terpapar patogen.

Hal ini dimungkinkan karena sejumlah sel T teraktivasi menjadi sel T memori dengan kemampuan untuk berproliferasi dengan cepat untuk melawan infeksi yang mungkin terulang kembali. Kemampuan sel T untuk mengingat infeksi tertentu dan sistematika perlawanannya, dieksploitasi sepanjang proses vaksinasi, yang dipelajari pada sistem imun adaptif.

Aktivasi sel T memberikan respon kekebalan yang berlainan seperti produksi antibodi, aktivasi sel fagosit atau penghancuran sel target dalam seketika. Dengan demikian respon imun adaptif terhadap berbagai macam penyakit dapat diterapkan.

Sel T memiliki prekursor berupa sel punca hematopoietik yang bermigrasi dari sumsum tulang menuju kelenjar timus, tempat sel punca tersebut mengalami rekombinasi VDJ pada rantai-beta reseptornya. "T" pada kata sel T adalah singkatan dari kata timus yang merupakan organ penting tempat sel T tumbuh dan menjadi matang.

Cara kerja antibodi melawan virus

Mengutip Halodoc, ketika virus masuk dan menginfeksi, tubuh akan menciptakan antibodi untuk melawan virus tersebut. Lalu, bagaimana sebenarnya antibodi ini bekerja dalam melindungi tubuh dan melawan infeksi virus yang masuk?

Sistem imunitas tubuh ternyata tersusun atas beberapa bagian, yang kemudian dikenal dengan sistem kekebalan adaptif.

Sistem kekebalan adaptif ini memiliki ciri khas yang kemudian dimanfaatkan dalam pembuatanvaksin. Sel kekebalan adaptif bekerja dengan melibatkan dua jenis limfosit atau sel darah putih, yaitu sel T dan sel B. Sel T bertugas untuk membunuh sel tubuh yang terinfeksi oleh virus dan menghasilkan sejenis protein yang disebut dengan sitokin. Sedangkan sel B, akan bertugas untuk membuat protein antibodi yang bisa menempel pada virus, sehingga tidak masuk ke dalam sel.

Selanjutnya, sitokin akan menjalankan tugasnya untuk mengubah sel B menjadi sel dengan usia yang lebih panjang dan bisa menghasilkan antibodi yang lebih baik lagi. Nantinya, sel B inilah yang akan menjadi memori pada imunitas tubuh, sehingga akan dengan cepat merilis antibodi khusus apabila tubuh terkena paparan virus kembali.

Baca Juga : Kabar Baik! Penelitian Terbaru: Penyintas Covid-19 Punya Antibodi Hingga 9 Bulan

Umumnya, kekebalan sel B berikut kekebalan sel T dan antibodi akan bersama-sama melawan virus yang masuk ke dalam tubuh. Meski begitu, studi menemukan bahwa tidak sedikit orang yang terkena paparan virus corona yang memiliki sel T dan antibodi terhadap virus ini.

Sayangnya, studi lain menunjukkan bahwa antibodi tubuh yang tidak mampu bekerja dengan lebih baik pada orang dengan kondisi COVID-19 akan membuat gejalanya tidak menghilang selama berminggu-minggu atau bahkan bulan setelah terinfeksi. Kondisi ini disebabkan karena protein mengganggu proses mekanisme pertahanan, bahkan mampu menyerang organ tubuh.

Setelah infeksi terjadi, tingkat antibodi akan mulai menurun, tetapi sel T dan sel B akan bertahan lebih lama. Penelitian lainnya menunjukkan bahwa antibodi COVID-19 akan mengalami penurunan selama tiga bulan. Bahkan, dalam beberapa kondisi antibodi menjadi tidak bisa dideteksi. Kecepatan dan skala penurunan antibodi ini berbeda pada pria dan wanita.

Cara mengecek antibodi

Satu-satunya jalan untuk mengetahui tingkat antibodi dalam tubuh yakni dengan melakukan pemeriksaan Anti SARS-CoV-2 Kuantitatif.

Tes ini, merupakan pemeriksaan untuk mengukur antibodi kuantitatif in vitro (termasuk IgG) terhadap receptor binding domain (RBD) protein Spike (S) SARS-CoV-2 yang bertujuan untuk menilai respons imun humoral adaptif terhadap protein Spike SARS-CoV-2.

Tujuan dari tes ini, adalah untuk melihat titer antibodi netralisasi pada pasien yang pernah positif COVID-19 serta untuk menilai efektivitas vaksinasi yang rencananya akan dilakukan dalam skala besar di Indonesia serta monitoring titer antibodi pasca vaksinasi.

Biasanya, pemeriksaaan ini dilakukan menggunakan sampel darah, baik serum maupun plasma.

Baca Juga : Uji Klinis : Vaksin Covid Sinovac Efektif Perkuat Antibodi Anak hingga 98,9 persen

Pemeriksaan bisa dilakukan mulai 2 minggu setelah terkonfirmasi positif SARS CoV-2 (RT PCR dan Antigen), 2 minggu sebelum dan sesudah vaksin covid yang ke 2, atau sebelum melakukan donor plasma.

Antibodi yang terbentuk pada kasus COVID-19 adalah antibodi IgG, yaitu jenis antibodi yang muncul saat antigen seperti virus atau kuman tertentu masuk ke dalam tubuh. Saat hal itu terjadi, sel-sel darah putih akan mengingat antigen tersebut dan mulai membentuk antibodi IgE untuk melawan paparannya. Ada sejumlah tes antibodi yang bisa dilakukan, salah satunya IgG SRBD/SARS COV-2 Quantitative Test.

Hasil studi terkait antibodi pada penyintas covid-19 yang dilakukan selama pandemi terjadi :

1. Penelitian BMJ 5 Bulan

Menurut sebuahstudi yang diterbitkan British Medical Journal (BMJ)yang diterbitkan pada awal tahun 2021 ini,para penyintas COVID-19 kemungkinan akan terlindungi dari penularan virus korona selama lima bulan.

Penelitian ini juga menemukan bahwaorang yang pernah terinfeksi sebelumnya memiliki risiko terinfeksi kembali sebesar 83% lebih rendahdibandingkan dengan orang yang belum pernah terinfeksi. Selain itu, meskipun memiliki risiko infeksi ulang rendah,para penyintas COVID-19 masih dapat membawa virus di hidung atau tenggorokan serta menularkannya ke orang lain.

2. Penelitian Italia - 9 Bulan

Penelitian terbaru dari Italia tersebut menemukan fakta jika penyintas Covid-19 masih memiliki antibodi terlepas dari apakah seseorang memiliki gejala atau tidak.

Hasil itu dari studi pada 98,8 persen warga yang ditemukan positif Covid-19 pada Februari atau Maret 2020. Dan ditemukan dengan tingkat antibodi yang terdeteksi pada November 2020.

"Hasilnya menunjukkan bahwa sementara semua jenis antibodi menunjukkan beberapa penurunan antara Mei dan November, tingkat peluruhannya berbeda tergantung pada pengujiannya, kata Imperial College London.

Sementara itu, tingkat antibodi ditemukan meningkat pada beberapa orang, menunjukkan potensi kasus infeksi ulang oleh virus dan memberikan dorongan pada sistem kekebalan tubuh.

Baca Juga : AS Pertimbangkan Beri Suntik Vaksin Covid-19 Booster untuk Orang dengan Kekebalan Lemah

Sampel dari masyarakat Vo menggunakan tiga uji imun yang mendeteksi antibodi terhadap antigen spike dan nukleokapsid, uji netralisasi, dan Reaksi Rantai Polimerase (PCR).

3. Labcorp - 10 Bulan

Pada penelitian sebelumnya, Studi Labcorp menyatakan antibodi pada penyitas Covid-19 dapat bertahan setidaknya 10 bulan setelah terinfeksi.

Dikutip dari laman resmi labcorp, Rabu (21/7/2021) penelitian tersebut dilakukan lebih dari 39.000 orang.
Analisis dilakukan pada Maret 2020 dan Januari 2021.

Hasilnya, hampir 87 persen pasien Covid-19 yang terinfeksi secara alami mempertahankan antibodi terhadap protein SARS-CoV-2 setidaknya selama 10 bulan.

Analisis observasional kami memberikan garis waktu yang menggembirakan untuk pengembangan dan keberlanjutan antibodi di antara populasi AS, kata David Alfego, PhD, ilmuwan data senior Labcorp.

4. NIAID dan NCI - 8 Bulan

Penelitian yang didanai oleh National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID) dan National Cancer Institute (NCI) pada diterbitkan pada 6 Januari 2021 menyatakan sistem kekebalan memiliki ingatan yang tahan lama tentang virus Covid-19 hingga delapan bulan setelah infeksi.

Penelitian tersebut dilakukan dari lebih dari 95 persen orang yang pulih dari Covid-19.

Dikutip dari nih.gov, Rabu (21/7/2021) hasil penelitian itu memberikan harapan bahwa orang yang menerima vaksin SARS-CoV-2 akan mengembangkan ingatan kekebalan yang sama setelah vaksinasi.

Setelah orang sembuh dari infeksi virus Covid-19, sistem kekebalan menyimpan ingatannya. Sel kekebalan dan protein yang beredar di dalam tubuh dapat mengenali dan membunuh patogen jika ditemui lagi, melindungi dari penyakit dan mengurangi keparahan penyakit.

5. Laboratorium Imunologi Molekuler Universitas Rockefeller - 1 tahun

Dilain tempat, kepala Laboratorium Imunologi Molekuler Universitas Rockefeller, Michel Nussenzweig, MD, PhD, dan rekan menemukan bahwa antibodi terhadap SARS-CoV-2 terus berkembang hingga satu tahun setelah infeksi.

Nussenzweig mengkarakterisasi kekebalan pada sekelompok pasien dewasa yang pulih sekitar 1 bulan dan 6 bulan setelah gejala Covid-19 mereka dimulai. Beberapa peserta penelitian kembali pada bulan Februari atau Maret untuk pengambilan darah lanjutan selama 12 bulan.

Dikutip dari jamanetwork, Rabu (21/7/2021) Kami ingin memahami bagaimana kekebalan berkembang setelah infeksi, kata Nussenzweig.

6. Moderna - 6 bulan

Salah satu produsen vaksin covid-19 Moderna menyatakan antibodi dapat bertahan 6 bulan setelah dosis kedua vaksin mRNA-1273 untuk Covid-19.

Berdasarkan hasil sementara dari uji coba fase 3 vaksin Moderna mRNA-1273 (SARS-CoV-2), hasilnya menunjukkan kemanjuran 94% dalam mencegah Covid-19.

Baca Juga : Studi Ungkap Vaksin Covid-19 Sinopharm Efektif Lawan Varian Delta

Dikutip dari laman nejm.org, Rabu (21/7/2021) meskipun titer antibodi dan tes yang paling berkorelasi dengan kemanjuran vaksin saat ini tidak diketahui, antibodi yang ditimbulkan oleh mRNA-1273 bertahan hingga 6 bulan setelah dosis kedua.

Hasil tersebut dideteksi oleh tiga tes serologis yang berbeda. Saat ini studi yang sedang berlangsung memantau tanggapan kekebalan lebih dari 6 bulan serta menentukan efek dosis penguat untuk memperpanjang durasi dan luasnya aktivitas terhadap varian virus yang muncul.

7. Jepang - 1 Tahun

Sebuah tim Jepang mengatakan bahwa 97% penyitas Covid-19 memiliki antibodi penawar setahun setelah infeksi.

Berdasarkan data dari thejapantime, Rabu (21/7/2021) tim yang dipimpin oleh profesor Universitas Kota Yokohama, Takeharu Yamanaka, melakukan analisis terhadap 250 orang yang tertular virus Covid-19 antara Februari dan April tahun lalu.

8. Korea Selatan dan Australia - 8 Bulan

Dua negara berbeda benua, yaitu Korea Selatan dan Australia menemukan bahwa antibodi Covid-19 bertahan 8 bulan.

Keduanya memiliki alasan yang berbeda meskipun hasilnya sama. Dikutip dari cidrap, Rabu (21/7/2021)
Studi pertama, yang diterbitkan di Science Immunology, mengikuti sekelompok kecil warga Australia dari hari ke-4 hingga hari ke-242 setelah infeksi. Semua pasien menunjukkan adanya sel B memori kekebalan yang mengingat protein virus dan dapat memicu produksi antibodi yang cepat. Dan terdeteksi selama 8 bulan setelah infeksi awal.

Studi kedua menyelidiki tanggapan antibodi pada 58 pasien Covid-19 yang dikonfirmasi di Korea Selatan 8 bulan setelah infeksi SARS-CoV-2 tanpa gejala atau ringan, menemukan tingkat antibodi serum yang tinggi.

Artikel Asli