Terawan: Orang yang Sudah Divaksin Konvensional Boleh Suntik Vaksin Nusantara

jatimtimes.com | Gaya Hidup | Published at 20/07/2021 15:13
Terawan: Orang yang Sudah Divaksin Konvensional Boleh Suntik Vaksin Nusantara

INDONESIATIMES - Vaksin Nusantara kini kembali menjadi perbincangan publik. Vaksin gagasan mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto ini memang sempat menjadi pro kontra.

Kendati demikian, Terawan memastikan jika vaksin cipataannya itu tidak masalah jika disuntikkan kembali bagi masyarakat yang sudah divaksin konvensional. Diketahui, saat ini Indonesia kedapatan 4 jenis vaksin yang sudah lulus BPOM dan disebar ke masyarakat yakni Sinovac, AstraZeneca, Sinopharm dan Moderna.

"Mudah-mudahan ini bisa memecahkan kebuntuan selama ini. Meskipun sudah divaksin konvensional tidak ada masalah untuk divaksin nusantara," ucap Terawan dalam webinar yang digelar oleh RSPAD di youtube resminya Senin (19/7/2021).

"Vaksin immunoterapy ini kalau dalam literatur dikatakan pengaruhnya adalah berpuluh tahun, jadi akan awet dalam jangka panjang," lanjut Terawan.

Bahkan, ia percaya jika vaksin nusantara ini diterapkan dapat ikut mengatasi pandemi Covid-19 dengan baik.

"Saya tidak menggunakan istilah lain, saya ikut literatur aja bahwa efektif sel memorinya adalah berpuluh tahun dan ini menurut saya akan menjadi sebuah legend bagi RSPAD Gatot Subroto selaku RS milik TNI yang terdepan," ucap Terawan.

Sebelumnya, Terawan menyebut bahwa hanya vaksin nusantara-lah yang bisa menghentikan pandemi Covid-19 di Indonesia.

"The begining the end cancer and covid-19, Artinya apa? dunia sepakat punya hipotesis bahwa yang akan menyelesaikan hal ini, covid-19 adalah dendritik sel vaccine immunoterapy atau vaksin nusantara," ujarnya.

Pria 56 tahun itu juga menambahkan, vaksin nusantara sangat mudah hanya mengubah antigennya menjadi antigen artificial atau antigen rekombinan covid-19 sarscov2.

"Artinya apa? artinya kita bisa menyesuaikan kapan saja mau mutasi kaya apa bisa kita sesuaikan. Dampaknya apa? ketahanan, kesehatan nasional menghadapi pandemi ini bisa kita atasi dengan membuat imunitas yang baik utk setiap warga negara," jelas Terawan.

Fakta-fakta Vaksin Nusantara

1. Komponen utamanya bukan buatan Indonesia

Vaksin yang diklaim bisa diproduksi dalam periode 1 minggu ini, bukan sepenuhnya buatan Indonesia. Karena komponen utamanya bukan diproduksi oleh anak bangsa.

Kepala BPOM Penny K Lukito menyatakan semua komponen utama yang digunakan dalam pengembangan Vaksin Nusantara diimpor dari Amerika Serikat (AS).

Komponen utama yang dimaksud yakni antigen, Granulocyte-macrophage colony-stimulating factor (GM-CSF), medium pembuatan sel, dan alat-alat persiapan. Penny menyebut, tak masalah apabila memang bahan baku diimpor dari luar negeri. Ia membiarkan masyarakat menilai vaksin ini.

3. Belum mengantongi izin dari BPOM

Vaksin Nusantara ini pun menuai kontroversi lantaran belum memperoleh izin dari BPOM, karena dinilai vaksin tersebut belum sesuai kaidah medis.

Uji klinis tahap lanjut untuk Vaksin Nusantara belum mendapat izin karena adanya berbagai alasan. Kepala BPOM menyebut, 20 dari 28 subjek penelitian vaksin nusantara mengalami kejadian tidak diinginkan, dalam hal ini seperti nyeri otot, nyeri sendi, hingga nyeri kepala.

Penny juga menyebutkan prosedural, vaksin ini belum banyak melewati langkah yang seharusnya dilalui. Di antaranya ialah tak adanya notifikasi persetujuan lolos kaji etik kepada KE setempat, sehingga tak ada kajian dari KE setempat.

Bahkan, BPOM menilai produk Vaksin Nusantara ini tidak steril. Keamanan vaksin tersebut dipertanyakan lantaran vaksin harusnya diproduksi untuk melawan virus Covid-19 yang akan dimasukkan ke dalam tubuh manusia, sehingga perlu diuji betul keamanan dan efek sampingnya.

4. Melibatkan sejumlah tokoh sebagai relawan

Meski belum mengantongi izin BPOM, sejumlah tokoh publik mendukung vaksin nusantara ini. Tokoh publik seperti pengusaha sekaligus politikus Partai Golkar Aburizal Bakrie bahkan menjadi relawan dan tidak mempermasalahkan polemik yang ada.

Sejumlah tokoh lain yang juga menjalani uji klinis vaksin nusantara di RSPAD Gatot Soebroto, di antaranya mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo, mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, dan sejumlah anggota DPR RI.

Bahkan, artis Anang Hermansyah dan Ashanty juga turut menjadi relawan vaksin nusantara, untuk pengambilan sampel darah pada April 2021 lalu.

5. Difasilitasi oleh TNI

Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen TNI Achmad Riad menyatakan, TNI akan mendukung pengembangan vaksin nusantara, asalkan vaksin ini telah mengikuti prosedur dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Riad juga menyatakan, meskipun pengembangan vaksin nusantara bukanlah program TNI, pihaknya tetap mendukung pengembangan vaksin ini dan memberikan fasilitas Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto sebagai bentuk kerja sama.

"Penggunaan fasilitas kesehatan, dan tenaga ahli kesehatan atau peneliti akan diatur dengan mekanisme kerja sama sebagai dasar hukum atau legal standing, dan tanpa mengganggu tugas-tugas kedinasan atau tugas pokok kesatuan," kata Riad dalam keterangan pers seperti yang disiarkan di kanal YouTube Kompas TV.

6. Terapi untuk kanker

Terapi dengan sel dendritik yang digunakan oleh Aivita Biomedical Inc ini sebelumnya dipakai untuk terapi kanker. Pada terapi kanker, sel dipicu dengan protein kanker.

Setelah mulai matang atau mengalami diferensiasi, sel dendritik ini disuntikkan kembali kepada orang yang memiliki darah dan kanker tersebut. Metode ini sudah mendapat izin di Amerika Serikat (AS) sebagai salah satu metode terapi kanker.

Namun, perusahaan pengembang bangkrut karena metode tersebut membutuhkan biaya yang besar.

Artikel Asli