Mengenal Imunoterapi, Pengobatan bagi Pasien Kanker Kepala dan Leher

okezone | Gaya Hidup | Published at 13/07/2021 14:27
Mengenal Imunoterapi, Pengobatan bagi Pasien Kanker Kepala dan Leher

TERNYATA tak banyak orang yang mengenal dengan kanker kepala dan leher. Sejatinya tumor ganas ini berkembang di dalam atau sekitar tenggorokan, laring, hidung, amandel, sinus dan mulut.

Sel kanker akan bermula pada sinus paranasal dan rongga hidung dan mulut. Juga kelenjar ludah, pangkal tenggorokan, serta rongga di belakang hidung dan mulut yang menghubungkan keduanya ke kerongkongan.

pasien kanker

Dokter Spesialis Penyakit Dalam dengan sub-spesialis dalam Hematologi, dr Andhika Rachman SpPD KHOM mengatakan, masyarakat waspada terhadap kanker kepala dan leher. Sebab memang banyak pasien memang yang tidak menyadari ketika dirinya menderita penyakit tersebut.

"Tidak ada asap kalau tidak ada api. Kalau ada perubahan biologis pasti ada gejala yang muncul. Misal keluhan penurunan berat badan drastis tidak disadari, kurang nafsu makan hingga ada mimisan, itu salah satu gejala," papar Dokter Andhika, Selasa, (13/7/2021).

Beberapa gejala, terang Dokter Andhika, harus diwaspadai, seperti muncul adanya mimisan. Nasofaring dan orofaring mimisan atau hidung terasa penuh, keluhan sulit bernafas, hingga tidur mengorok. Ciri kanker leher bisa muncul ke lidah, misal rongga mulut ada luka yang sukar sembuh atau sariawan di lidah misalnya.

Gejala lain, misalnya ditemukan benjolan atau karena merasakan telinga dan hidung seperti penuh. Ternyata setelah ditelusuri dari keluhan pasien tersebut ditemukan semacam benjolan.

Tercium bau busuk dari mulut dan hidung harus dikaitkan gejala lain. Sakit kepala terus, hidung terasa penuh ada bengkak di pipi misal di daerah sinus hingga wajah asimetrik, papar Dokter Andhika.

Ia menuturkan bahwa kebanyakan pasien kanker leher dan kepala diketahui ketika sudah dalam kondisi stadium lanjut, yakni stadium IIIB dan IV. "Kebanyakan orang kita itu datang ketika dengan keluhan baru kontrol. Sehingga diketahui setelah stadium lanjut" ungkapnya.

Perlu diwaspadai bahwa kanker kepala dan leher banyak terdiagnosa pada usia diatas 50 tahun dimana risiko hingga dua kali lipat terjadi kepada pria. Masih ada hubungan dengan merokok, laki-laki karena faktor mayoritas risiko rokok tembakau. Bisa 4 hingga 10 kali lipat risiko muncul. Lainnya risiko alkohol, infeksi karena penyakit menular dan virus HPV, jelas dr. Andhika.

Dokter Andhika menjelaskan, semakin cepat terdeteksi maka akan semakin besar pula angka kesembuhan dan survival rate dia. Misal untuk penderita stadium awal memiliki tingkat kesembuhan 85,5%.

Sedangkan penderita kanker yang sudah ada di daerah regional kelenjarnya, angka survival dia 66,8%. Sedangkan yang sudah metastasis dia akan turun menjadi 40%.

Dalam kondisi tertentu, lanjut Doker Andhika, misal ketika lokasi sel kanker jauh dan tidak mungkin dilakukan operasi pengangkatan, maka dapat dilakukan dengan imunoterapi.

Sebagai informasi, imunoterapi adalah pengobatan melawan kanker dengan memanfaatkan sistem kekebalan tubuh seseorang untuk membunuh sel kanker. Imunoterapi memiliki tujuan sama dengan terapi target yang dikembangkan sebelumnya. Hanya perbedaannya selain langsung menyasar sel kanker, imunoterapi juga membuat sel kekebalan tubuh penderita lebih aktif melawan kanker.

Dengan Imunoterapi mampu menghambat waktu kekambuhan penderita kanker menjadi lebih lama. Memiliki efektifitas cukup baik dan bagus. Efek samping tidak berat kemoterapi. Efek samping juga ringan dan pasien bisa beraktivitas dengan baik, ungkap dr Andhika.

Imunoterapi bekerja dimana Pasukan Sel-T akan bekerja memberi perlawanan akan sel kanker. "Ada mekanisme sel kanker tidak dikenali sel imunitas dan bikin kanker bertambh. Tapi tambah obat imunitas perbaiki sistem imun dan buat efektif sel T," ungkapnya.

Dokter Andhika menyebut, imunoterapi merupakan jawaban bagi pengobatan kanker dengan keampuhan maksimal tetapi memiliki efek samping minimal. Diberikan sebagai kombinasi akhir untuk perawatan kanker dan menjadi harapan hidup pasien kanker untuk hidup lebih panjang. Saat ini ia sudah menggunakannya selain untuk pasien kanker kepala dan leher juga untuk kanker payudara, kanker pankreas, dan kanker empedu.

Tiga tahun terakhir ini respon dan animo masyarakat cukup baik. Ini terutama bagi mereka yang menginginkan terapi kanker lebih nyaman dan tidak berat seperti dahulu. Sudah bisa gunakan dan tidak sebabkan perburukan atau drop pasien, paparnya.

Artikel Asli