Misteri Kampung Pitu Gunungkidul yang Hanya Boleh Ditempati 7 Keluarga

goodnewsfromindonesia.id | Gaya Hidup | Published at 13/07/2021 07:30
Misteri Kampung Pitu Gunungkidul yang Hanya Boleh Ditempati 7 Keluarga

Di sisi timur Gunung Api Purba Nglanggeran terdapat sebuah kawasan sakral bernama Kampung Pitu. Memiliki peraturan unik, kampung ini hanya boleh dihuni oleh 7 kepala keluarga (KK). Tidak boleh kurang, tidak boleh lebih.

Selain itu, mereka yang boleh tinggal dan bermukim di tanah yang terletak di Dusun Nglanggeran Wetan ini hanyalah turunan dari Eyang Iro Kromo. Dirinya adalah orang yang pertama kali tinggal di Kampung Pitu ribuan tahun lalu.

Legenda Kampung Pitu berawal dari ditemukannya sebuah pohon kinah Gadung Walung oleh seorang abdi Keraton Yogyakarta. Ternyata di dalam pohon tersebut terdapat sebuah benda pusaka yang konon memiliki kekuatan besar.

"Awalnya Kampung Pitu itu bernama Telogo Guyangan dalam arti Jawa adalah Telaga Tempat Memandikan Ternak (guyangan)," cerita Tetua Kampung Pitu Redjo Dimulyo yang dilansir dari Suara.

Telogo Guyangan pun diyakini merupakan telaga yang awalnya digunakan untuk memandikan kuda sembrani, kuda gaib tunggangan para Bidadari. Konon ceritanya setiap kuda sembrani yang dimandikan di Telogo Guyangan akan meninggalkan jejak di Gunung Api Purba Nglanggeran.

Dulunya para Abdi dalem Keraton sering mengambil telapak kaki kuda tersebut dengan doa-doa tertentu. Cerita ini dipercaya secara turun temurun. Bahkan warga menyakini, sisa tapak kaki kuda sembrani masih ada hingga saat ini.

Di sekitar Telogo Guyangan, sempat diadakan sayembara oleh abdi keraton. Sayembara itu berbunyi, siapa saja yang mampu untuk merawat atau menjaga benda pusaka yang terdapat di dalam pohon kina Gadung Walung, akan diberi imbalan berupa tanah secukupnya untuk anak-anak keturunannya.

Kala itu ada seseorang yang bernama Iro Kromo atau sekarang di panggil sebagai Eyang Iro Kromo. Dirinya akhirnya berhasil menjaga pohon tersebut. Akhirnya ia dan anak cucunya diperkenankan tinggal di tempat tersebut.

Keindahan Pantai Srakung yang Diapit Dua Tebing di Gunungkidul

Setelah kejadian tersebut banyak orang-orang sakti yang berdatangan dan ingin tinggal di daerah Kampung Pitu. Namun yang bertahan hanya tinggal tujuh orang sedangkan yang lain meninggal.

"Sekarang pusakanya di mana ya engga kelihatan, tapi ada. Gunung Nglanggeran itu kan kepalanya Gunung Merapi, jadi memang sakral, tanahnya berbahaya di sini. Enggak semua orang kuat tinggal di sini," ujar Redjo.

Salah satu keturunan Eyang Iro Kromo yang masih menetap di Kampung Pitu adalah Redjo Dimulyo. Kakek Redjo kini sudah berusia sekitar 103 tahun, tapi catatan-catatan dari beliaulah yang menjadi warisan bagi anak keturunan warga Kampung Pitu kelak.

Kakek Redjo yang sekarang menjadi pemimpin sekaligus juru kunci Kampung Pitu mengatakan bahwa desanya ini telah ada sejak 1400-an. Namun hal yang menariknya adalah selama waktu yang begitu panjang, desa tersebut baru memiliki empat juru kunci.

"Kalau dihitung enggak masuk akal ya? Masak 600 tahun juru kuncinya baru empat? Tapi eyang saya itu pas meninggal tahun 1925 umurnya 210 tahun, orang dulu memang sakti mandraguna," jelas Kakek Rejo yang dikutip dari Vice.

Tidak jauh dari rumah Redjo, terdapat makam kuno dimana seluruh sesepuh dan warga Kampung Pitu disemayamkan. Dalam bahasa Jawa halus, Redjo menuturkan bahwa pantangan tujuh KK di Kampung Pitu memang sangat genting.

Aturan utamanya soal tujuh KK dan kepemilikan turun-temurun harus dipatuhi, jika tidak nyawa yang jadi taruhannya. Saat ini, Kampung Pitu hanya dihuni tujuh KK dan terdiri dari 30 jiwa.

Mitos yang terus dibuktikan dengan kenyataan

Sekilas Kampung Pitu di Kelurahan Nglanggeran, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), itu seperti kampung pada umumnya. Tapi dengan banyaknya cerita mistis yang mengelilinya, mengundang rasa penasaran mereka yang kuat dan sakti.

Tidak heran banyak wisatawan yang ingin melihat langsung lokasinya. Bahkan ada beberapa pula yang kemudian memutuskan tinggal. Warga di Kampung Pitu mengaku tidak pernah melarang bila ada orang yang ingin tinggal, tapi harus siap menerima risikonya.

"Kalau ada orang ingin tinggal di sini silahkan saja, enggak ada yang ngelarang. Cuma sudah diperingatkan, enggak semua orang kuat tinggal di sini," ujar Redjo.

Dirinya mengingat suatu hari di masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono IX ada satu kyai yang tiba-tiba datang dan bersikukuh ingin tinggal di sana, hingga akhirnya meninggal tanpa sebab. Kejadian tersebut beberapa kali terjadi hingga tidak ada yang berani lagi mencoba.

"Pak Kyai beralasan ini tanah negara jadi bebas ditinggali. Dia mau jadi keluarga ke-8, saya peringatkan kalau itu melanggar adat, dia ngeyel. akhirnya belum selesai bangun rumah, tiba-tiba saja dia meninggal enggak tahu sebabnya," jelasnya.

Menurut Redjo, pantangan itu didasari hukum alam bahwa jumlah semesta itu ada tujuh. Dirinya percaya bahwa desanya adalah papan pancer alias pusat semesta, maka dari itu keseimbangan harus dijaga. Satu-satunya cara yang bisa dilakukan orang luar untuk tinggal di Kampung Pitu adalah dengan menikahi warga sana.

Cerita Malioboro yang Awalnya Dikuasai Pedagang Tionghoa

Selain terkait jumlah keluarga yang harus menempati, ada juga pantangan lain yang masih dipercaya oleh masyarakat Kampung Pitu hingga saat ini. Warga Kampung Pitu dilarang menyelenggarakan pertunjukan wayang, apalagi dengan lakon Raden Ongko Wijaya.

Semasa kecil, Redjo melihat sendiri salah satu warga digorok oleh 'pelaku misterius' ketika kepala desanya menggelar wayangan untuk memeringati ulang tahun. "Kalau punya niat macam-macam, apalagi sampai melanggar pantangan, enggak akan pulang dengan selamat. Tubuhnya mungkin pulang, tapi nyawanya entah kemana," jelas Redjo.

Ekosistem Kampung Pitu yang tetap terjaga

Kampung Pitu sendiri sebenarnya bukan benar-benar kampung, ia adalah bagian kecil dari desa. Rumah-rumah disana berdiri berjauhan, ini karena topografi tanah yang tidak rata dan juga batas kepemilikan tanah yang luas.

Rumah-rumah disana hampir semua berbentuk limasan Jawa, namun beberapa sudah lebih modern. Warga Kampung Pitu menjalankan syariat Islam dengan sinkretisme ajaran Jawa. Di samping rumah, terdapat kandang kambing dan sapi, mereka tidak pernah kekurangan makan.

Pasalnya dengan adanya peraturan adat, secara teknis membuat ekosistem di Kampung Pitu terjaga. Satu keluarga di Kampung Pitu rata-rata punya tanah seluas 1 hektare, secara keseluruhan lebih banyak tanaman ketimbang bangunan buatan manusia.

Kampung Pitu juga bebas dari risiko polusi udara dan suara karena mata pencarian warganya adalah bertani dan berkebun sehingga udara di Kampung Pitu sejuk dan subur. Selama ini, penambahan dan pengurangan KK dalam trah Iro Kromo berlangsung secara organik.

"Seperti sudah diatur. Kalau anaknya banyak, biasanya cuma 1-2 yang tinggal di sini. Kalau ada yang ingin daftar KK sendiri, biasanya ada aja yang tiba-tiba meninggal. Selalu begitu dari dulu, otomatis," jelasnya.

5 Wisata Instagramable di Yogyakarta

Dalino, salah satu warga Kampung Pitu yang menetap setelah menikah dengan salah satu trah keluarga Iro Kromo, tak mau banyak berkomentar tentang aspek mistis desa yang ia tinggali. Soal pantangan tujuh KK pun, ia lebih memilih alasan yang lebih logis.

"Mungkin dari dulu tujuh itu karena akses ke sini memang susah, apalagi kalau hujan jalanan ke bawah itu jadi lumpur semua. Pas saya pindah ke sini masih zaman larangan pangan, panen cuma sekali setahun, itupun diganggu sama hama kera, secara ekonomis susah," jelas Dalino yang dilansir dari Vice.

Memang mitos yang melingkupi Kampung Pitu sulit dijelaskan secara rasional, tapi dampak terhadap ekosistem lingkungan bisa dirasakan oleh warganya sendiri. Karena itu, Redjo sebagai juru kunci masih punya tugas untuk tetap menjaga jalannya tradisi di puncak gunung Nglanggeran tersebut.

"Sayang juga ya, tanahnya luas dan sejuk tapi enggak bisa ditinggali orang lain. Tapi memang harus begitu, harus patuh sama alam," jelas Redjo.

Penulis: Rizky Kusumo
Dirilis pada 13 Juli 2021 07.00 WIB

Good News from Indonesia

Artikel Asli