Perlukah Fogging dan Sterilisasi Tempat Isolasi Mandiri Pasien Covid-19? Ini Kata Ahli

Gaya Hidup | bisnis.com | Published at Rabu, 07 Juli 2021 - 11:20
Perlukah Fogging dan Sterilisasi Tempat Isolasi Mandiri Pasien Covid-19? Ini Kata Ahli

Bisnis.com, JAKARTA - Saat situasi pandemi tinggi seperti ini, pasien covid-19 dengan gejala ringan disarankan melakukan isolasi mandiri di rumah.

Namun, bagi orang yang merawat penderita Covid bingung dan bertanya, apakah perlu sterilisasi atau fogging ruangan di rumah yang telah dijadikan tempat isolasi mandiri penderita Covid?

Menurut ahli patologi klinis, Tonang Dwi Ardyanto, sterilisasi atau fooging tidak perlu dilakukan. Karena, virus penyebab Covid terdapat dalam sel tubuh manusia. Tidak pada jentik, seperti virus penyebab DBD.

Jika untuk DBD, katanya, benar boleh dilakukan sterilisasi atau fogging. Bahkan dilakukan dengan pola waktu yang tepat, agar dapat dengan tepat memotong siklus hidupnya. Pada penderita Covid, tentu saja tidak mungkin melakukan sterilisasi atau fogging terhadap manusianya. Maka, sterilisasi atau fogging sebenarnya bukan pilihan yang tepat. Apalagi menggunakan bahan cairan yang justru tidak ramah lingkungan.

Lantas, bagaimana dengan chamber spray?

Itupun sebenarnya tidak efektif. Yang dilakukan di Vietnam, hanya menggunakan air garam (tentu dengan komposisi atau proporsi, dan mekanisme tertentu). Tujuannya untuk membersihkan hanya bagian luar tubuh. Tentu tidak bisa membersihkan virus di dalam tubuh. Jelas Tonang.

Jadi bagaimana dengan rumah yang penghuninya baru selesai isolasi mandiri? Menurut Tonang sebaiknya hal-hal untuk membersihkan ruangan atau tempat isolasi dilakukan oleh yang bersangkutan, semua pintu dan jendela dibuka. Bersihkan lantai dengan cairan pembersih lantai biasa. Lalu, bersihkan permukaan meja, kursi, peralatan rumah tangga dengan cairan pembersih biasa. Sambil didorongkan angin dengan kipas ke luar rumah.

Tidak perlu disemprot. Kalau Anda merasa benar-benar baru puas bila disemprot, ikuti cara di Vietnam: hanya dengan air garam (konsentrasi rendah, hanya 1/4-1/2 sendok the per 1 L air). Ini maksudnya secara psikis saja. Setelah dilakukan pembersihkan, biarkan tetap terbuka, kipas angin tetap menyala, udara mengalir bebas selama 1-2 jam. Setelah itu, kembali dapat beraktivitas kembali seperti biasa," ujar Tonang.

Penyemprotan untuk Covid memang ada namun untuk dilakukan di ruang-ruang khusus dan tertutup seperti misalnya ruang perawatan pasien di RS, ruang tindakan bedah atau diagnostik dan sejenisnya. Ada komposisi cairannya tersendiri. Tentu ini tujuannya tidak hanya untuk virus covid. Bersifat memang benar-benar membersihkan ruangan-ruangan tersebut. Kemenkes sudah menerbitkan buku tentang hal tersebut sekitar 1 tahun lalu.

Kalau tetangga kita harus di rawat di rumah sakit, sementara rumahnya ditinggalkan kosong, bagaimana cara kita membantu menjaga rumahnya?

Sejauh ini, bertahannya Covid di permukaan benda-benda dengan aliran udara bebas disekitarnya adalah 1-2 jam. Karena, setelah itu droplet akan kering dan virus akan mati.

Syaratnya adalah udara mengalir bebas di sekitarnya. Untuk itu, biarkan dulu rumahnya kosong sampai 24 jam sejak ditinggalkan ke rumah sakit. Buka semua pintu dan jendeka, lalu pasang kipas angina ke arah luar, tinggalkan untuk membersihkan halaman rumah terlebih dahulu.

Tunggu proses ventilasi demikian selama minimal 2 jam. Setelah 2 jam diperbolehkan untuk masuk lagi untuk membersihkan ruangan seperti mengepel lantai.

Artikel Asli