Pemanasan Global Ancam Wilayah Asia

koran-jakarta.com | Gaya Hidup | Published at 28/06/2021 06:00
Pemanasan Global Ancam Wilayah Asia

Pada musim panas 2003, Prancis diterpa gelombang panas berhari-hari. Suhu di negara itu terus naik dan mencapai puncaknya selama delapan hari pada suhu 40 derajat Celsius. Seiring panas yang meningkat, satu per satu orang di sana mulai meninggal.

Banyak dokter dan rumah sakit kewalahan. Kamar-kamar mayat penuh, dan truk-truk berpendingin dan freezer di pasar makanan mengisi kekurangan tempat penampungan mayat itu.

Pemerintah Prancis akhirnya mengaitkan lebih dari 15.000 kematian itu dengan gelombang panas. Italia bernasib lebih buruk, dengan hampir 20.000 kematian yang terjadi akibat gelombang panas.

Di seluruh benua, lebih dari 70.000 orang meninggal dunia. Kebanyakan dari mereka adalah kaum miskin, terisolasi, dan lanjut usia. Para ilmuwan kemudian kemudian menyebut musim panas itu sebagai musim panas terpanas di Eropa dalam 500 tahun, dan menurut mereka, fenomena tersebut jelas terkait dengan perubahan iklim.

Di antara banyak ancaman iklim yang diasosiasikan para ilmuwan dengan pemanasan global antara lain seperti badai yang lebih kuat dan merusak, kekeringan, naiknya permukaan laut, musim kebakaran yang lebih lama. Namun peningkatan gelombang panas adalah yang paling intuitif dan langsung bisa dirasakan karena gas rumah kaca yang dilepaskan oleh aktivitas manusia terus meningkat di atmosfer telah membuat gelombang panas akan menjadi lebih panjang dan hari-hari yang akan kita rasakan menjadi lebih panas.

Secara global dalam enam tahun terakhir (2016-2021) adalah tahun-tahun terpanas yang pernah tercatat. Di barat daya Amerika Serikat (AS), hari-hari dengan suhu tiga digit tiba beberapa pekan lebih awal daripada seabad yang lalu dan bertahan tiga pekan lebih lama.

Di Eropa, musim panas yang mengerikan pada 2003 telah terbukti bukan hanya kesalahan statistik. Gelombang panas besar telah melanda benua itu lima kali sejak itu, dan 2019 membawa rekor suhu sepanjang masa di enam negara Eropa barat, termasuk suhu 114,8 derajat Fahrenheit di Prancis.

Solusi utama untuk pemanasan global, tentu saja, adalah mengurangi emisi gas rumah kaca kita secara drastis. Jika kita gagal sama sekali untuk melakukan itu, maka pada 2100 korban tewas terkait panas bisa meningkat di atas 100.000 orang per tahun di AS.

"Di tempat lain, ancamannya jauh lebih besar. Di India, misalnya, jumlah korban tewas bisa mencapai 1,5 juta orang," menurut hasil penelitian terbaru.

Panas ekstrem memiliki efek merusak bahkan ketika tidak mematikan. Para peneliti menghubungkan suhu yang lebih tinggi dengan insiden yang lebih besar dari bayi prematur, berat badan kurang, dan lahir mati.

Selain itu, kelelahan akibat panas mempengaruhi suasana hati, perilaku, dan kesehatan mental. Cuaca yang lebih panas membuat orang lebih kejam, di seluruh tingkat pendapatan. Gelombang panas juga menurunkan nilai ujian anak-anak dan menyusutkan produktivitas.

Manusia, bersama dengan tanaman dan ternak mereka, berevolusi selama 10.000 tahun terakhir di ceruk iklim yang agak sempit, berpusat pada suhu rata-rata tahunan sekitar 55 derajat Fahrenheit atau hampir 12,8 derajat Celsius. Tubuh kita siap beradaptasi dengan suhu yang lebih tinggi, tetapi ada batasan seberapa banyak panas dan kelembaban yang bisa kita toleransi.

Bahkan orang-orang yang paling cocok dan terbiasa dengan panas akan mati setelah beberapa jam terpapar suhu "bola basah" 95 derajat. Suhu bola basah adalah ukuran gabungan suhu dan kelembaban yang mempertimbangkan efek dingin dari penguapan.

Pada titik 95 derajat ini, udara sangat panas dan lembab sehingga tidak bisa lagi menyerap keringat manusia. Berada di luar ruangan dan berjalan dalam jarak jauh dalam kondisi seperti ini bisa berakibat fatal.

Model iklim memprediksi bahwa suhu bola basah di Asia Selatan dan sebagian Timur Tengah akan, dalam kira-kira 50 tahun, secara teratur melebihi patokan kritis tersebut. Pada saat itu, menurut sebuah studi yang mengejutkan pada 2020 yang dilaporkan pada Proceedings of the National Academy of Sciences, sepertiga dari populasi dunia, yakni di Afrika, Asia, Amerika Selatan, dan Australia, akan tinggal di tempat-tempat yang terasa seperti Sahara saat ini.

Rata-rata suhu tinggi di musim panas di Sahara sekarang mencapai 104 derajat Fahrenheit. Sebagai gambaran, suhu udara tertinggi di Jakarta pada siang hari biasanya hanya mencapai 30 derajat Celsius atau 86 derajat Fahrenheit, tapi banyak orang sudah mengeluh betapa panasnya ibu kota kita ini.

Akibat banyaknya wilayah dunia sudah sepanas Sahara itu, kelak miliaran orang akan menghadapi pilihan yang sulit, bermigrasi ke wilayah dengan iklim yang lebih dingin, atau tetap tinggal dan beradaptasi. Mengurung diri di dalam dalam ruang ber-AC adalah salah satu solusi yang jelas. Namun AC itu sendiri, dalam bentuknya saat ini, turut berkontribusi pada pemanasan planet ini. Selain itu, harga AC juga tidak terjangkau bagi banyak orang yang paling membutuhkannya.

Masalah panas ekstrem terkait erat dengan masalah sosial yang lebih besar, termasuk akses ke perumahan, air, dan perawatan kesehatan. Ini seperti masalah dari neraka.

Jadi jika kita masih meremehkan dampak pemanasan global dan tak kunjung berusaha mencegahnya dengan mengurangi emisi gas rumah kaca, perlahan-lahan kita akan menghadapi masalah neraka itu dan generasi keturunan kita akan lebih menanggung akibatnya pula.

Artikel Asli