Telehealth Booming di Masa Pandemi Covid-19

bisnis.com | Gaya Hidup | Published at 07/05/2021 12:59
Telehealth Booming di Masa Pandemi Covid-19

Bisnis.com, JAKARTA - Saat dunia sedang dilanda ancaman pada kesehatan karena Covid-19, teknologi kecerdasan buatan menjadi sangat dibutuhkan. Kini, semakin banyak aplikasi untuk berkonsultasi seputar kesehatan tanpa perlu bertatap muka dengan dokter alias layanan telehealth.

Dengan berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi, pasien dapat melakukan pertukaran informasi diagnosis, pengobatan, dan bahkan pencegahan penyakit. Pengiriman layanan perawatan kesehatan pun dapat dilakukan meskipun dengan jarak.

Caroline Clarke, Market Leader and EVP Philips Asian Pacific, mengatakan teknologi telehealth ini mulai dipercaya ketika para pemimpin dan pengambil keputusan industri layanan kesehatan di Asia Pasifik mempertimbangkan kehidupan setelah pandemi saat ini, mereka mengambil sikap pragmatis terhadap lokasi dan cara perawatan diberikan.

"Ada konsensus yang berkembang bahwa di masa depan, perawatan rutin dapat diberikan di luar rumah sakit atau fasilitas kesehatan," katanya pada Bisnis, Jumat (7/5/2021).

Caroline mengatakan terdapat beberapa kelompok berbeda untuk adopsi awal di Asia Pasifik. Survei menemukan bahwa India 75 persen termasuk dalam negara-negara yang paling mungkin memprioritaskan transisi ke layanan kesehatan jarak jauh atau virtual, jauh di atas rata-rata negara Asia-Pasifik.

Di saat bersamaan, Singapura menjadi yang pertama dalam mengalihkan perawatan rutin dari rumah sakit ke rumah. Tenaga kesehatan profesional di Singapura memperkirakan bahwa tiga tahun dari sekarang, 45 persen perawatan rutin akan diberikan di rumah.

"Covid-19 telah memperjelas bahwa layanan kesehatan virtual dan jarak jauh dapat dilakukan, jadi kami melihat hal ini akan menjadi fokus untuk beberapa tahun mendatang di wilayah Asia-Pasifik," ujar Calorine.

Untuk saat ini, beberapa pihak tengah mengedukasi masyarakat tentang manfaat teknologi serta melatih kemampuan mereka untuk menggunakannya. Hal ini sama pentingnya dengan melatih tenaga kesehatan profesional.

Mereka juga memfasilitasi adopsi telehealth di kalangan generasi yang lebih tua sebagai kelompok usia yang paling diuntungkan dengan layanan itu.

Menurut laporan dari Philip, di Asia-Pasifik, investasi artificial intelligence atau kecerdasan buatan dalam layanan kesehatan saat ini difokuskan terutama untuk tugas-tugas administratif, seperti untuk mengoptimalkan efiesiensi operasional (27 persen) daripada untuk aplikasi klinis dan diagnostik dan untuk mengintegrasikan diagnosis (16 persen).

Menurut Caroline, investasi kecerdasan buatan itu masih perlu diperbaiki, dan para pemimpin serta pengambil keputusan industri kesehatan harus benar-benar mendorong penerapannya yang lebih luas supaya dapat melihat potensi penuh AI di wilayah Asia-Pasifik.

"Telehealth dapat sangat bermanfaat bagi negara dengan populasi yang besar serta disparasi tinggi seperti Indonesia, terutama dalam meningkatkan akses terhadap layanan kesehatan bagi masyarakat di daerah terpencil," tutupnya.

Artikel Asli