Fintech Berpotensi Besar Salurkan Pendanaan Produktif UMKM

Gaya Hidup | youngster.id | Published at Kamis, 22 April 2021 - 10:25
Fintech Berpotensi Besar Salurkan Pendanaan Produktif UMKM
Usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) memiliki kontribusi dan peran yang besar bagi perekonomian Indonesia, dengan menyumbang 61% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan menyerap 97% dari total tenaga kerja (BPS, 2018). Dengan kontribusi tersebut, peran pemerintah dalam menjadikan UMKM sebagai salah satu sektor prioritas dalam strategi kebijakan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) menjadi sangat krusial. Ketua Indonesia Fintech Society (IFSoc), Mirza Adityaswara ,mengapresiasi pemerintah dan regulator yang terus mendorong peningkatan penyaluran kredit UMKM oleh perbankan dan Fintech. Dia berpendapat, potensi Fintech P2P lendingdapat lebih besar dengan mengoptimalkan peran P2P lending di UMKM, seperti memanfaatkan data transaksi UMKM yang tercatat melalui QRIS sumber informasi penting untuk alternative credit scoringdi mana saat ini terdapat sekitar 6 juta merchantQRIS yang mayoritas adalah UMKM.“Kuncinya adalah sinergi holistik dengan seluruh pemangku kepentingan guna memperkecil hambatan akses kredit produktif kepada UMKM. Namun kami mencatat P2P lendingjuga harus meningkatkan kehati-hatian dengan memiliki sistem manajemen risiko dan complianceyang baik, serta mengutamakan perlindungan konsumen dan dana investor,” kata Mirza dalam acara Optimalisasi Peran Fintech dalam Pendanaan UMKM, Rabu (21/4/2021).Hal ini ini tercermin dalam data OJK yang mencatat penyaluran pinjaman melalui fintechpendanaan (P2P) tahun 2020 mencapai Rp74,41 triliun, naik 26,47% dibandingkan periode yang sama sebelumnya.Sementara itu Steering Committee Indonesia Fintech Society (IFSoc), Hendri Saparini mengatakan, dalam data AFPI terdapat 46,6 juta pelaku UMKM yang belum mendapatkan akses pembiayaan perbankan karena terbatasnya jangkauan pendanaan dari Bank maupun P2P lending. Untuk mengatasi hal tersebut, IFSoc mendorong fintech P2P lendingberkolaborasi dengan bank sehingga memperluas jangkauan pendanaan produktif dengan limit dan tenor yang sesuai profil risiko. Melalui channelingdengan bank, regulator dapat mempertimbangkan agar P2P lendingyang memenuhi syarat prudentialdapat menyalurkan pendanaan lebih dari Rp2 miliar.IFSoc juga menemukan UMKM seringkali menghadapi masalah tidak mempunyai jaminan ( collateral)yang dapat diserahkan kepada Bank dan memiliki credit scorerendah dalam pengajuan pendanaan UMKM. Untuk itu, IFSoc mendorong Bank dan Fintechuntuk kolaborasi dengan sistem digital seperti e-commerce, ride-hailing, dan lainnya untuk memanfaatkan jejak digital sebagai alat ukur kelayakan pendanaan.“Data Kemenkop UKM menyatakan saat ini sudah ada 12 juta UMKM terdigitalisasi. Untuk itu, bank dan fintechdapat memanfaatkan alternative credit scoringuntuk UMKM, seperti data transaksi digital maupun telekomunikasi (pulsa/tagihan telepon), untuk pelaku UMKM yang belum memiliki rekening bank dan menggantikan collateralyang saat ini menghambat UMKM dalam mendapatkan pendanaan,” kata Hendri Saparini yang juga FounderCORE Indonesia.Menjawab tantangan tersebut, IFSoc mendukung sinkronisasi data UMKM oleh pemerintah, dengan menunjuk satu kementerian/lembaga untuk mengkoordinasikan menjadi big datadengan mengedepankan sharing principledan tetap menjamin keamanan data sesuai peraturan perundangan. “Untuk mendukung pengelolaan data tersebut, pemerintah perlu membuat standarisasi pengumpulan data dan peningkatan sumber daya anggaran dan manusia. Dengan peningkatan kapasitas maka pengumpulan, pengelolaan data serta evaluasi kebijakan dapat dilakukan secara berkesinambungan, dengan mempertimbangkan kondisi pasar serta perkembangan kebutuhan informasi,” ujarnya. FAHRUL ANWAR
Artikel Asli