Loading...
Loading…
Cermati Impor Makanan Jepang

Cermati Impor Makanan Jepang

Gaya Hidup | koran-jakarta.com | Senin, 19 April 2021 - 07:03

Dampak kehancuran Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima Daiichi yang terkena tsunami 11 Maret 2011 belum sepenuhnya selesai. Pihak berwenang di Jepang masih kebingungan membuang 1,25jutaton air limbah dari reaktor nuklir itu.

Gempa 8,9 magnitudo telah memicu tsunami 14 meter pantai timur Jepang yang menghancurkan banyak infrastruktur, termasuk PLTN Fukushima Daiichi. Dalam PLTN terdapat sejumlah reaktor nuklir yang menimbulkan ancaman kontaminasi radiologi daerah sekitar.

Hingga April 2021, Bahkan Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) Amerika Serikat meningkatkan pengawasan terhadap produk dari Jepang. FDA mengungkapkan, beberapa peringatan dan larangan yang dikeluarkan pemerintah negara matahari terbit itu.

Pada 19 Maret 2011, Kementerian Kesehatan, Perburuhan dan Kesejahteraan Jepang menyatakan, terjadi kontaminasi yodium radioaktif produk makanan segar, susu, termasuk susu formula. Pada sampel makanan yang diambil 16-18 Maret 2011, menunjukkan adanya yodium radioaktif lima kali lipat dari tingkat yang dapat diterima.

Kadar yodium radioaktif yang tinggi teridentifikasi dalam produk uji di Kota Kawamata, Prefektur Fukushima dan Ibaraki. Wilayah tersebut memang berada di sekitar PLTN. Walaupun waktu parah hanya sekitar 8 hari dan meluruh secara alami dalam hitungan pekan, tetap berisiko bagi kesehatan.

Jika makan yang mengandung yodium radioaktif tertelan dapat menumpuk di tubuh. Senyawa ini dapat menyebabkan kerusakan kelenjar tiroid dan gangguan metabolisme. Risiko kerusakan paling tinggi bisa terjadi pada anak-anak dan remaja.

pada 21 Maret 2011, PM Jepang memerintahkan Gubernur Prefektur Fukushima, Gunma, Ibaraki, dan Tochigi yang terdampak untuk menghentikan distribusi bayam dan kakina ke pasar. Khusus kepada Gubernur Fukushima diperintahkan untuk menghentikan distribusi susu mentah.

Namun, pada 23 Maret 2011, PM juga melarang peredaran kepala bunga brassicas, sayuran daun kepala, dan sayuran daun bukan kepala. Gubernur Ibaraki juga diperintahkan menghentikan distribusi susu mentah dan peterseli segar. Ini berarti produk semacam itu tidak boleh ditempatkan secara sah di pasar domestik atau ekspor.

Pada 23 Maret 2011 dilaporkan, sayuran dari Chiba dan Saitama mengandung tingkat yodium-131 yang tidak aman. Pada 12 April 2011, Jepang mencabut larangan distribusi bayam dan kakina di Prefektur Gunma. Juga ditarik, kakina dari prefektur Tochigi.

Bertahap

Pada 13 April 2011, pemerintah juga melarang distribusi jamur. Pada 10, 14, dan 17 April 2011, Jepang mencabut larangan peredaran susu, kakina, dan bayam dari Ibaraki. Pada tanggal 9 Mei 2011, FDA meninjau data tambahan yang diterima dari Jepang yang menunjukkan bahwa radiasi tidak lagi terdeteksi pada produk makanan dari Prefektur Gunma, Chiba, dan Saitama.

Produk dari prefektur ini dihapus dari Penahanan Tanpa Pemeriksaan Fisik. Pada tanggal 2 Juni 2011, PM melarang distribusi daun teh di Ibaraki dan Tochigi. Pada 27 Juni 2011, teh juga dilarang beredar di Kanagawa dan Fukushima.

Pemerintah secara bertahap menghapus larangan produk-produk pertanian. Maret 2021, Pemerintah Jepang menghapus Chars (Iwana) dari Prefektur Iwate. FDA mengakui bahwa Jepang sedang mengambil langkah untuk mengatasi masalah ini. FDA akan terus mendukung.

Divisi bea cukai AS dapat menahan, tanpa pemeriksaan fisik, produk tertentu dari Prefektur Fukushima, Aomori, Chiba, Gumna, Ibaraki, Iwate, Miyagi, Nagano, Niigata, Saitama Shizuoka, Tochigi, Yamagata, dan Yamanashi.

FDA dan Jepang akan terus bekerja sama memastikan produk dari prefektur yang terkena dampak agar tidak menimbulkan risiko kesehatan bagi konsumen AS. FDA terus memantau risiko kesehatan masyarakat atas kontaminasi radionuklida. Bila perlu mengaktifkan peringatan impor dan melanjutkan produk-produk yang dilarang.

Original Source

Topik Menarik

{
{
{
{
{