Konflik Iran-UEA Uji Kekompakan BRICS di Tengah Gonjang-ganjing Ekonomi Global

Konflik Iran-UEA Uji Kekompakan BRICS di Tengah Gonjang-ganjing Ekonomi Global

Ekonomi | sindonews | Jum'at, 11 September 2026 - 09:00
share

Para negosiator BRICS berpacu menjembatani perbedaan antara Iran dan Uni Emirat Arab (UEA) menjelang KTT BRICS ke-18 di New Delhi, India, pada 12-13 September 2026. Perpecahan tersebut mengancam upaya 11 negara anggota menghasilkan deklarasi bersama di tengah dampak konflik Iran terhadap perdagangan energi dan perekonomian global.

"Perbedaan antara Iran dan UEA memberikan dampak negatif terhadap upaya menyusun deklarasi bersama," kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov seperti dikutip Reuters, Jumat (11/9/2026).

Baca Juga:Buang Dolar AS, BRICS Siapkan Jalur Pembayaran Rahasia untuk Geser Dominasi Barat

Dia mengatakan masih ada harapan para pemimpin BRICS dapat menemukan rumusan yang dapat diterima seluruh anggota. KTT tersebut berlangsung lebih dari enam bulan setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran, yang menjadi anggota BRICS sejak 2024. Konflik tersebut mengganggu perdagangan minyak melalui Selat Hormuz dan mendorong harga minyak mentah menembus USD100 per barel, sementara UEA yang terkena serangan rudal Iran dilaporkan menghentikan perdagangan dan transaksi keuangan dengan Teheran pada Agustus.

India, sebagai tuan rumah sekaligus pemegang kepemimpinan BRICS tahun ini, berupaya merumuskan bahasa yang menekankan prinsip yang lebih umum seperti larangan agresi dan penghormatan terhadap Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), tanpa secara langsung menyalahkan negara tertentu. Pendekatan tersebut dipandang sebagai upaya New Delhi menjaga hubungan dengan Teheran maupun Abu Dhabi sekaligus mempertahankan kesatuan blok.

Upaya mencari konsensus bukan perkara baru. Pertemuan Menteri Luar Negeri BRICS pada Mei 2026 tidak menghasilkan pernyataan bersama karena perbedaan terkait Iran dan UEA, sementara para sherpa BRICS kini kembali bekerja untuk menyelesaikan rumusan mengenai perang di Asia Barat sebelum para pemimpin bertemu.

Baca Juga:Aljazair Putus Hubungan Diplomatik dengan UEA, Tutup Wilayah Udara untuk Semua Pesawat Emirat

Harapan mencapai kesepakatan muncul setelah KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Bishkek pada awal September menghasilkan deklarasi bersama yang mengecam serangan AS dan Israel terhadap Iran serta sanksi Barat. Namun, SCO tidak mencakup UEA sehingga kesepakatan tersebut belum menyelesaikan perbedaan di dalam BRICS.

Selain isu geopolitik, KTT BRICS juga akan membahas kepentingan ekonomi, termasuk kerja sama perdagangan, penggunaan mata uang nasional dalam transaksi, proyek New Development Bank, energi, dan rantai pasok. Perang Iran dan gangguan Selat Hormuz membuat agenda tersebut semakin penting bagi negara-negara anggota yang memiliki kepentingan besar terhadap stabilitas perdagangan dan pasokan energi dunia.

Perluasan BRICS yang kini mencakup Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, Mesir, Ethiopia, Iran, Uni Emirat Arab, Indonesia, dan anggota lainnya telah meningkatkan bobot ekonomi serta pengaruh global blok tersebut. Namun, perbedaan kepentingan di antara anggota juga membuat kemampuan BRICS menghasilkan sikap bersama semakin kompleks, sehingga keberhasilan India menjembatani konflik Iran-UEA akan menjadi ujian penting bagi efektivitas kelompok tersebut.

Topik Menarik