AS-Iran Kembali Saling Serang, Harga Minyak Dunia Melesat Lebih 3

AS-Iran Kembali Saling Serang, Harga Minyak Dunia Melesat Lebih 3

Ekonomi | sindonews | Senin, 13 Juli 2026 - 08:38
share

Harga minyak dunia melonjak lebih dari 3 pada perdagangan hari ini menyusul meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memicu kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan energi melalui Selat Hormuz. Konflik yang kembali memanas dinilai meningkatkan risiko gangguan distribusi minyak dari kawasan Teluk.

"Harapan akan penyelesaian konflik dalam waktu relatif cepat tampaknya mulai diragukan setelah ketegangan kembali meningkat pada akhir pekan," demikian pernyataan analis ANZ dalam risetnya dikutip dari Reuters, Senin (13/7/2026).

Baca Juga:Iran Bombardir Pangkalan AS di Yordania, Kuwait, Bahrain, dan Oman

Adapun harga minyak mentah Brent naik USD2,34 atau 3,08 menjadi USD78,35 per barel. Sementara, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat USD2,21 atau 3,09 ke level USD73,62 per barel.

Eskalasi kembali terjadi setelah Iran memperluas serangan ke Qatar dan Uni Emirat Arab (UEA) pada akhir pekan, sementara militer AS kembali melancarkan serangan ke sejumlah sasaran di Iran. Rangkaian aksi saling serang tersebut menambah ketidakpastian terhadap keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi salah satu rute utama perdagangan minyak dunia.

Presiden AS Donald Trump menyatakan Selat Hormuz tetap terbuka bagi pelayaran komersial. Namun sebelumnya Iran mengumumkan telah menutup selat tersebut setelah sebuah kapal melintasi jalur yang disebut tidak mendapat izin dan kemudian menjadi sasaran serangan.

Data Kpler menunjukkan hanya enam kapal yang melintasi Selat Hormuz pada Minggu, jumlah terendah dalam lima pekan terakhir. Meningkatnya konflik juga memunculkan keraguan terhadap kelangsungan perjanjian sementara antara AS dan Iran yang ditandatangani bulan lalu. Kesepakatan tersebut sebelumnya bertujuan membuka kembali Selat Hormuz serta mengakhiri perang melalui proses negosiasi lanjutan selama 60 hari.

Baca Juga:Teluk Kembali Memanas, China Siaga Jaga Produksi BBM Tetap Tinggi

Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) sebelumnya melaporkan pasokan minyak global meningkat 4,1 juta barel per hari pada Juni. Meski demikian, volume tersebut masih sekitar 9,4 juta barel per hari lebih rendah dibandingkan tingkat sebelum perang sehingga pasar energi tetap rentan terhadap gangguan pasokan.

Analis pasar IG Tony Sycamore menilai, kenaikan harga minyak yang relatif terbatas menunjukkan pelaku pasar masih memandang eskalasi terbaru sebagai peningkatan ketegangan dalam situasi gencatan senjata yang rapuh, bukan sebagai kegagalan total kesepakatan damai. Namun, menurut dia, pasar masih akan terus mencermati perkembangan konflik untuk melihat apakah kondisi tersebut akan berkembang menjadi krisis yang lebih luas.

Topik Menarik