Dunia Siaga Satu! Harga Minyak Dunia Mendidih Tembus USD126 per Barel, Rekor Tertinggi Sejak 2022
Harga minyak dunia melonjak ke level tertinggi sejak tahun 2022 menyusul laporan bahwa militer Amerika Serikat (AS) tengah menyiapkan opsi serangan militer baru terhadap Iran. Pasar energi global kembali mendapatkan gelombang kejut, yang akan menjadi alarm bahaya bagi banyak negara, tidak terkecuali Indonesia.
Langkah ini diambil setelah negosiasi antara Washington dan Teheran menemui jalan buntu. Komando Pusat AS (CENTCOM) dikabarkan telah menyusun rencana serangan 'singkat namun kuat' (short and powerful) untuk memecah kebuntuan perang yang telah melumpuhkan jalur pasokan energi dunia.
Brent Melejit 7, Inflasi Global Mengintai
Minyak mentah Brent sempat melonjak hampir 7 hingga menembus angka USD126 per barel. Ini adalah level tertinggi sejak invasi Rusia ke Ukraina dimulai beberapa tahun silam. Sementara itu minyak mentah West Texas Intermediate AS (WTI) juga ikut terkerek naik ke posisi USD109 per barel.Baca Juga: UEA Hengkang dari OPEC, Harga Minyak Dunia Tembus USD115 per Barel
Laporan dari Axios menyebutkan bahwa target serangan AS kemungkinan besar menyasar infrastruktur strategis di Iran. Namun ada opsi yang lebih ekstrem yakni pengerahan pasukan darat untuk merebut sebagian wilayah Selat Hormuz guna membuka kembali jalur pelayaran komersial yang diblokade.
Kenaikan harga energi yang gila-gilaan ini dipicu oleh kekhawatiran akan gangguan pasokan jangka panjang menyusul blokade Selat Hormuz. Sebagai informasi, seperlima pasokan energi dunia (minyak dan gas) biasanya melewati Selat Hormuz.AS bersumpah akan memblokade pelabuhan Iran selama Teheran terus mengancam kapal-kapal di selat tersebut. Analis senior dari Kpler, Naveen Das menyebut bahwa harga USD125 per barel adalah titik di mana pebisnis dan politisi mulai "gemetar" karena dampak domino pada inflasi.
Baca Juga: 150 Juta Barel Minyak Venezuela Banjiri Pasar Dunia, AS Siapkan Senjata RahasiaPresiden Donald Trump kini juga menghadapi pilihan sulit. Di satu sisi, ia didesak oleh para eksekutif energi yang menemuinya di Gedung Putih pada Selasa lalu untuk membatasi dampak perang terhadap konsumen AS. Di sisi lain, bayang-bayang inflasi akibat kenaikan BBM mengancam stabilitas ekonomi dalam negeri.
"Pertanyaan besarnya adalah seberapa lama pemerintahan Trump sanggup menahan 'panasnya' tekanan ekonomi ini," ujar Will Walker-Arnott, manajer investasi di Raymond James seperti dilansir BBC.
"Orang-orang mulai sangat khawatir tentang dampak inflasi yang timbul dari kenaikan harga minyak mentah," tambahnya.









