Uni Eropa Disebut Terlambat 15 Tahun buat Hadapi Kiamat Energi
Ketegangan antara Rusia dan Uni Eropa (UE) memasuki babak baru di tengah guncangan harga energi dunia. Utusan khusus Presiden Vladimir Putin yakni Kirill Dmitriev melontarkan kritik pedas dengan menyebut Brussel telah terlambat 15 tahun dalam mempersiapkan diri menghadapi guncangan pasokan energi yang kini mencekik benua biru.
Pernyataan ini muncul sebagai respons atas pengakuan Komisaris Energi UE, Dan Jorgensen, yang menyebut perang Amerika Serikat (AS)-Israel versusIranakan memberikan dampak struktural dan jangka panjang terhadap keamanan energi Eropa.
Dmitriev menilai, bahwa kegagalan Eropa dalam mengamankan pasokan energi adalah hasil dari kebijakan yang salah arah selama bertahun-tahun. Melalui unggahan di platform X, ia mengkritik keras ketergantungan UE pada ideologi tertentu yang dinilai mengabaikan realitas pasar.
Baca Juga: Krisis BBM Hantam Eropa, Negara Ini Bakal Batasi Pembelian Orang Asing dan Terapkan Harga Ganda
Ia menambahkan, bahwa Brussels sedang mempersiapkan skenario terburuk dan melihat semua kemungkinan, termasuk melepaskan cadangan minyak strategis.
"Masih hanya peringatan, tanpa solusi nyata," kicauan Dmitriev, yang kini menjabat sebagai utusan khusus Presiden Vladimir Putin untuk investasi dan kerja sama ekonomi.
"Peringatan, Uni Eropa terlambat 15 tahun bahwa mereka tidak siap menghadapi 'guncangan energi jangka panjang'. UE gagal mendiversifikasi aliran energi, dipandu oleh ideologi Russophobic, Green, dan woke," tulis Dmitriev.
Baca Juga: Efek Perang Iran, Inflasi AS Diramal Melonjak Tajam Imbas Kenaikan Harga BBM
Menurutnya, reformasi energi yang diterapkan UE pada periode 2009-2011 untuk transisi ke energi terbarukan justru meninggalkan blok tersebut tanpa perlindungan saat krisis energi global pecah hari ini.Kondisi di lapangan memang kian mengkhawatirkan. Harga gas di Uni Eropa telah melonjak ke angka 50 euro (sekitar Rp860.000) per MWh, naik drastis 56 sejak Februari. Sementara itu harga minyak mentah dunia bertahan di level tinggi sekitar USD111 per barel.
Menghadapi skenario terburuk, Brussel mulai mempertimbangkan langkah-langkah darurat, termasuk pelepasan cadangan minyak strategis. Kemungkinan penjatahan (rationing) bahan bakar jet (avtur) dan diesel. Serta mencari pasokan tambahan dari AS dan mitra lainnya sebagai pengganti gas Rusia.
Meskipun UE berencana menghentikan total impor gas alam cair (LNG) Rusia pada akhir 2026 dan gas pipa pada musim gugur 2027, Presiden Vladimir Putin memberikan peringatan balik.
Ia menegaskan bahwa Rusia mungkin tidak akan menunggu larangan tersebut berlaku resmi. Moskow siap menarik diri lebih awal dari pasar Eropa dan mengalihkan seluruh pasokan energinya ke "pasar negara berkembang" (seperti China dan India) yang dianggap lebih stabil secara politik.
"Krisis energi di UE adalah hasil dari kebijakan sesat yang dikejar blok tersebut selama bertahun-tahun," tegas Putin bulan lalu.









