Pasca Indonesia Economic Outlook 2026, DPR Soroti Momentum Eksekusi Investasi Strategis
Forum Indonesia Economic Outlook 2026 yang digelar pemerintah belum lama ini dinilai mempertegas arah kebijakan ekonomi nasional: mempercepat investasi strategis, hilirisasi, dan penguatan sektor riil. Namun, parlemen mengingatkan bahwa momentum tersebut harus segera diterjemahkan ke dalam eksekusi yang konsisten di lapangan.
Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menilai Indonesia kini memasuki fase krusial dalam menjaga pertumbuhan sekaligus membangun fondasi ekonomi jangka panjang berbasis nilai tambah. “Indonesia membutuhkan investasi yang memberi dampak nyata, menciptakan industri, memperluas lapangan kerja, dan meningkatkan kapasitas nasional. Ini yang harus menjadi fokus agar pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan inklusif,” ujarnya merespons hasil forum tersebut.
Ia menilai konteks global saat ini menuntut negara bergerak cepat membangun kekuatan industri domestik, terutama di sektor energi, mineral kritis, pangan, dan teknologi. Dalam situasi tersebut, kesiapan institusi dan konsistensi kebijakan menjadi faktor yang menentukan.
Baca Juga : Purbaya Tepis Isu Misbakhun Daftar Calon Ketua OJK: Tidak, Itu Politik
Misbakhun menyinggung bahwa Indonesia mulai memiliki kerangka yang lebih terstruktur dalam mengelola investasi jangka panjang, termasuk melalui kehadiran Danantara Indonesia sebagai platform investasi nasional.“Kehadiran Danantara memberi sinyal bahwa negara mulai membangun mekanisme yang lebih sistematis untuk menghubungkan kebutuhan industri, pembiayaan, dan minat investor. Ini langkah penting, karena proyek strategis membutuhkan institusi yang mampu mengawal dari perencanaan sampai eksekusi,” katanya.
Selain itu, Misbakhun juga merespons langsung pemaparan Danantara Indonesia dalam sesi forum tersebut. Sesi yang menampilkan pipeline investasi lintas sektor, mulai dari hilirisasi mineral, energi baru, agrikultur, hingga infrastruktur digital tersebut dilihat sebagai bagian dari upaya mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Baca Juga : Intip 4 Proyek Strategis PHR untuk Perkuat Ketahanan Energi Nasional
Menurutnya, pendekatan yang menempatkan investasi sebagai penggerak industrialisasi dan penciptaan nilai tambah merupakan arah yang relevan dengan kebutuhan ekonomi Indonesia saat ini. “Presentasi yang disampaikan menunjukkan adanya upaya untuk menempatkan investasi sebagai instrumen transformasi, bukan sekadar pembiayaan proyek. Fokus pada hilirisasi, penguatan industri, dan sektor masa depan adalah langkah yang tepat, selama konsisten dijalankan dan dikawal dengan tata kelola yang kuat,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa ekspektasi publik terhadap lembaga penggerak investasi negara juga tinggi. Karena itu, profesionalisme, tata kelola, dan hasil konkret menjadi tolok ukur utama. “Tantangannya sekarang adalah pembuktian. Bukan hanya desain kebijakan, tetapi realisasi proyek yang berjalan, industri yang tumbuh, dan manfaat yang dirasakan masyarakat. Di situ kredibilitas akan terbentuk,” lanjutnya.Ia menilai momentum pasca Indonesia Economic Outlook 2026 harus dimanfaatkan untuk mempercepat implementasi investasi strategis yang telah dirancang, mulai dari hilirisasi mineral, energi baru, agrikultur modern, hingga infrastruktur digital.
Dalam konteks tersebut, peran Danantara Indonesia dinilai relevan untuk memastikan investasi tidak berhenti sebagai agenda kebijakan, melainkan menjadi penggerak transformasi ekonomi.
“Selama diarahkan pada sektor produktif dan dikelola dengan tata kelola yang kuat, peran lembaga seperti Danantara dapat menjadi katalis untuk mempercepat industrialisasi dan memperkuat struktur ekonomi nasional,” ujar Misbakhun.
Ia menambahkan, keberhasilan agenda investasi tetap bergantung pada sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, lembaga pembiayaan, dan mitra global.
Pasca forum tersebut, arah pembangunan dinilai semakin jelas: investasi diposisikan sebagai instrumen transformasi, bukan sekadar target realisasi tahunan, tetapi sebagai jalan untuk membangun ekonomi berbasis nilai tambah, teknologi, dan produktivitas.
Momentum ini, menurutnya, perlu dijaga dengan konsistensi eksekusi dan disiplin tata kelola agar benar-benar membawa dampak luas bagi perekonomian nasional.









